
Menjelang akhir tahun 2025, salah satu film besutan James Cameron rilis berjudul Avatar: Fire and Ash. Film ini merupakan lanjutan dari waralaba dunia Pandora sebelumnya, yaitu Avatar: The Way of Water. Sepanjang waktu berjalan menuju akhir dari 2025, Avatar: Fire and Ash menjadi banyak perbincangan warga dunia maya di berbagai platform berita online dan sosial media, hal ini menjadi penghangat masyarakat yang ingin mengisi liburan di penghujung tahun dan menikmati hari-hari sebelum perayaan natal sekaligus pesta kembang api pergantian tahun.
Fenomena perilisan film baru menjadi sebuah momen promosi kepada penikmat-penikmatnya. Tidak hanya film, seluruh karya seperti seni, sastra, teater, dan sebagainya juga memiliki fenomena yang sama, tetapi jika menilik dari film, setiap ajang promosi masing-masing studio pasti berbeda-beda. Ciri dari promosi mereka mungkin dapat dilakukan seperti putaran perdana, press conference, meet and great, dan masih banyak lagi. mungkin kegiatan promosi yang bisa disebutkan adalah pameran.
Tidak semua film mengadakan pameran pada saat perilisan perdananya. Mungkin kalau dilihat dari tahun-tahun sebelumnya masih bisa terhitung jari, menjelang akhir tahun 2025 kemarin suguhan pameran dari Avatar: Fire and Ash tersaji di The Space Senayan City. Pameran tersebut dihadirkan oleh 20th Century Studios Indonesia dengan menggandeng IMAGISPACE sebagai fasilitator dan pada laman Instagram @senayancityjkt di informasikan bahwa pameran ini bertajuk Immersive Experience With the Character Inspired by Avatar: Fire and Ash.
Hal pertama yang dituju adalah mengenai pameran yang menghadirkan pengalaman imersif pada pengunjung. Pameran imersif merupakan kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi adalah kehadiran new media, kondisi tersebut berpengaruh sangat besar terhadap eksplorasi material, media, dan teknik dalam menciptakan karya seni rupa (Krishbie & Dewi, 2021). Terlihat pada pameran imersif Avatar: Fire and Ash yang menyuguhkan teknologi 3D tanpa harus menggunakan kacamata khusus.

Pameran imersif memang menjadi hal yang sangat di highlight oleh pengunjung. Tetapi sebelum masuk ke dunia Pandora yang hidup, awal-awal pengunjung disambut oleh bagian depan dari pameran tersebut, replika-replika hutan Pandora tersaji di area luar pameran, itu menjadi awal kepada pengunjung untuk bisa masuk dan meninggalkan dunia nyata menuju dunia Pandora, sekeliling hutan Pandora memang khas untuk membawa pengunjung masuk, dari warna hijau daun, biru terang yang nyentrik, dan perpaduan tumbuhan khas asal Pandora. Setelahnya area Ash people yang dibangun untuk merepresentasikan Ash Village dengan dominasi warna merah kelabu, tekstur tanah dari vulkanik, dan berbagai simbol khas dari Mangkawan.
Masuk langsung pada pameran imersif di dalamnya. Pameran Avatar: Fire and menyuguhkan kolaborasi teknologi dan seni, ruang imersif multi–sensory dari IMAGISPACE menggabungkan proyeksi cahaya 720 derajat, efek atmosferik, dan aroma dari hutan Pandora. pameran ini menjadi sebuah bukti bahwa sekat antar dunia nyata dan dunia fiktif ini sangat terasa tebal, visual yang memanjakan mata, audio yang sangat spesial, dan pengalaman hadir di dunia berbeda, menjadi bukti bahwa kolaborasi dalam seni dan teknologi bisa membuat lewat panca indera terasa hidup sekaligus hadir dalam rasa dan makna.
Pameran imersif Avatar: Fire and Ash hadir pada 15 Desember 2025 hingga 11 Januari 2026. Sudah disebutkan bahwa memang ini juga menjadi ajang promosi yang dilakukan oleh produksi film tersebut, Pameran imersif Avatar: Fire and Ash menjadi bukti mengenai kolaborasi, ini bukan menunjukkan bahwa seni, sastra, teater, dan lainnya itu akan hilang perlahan akibat globalisasi atau postmodernisme, melainkan sebuah perpaduan yang khas dari satu objek dengan objek lainnya. Dari sini dapat terlihat jika pameran seni tidak hanya terbatas pada suatu yang abstrak, walaupun hal itu menjadi ciri yang tidak dapat tergantikan, tetapi tidak ada salah jika memang mencoba kolaborasi dari dua objek tersebut. Kolaborasi mungkin sudah terlihat di banyak pameran seni dan tempat, semua kolaborasi itu sukses besar dan berhasil menjadi sebuah hal baru untuk menikmati seni, tetapi pameran imersif Avatar: Fire and Ash dapat menjadi tempat tersendiri bagi penikmatnya.
Foto: X – @20thCenturyID

