
Di tengah ritme Jakarta yang tak pernah benar-benar melambat, ruang-ruang publik perlahan menemukan wajah barunya. Infrastruktur yang selama ini dipahami semata sebagai sarana mobilitas kini mulai membuka diri terhadap kemungkinan lain: menjadi medium pengalaman, refleksi, bahkan dialog.

Penghujung tahun 2025 menjadi penanda babak baru dalam lanskap seni publik di Indonesia. PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Kementerian Ekonomi Kreatif (EKRAF), bekerja sama dengan biro desain Nusae dan agensi kreatif Senyumuseum, resmi meluncurkan instalasi seni berjudul Akar Perjalanan di Stasiun Sudirman Baru—yang juga dikenal sebagai Stasiun BNI City. Instalasi ini menjadi karya perdana dari inisiatif Scenic Art Station, sebuah program yang menghadirkan seni ke dalam ruang-ruang transportasi publik.

Melalui Scenic Art Station, stasiun tidak lagi sekadar menjadi titik transit atau ruang tunggu yang fungsional, melainkan bertransformasi menjadi ruang budaya yang menghadirkan pengalaman visual, reflektif, sekaligus emosional bagi para penggunanya. Infrastruktur transportasi yang selama ini identik dengan mobilitas cepat kini diperkaya dengan narasi seni kontemporer yang relevan dengan realitas sosial dan ekologis masyarakat urban.
Seni di Tengah Mobilitas Publik
Scenic Art Station merupakan inisiatif strategis yang bertujuan mendekatkan seni dengan kehidupan sehari-hari. Dengan menjadikan stasiun sebagai medium, seni hadir secara inklusif yang dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa batasan kelas, latar belakang, atau pengetahuan seni tertentu. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang nyaris tak pernah berhenti, kehadiran karya seni di ruang publik menjadi oase visual yang mengajak publik untuk berhenti sejenak, mengamati, dan merenung.
Peresmian Akar Perjalanan pada 27 Desember 2025 menandai komitmen tersebut. Dalam sambutannya, Wilbert Deil selaku Direktur Utama Scenic Art Station menyampaikan bahwa instalasi ini diciptakan sebagai pengingat kolektif akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan.
“Karya Akar Perjalanan turut ambil bagian dalam bab sejarah perkeretaapian di Indonesia. Kami berharap karya ini menjadi awal hadirnya seni yang terintegrasi dalam hub transportasi umum, khususnya karya seni yang relevan dengan realitas kehidupan kontemporer,” ungkap Wilbert.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seni publik bukan sekadar elemen estetika, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi sosial yang hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat.
Kurasi dan Seniman di Balik Karya
Dikuratori oleh Mona Liem, Scenic Art Station menggandeng seniman kontemporer Wisnu Ajitama untuk menghadirkan Akar Perjalanan. Wisnu, yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta, dikenal sebagai seniman yang konsisten mengangkat isu lingkungan dalam praktik seninya. Kepeduliannya terhadap alam bukan sekadar tema konseptual, melainkan berangkat dari relasi personal dengan lingkungan sekitar yang ia jalani sehari-hari.
Ketertarikan Wisnu pada alam tercermin dalam pilihan medium dan material yang kerap ia gunakan, seperti akar, tumbuhan, dan elemen organik lainnya. Ia dikenal sering menciptakan instalasi berskala besar di ruang publik maupun ruang-ruang tersembunyi, menjadikan karyanya berinteraksi langsung dengan konteks sosial dan geografis tempat ia dipamerkan. Melalui pendekatan tersebut, karya-karya Wisnu tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga pengingat akan realitas ekologis yang kerap luput dari perhatian.

Makna dan Simbolisme Akar Perjalanan
Secara visual, Akar Perjalanan tampil sebagai instalasi berbentuk bunga raksasa lengkap dengan akar yang menjulur dan menyebar hingga ke sisi stasiun. Karya ini memiliki skala monumental dengan ukuran sekitar 15 meter x 5 meter x 8 meter, menjadikannya mustahil untuk diabaikan oleh para pengguna stasiun.
Bentuk bunga pada instalasi ini terinspirasi dari Rafflesia, flora ikonik yang menjadi simbol Pulau Sumatra. Pemilihan Rafflesia bukan tanpa alasan. Wisnu menghadirkan simbol ini sebagai bentuk penghormatan dan empati atas berbagai bencana alam yang melanda Sumatra pada penghujung 2025. Dengan demikian, bunga dalam Akar Perjalanan tidak hanya merepresentasikan keindahan alam, tetapi juga luka dan ketahanan ekologis.
Sementara itu, elemen akar menjadi metafora utama dalam karya ini. Akar digambarkan menjalar menyerupai rel kereta api, menghadirkan lapisan makna tentang sejarah, memori kolektif, perjalanan, serta luka yang terjalin dalam perkembangan perkeretaapian dan kehidupan manusia itu sendiri. Akar menjadi simbol keterhubungan—antara masa lalu dan masa kini, antara manusia dan alam, serta antara perjalanan fisik dan perjalanan batin.
Ruang Publik sebagai Ruang Kontemplasi
Kehadiran Akar Perjalanan di Stasiun BNI City menciptakan pengalaman baru bagi ruang transit perkotaan. Baik para pengguna transportasi umum yang berlalu-lalang setiap hari, maupun masyarakat yang sekadar melintas, kini memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan karya seni di tengah rutinitas mereka. Instalasi ini mengubah ritme ruang—dari sekadar tempat berpindah, menjadi ruang kontemplasi.
Di tengah mobilitas Jakarta yang serba cepat, Scenic Art Station menawarkan jeda. Sebuah momen untuk melihat, merasakan, dan merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungan serta perjalanan yang terus berlangsung. Dengan menjadikan stasiun sebagai ruang seni publik, proyek ini membuka kemungkinan baru bagi integrasi seni, arsitektur, dan kehidupan urban di Indonesia.
Melalui Akar Perjalanan, Scenic Art Station tidak hanya memperkaya wajah transportasi publik, tetapi juga menegaskan peran seni sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman kota dan kesadaran ekologis masyarakat masa kini.
Foto-foto: Nusae

