Pengalaman Merasakan seni Tanpa Melihat Dalam Program Wonder Within Reach

Foto: museosansevero.it

Pada 17 Maret 2026 lalu, sebuah program bertajuk Wonder Within Reach resmi digelar di Sansevero Chapel Museum, Napoli, Italia. Program ini memungkinkan sekitar 80 pengunjung tunanetra dan low vision untuk menyentuh langsung karya seni marmer yang selama ini hanya bisa dilihat dari kejauhan. Salah satu karya yang dibuka aksesnya adalah Veiled Christ karya Giuseppe Sanmartino—sebuah patung ikonik yang biasanya dilindungi pembatas ketat. Untuk pertama kalinya, pengunjung diperbolehkan meraba detail permukaan karya tersebut dengan menggunakan sarung tangan khusus. Wonder Within Reach ini memang sudah berlangsung beberapa waktu lalu, tetapi pengaruh dan juga kesan dari program ini dalam dunia seni layak untuk dibahas lebih lanjut. 

Dalam standart umum, museum dan galeri seni menetapkan aturan “do not touch” sebagai standar konservasi. Sentuhan dianggap berisiko merusak karya, terutama yang berbahan sensitif seperti marmer atau kanvas. Namun, Wonder Within Reach justru menepis stigma tersebut. Secara faktual, pembatas di sekitar karya dihapus sementara agar pengunjung dapat merasakan langsung tekstur dan bentuk berbagai macam karya. Program ini juga melibatkan pemandu yang merupakan penyandang tunanetra, sehingga pengalaman tidak hanya dirancang untuk mereka, tetapi juga oleh mereka. Langkah ini menjadi penting karena selama ini akses terhadap seni visual sangat bergantung pada kemampuan melihat. Dalam konteks ini, pameran tersebut menghadirkan pendekatan baru, bahwa pengalaman estetika tidak harus selalu berbasis visual. 

Foto: theguardian.com

Bagi pengunjung tunanetra, sentuhan bukan sekedar pengganti penglihatan, tetapi menjadi cara utama untuk memahami bentuk. Dalam program ini, detail yang biasanya hanya terlihat—lipatan kain, struktur anatomi, hingga ukiran halus—diterjemahkan menjadi pengalaman taktil. Salah satu pernyataan yang muncul dari program ini menyebutkan bahwa saat disentuh, permukaan patung bahkan memperlihatkan detail seperti “urat yang terasa hidup.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengalaman meraba dapat menghadirkan dimensi emosional yang tidak kalah kuat dari melihat. Dalam istilah seni, pendekatan ini bisa dikaitkan dengan sensory experience, di mana persepsi tidak hanya terbatas pada satu indra. Namun, dalam praktik sehari-hari, pendekatan seperti ini masih jarang diterapkan, terutama di banyak museum.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara museum dan organisasi tunanetra di Napoli. Tujuannya jelas, menjadikan ruang seni lebih inklusif. Pihak penyelenggara menyatakan bahwa seni tidak boleh menjadi hak istimewa hanya bagi mereka yang dapat melihat. Jika melihat ke negara kita sendiri, Indonesia. Program seperti ini masih tergolong sangat jarang. Mayoritas pameran seni di Indonesia masih berfokus pada pengalaman visual, dengan aturan ketat yang membatasi interaksi fisik dengan karya. Akses bagi pengunjung tunanetra biasanya terbatas pada deskripsi audio atau teks braille, yang meskipun penting, belum sepenuhnya menghadirkan pengalaman langsung terhadap karya. Padahal, pendekatan seperti Wonder Within Reach menunjukkan bahwa inklusivitas dalam seni dapat dikembangkan lebih jauh. Membuka akses sentuhan memang menantang norma konservasi yang sudah lama ada dan dijaga, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan dengan metode yang terstrukur dan terkontrol, seperti penggunaan sarung tangan atau aturan khusus. Di sinilah letak keberanian institusi—bagaimana mereka menyeimbangkan perlindungan karya dengan perluasan akses publik.

Foto: finestresullarte.info

Lebih jauh, inisiatif seperti ini juga dapat menjadi titik awal untuk membangun ekosistem pameran yang lebih inklusif di Indonesia. Tidak harus selalu dengan membuka karya asli untuk disentuh, tetapi bisa dimulai dengan replika atau pendekatan multisensori lainnya. Yang menjadi kunci adalah perubahan cara pandang—bahwa audiens seni tidak semuanya “sama” dan setiap individu memiliki cara berbeda dalam mengakses pengalaman estetika. Dalam konteks ini, inklusivitas bukan hanya program tambahan, tetapi dapat menjadi bagian dari kurasi utama. Pameran tidak lagi diposisikan sebagai ruang pasif untuk melihat, melainkan sebagai ruang aktif untuk merasakan. Langkah seperti ini memang tidak mudah, tetapi penting untuk mulai diuji, terutama jika tujuan jangka panjangnya adalah menciptakan ruang seni yang lebih terbuka dan relevan bagi lebih banyak orang.

Pameran ini juga membuka diskusi yang lebih luas tentang fungsi seni itu sendiri. Selama ini, seni sering diposisikan sebagai objek visual—sesuatu yang dilihat, dinilai, lalu dipahami. Namun, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa seni dapat dialami dengan cara yang lebih luas. Dalam konteks ini, sentuhan menjadi medium, bukan sekedar alternatif. Ia membawa informasi, emosi, bahkan interpretasi. Pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa batas antara karya dan penonton menjadi lebih dekat, karena interaksi terjadi secara langsung. Beberapa inisiatif global bahkan mulai mengembangkan karya yang sejak awal dirancang untuk disentuh, bukan hanya dilihat. Hal ini menunjukkan pergeseran cara pandang terhadap pameran—dari yang bersifat pasif menjadi lebih partisipatif.Wonder Within Reach bukan hanya sebuah program pameran, tetapi juga penanda perubahan cara institusi seni melihat audiensnya. Dengan membuka akses sentuhan, museum tidak hanya menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung tunanetra, tetapi juga memperluas definisi tentang bagaimana seni dapat dinikmati. Secara faktual, inisiatif ini masih tergolong jarang, terutama dalam konteks global maupun Indonesia. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa aksesibilitas bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Pada akhirnya, pameran ini mengingatkan bahwa seni tidak harus selalu dilihat untuk dipahami. Dalam beberapa kasus, ia justru terasa lebih dekat ketika disentuh—ketika bentuk, tekstur, dan detail hadir langsung di ujung jari.