Menyambut Piala Dunia 2026 dalam Pameran “Fútbol is Life: Animated Sportraits” 

Pagelaran panggung olahraga terbesar dan populer di banyak kalangan planet ini, yaitu piala dunia. Akan digelar pada pertengahan tahun 2026, tepatnya bulan Juli, pertama kali dalam sejarah sepak bola, bertengger 3 negara yang akan menjadi tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Momen ini menjadi perdana juga untuk slot negara, pasalnya pada edisi 2022 yang hanya berjumlah 32 negara, FIFA menambah 16 slot negara untuk bermain pada kancah bergengsi ini, dengan total akhir berjumlah 32 negara.

Euforia dari banyak lapisan masyarakat dan bidang ikut antusias, terutama dari seniman yang menyumbang ekspresi dalam karyanya. Seorang seniman bernama Lyndon J. Barrois, Sr. Membawa ekspresi terhadap perhelatan piala dunia di Amerika dalam pameran tunggalnya berjudul Fútbol is Life: Animated Sportraits by Lyndon J. Barrois, Sr. Ruang ekspresi tersebut dihadirkan oleh Los Angeles County Museum of Arts yang berlangsung dari 15 Februari hingga 12 Juli 2026.

Barrois merupakan seniman yang telah dikenal lama menghasilkan karya dari bahan dasar bungkus permen karet bekas yang disulap secara teliti menjadi potret miniatur indah dan detail. Selama bertahun-tahun Barrois, dalam praktik seninya telah berkembang ke animasi stop-motion dan media campuran, dengan menggabungkan detail buatan tangan yang di ekstrak pada eksperimen digital, menjadikan karyanya dapat terlihat secara indrawi sekaligus memancarkan estetikanya. 

Inspirasi awal dari Barrois menghasilkan karya dari bahan dasar karet tersebut, berasal saat masa kecilnya. Barrois pernah membuat patung-patung dari permen karet yang menempel di bawah bangku gereja sekolah Katoliknya, Barrois terpaksa mengikisnya sebagai hukuman dari gurunya, sehingga ia mengumpulkan bungkus permen karet bekas dan menunjukkan pada ibunya, kemudian terdorong sebuah rasa kreatif untuk membuat sesuatu dari ketiadaan tersebut.

Keberadaan rasa yang telah membentuk Barrois, berlanjut hingga sekarang, kehadiran olahraga populer membawa kedekatan seniman pada budayanya. Dengan euforia kedatangan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika musim panas nanti,  banyak hal diantaranya belum pernah dipamerkan kepada publik saat ini. Pameran Fútbol is Life menyoroti budaya global sepak bola melalui perspektif pribadi yang unik dari seorang seniman yang telah membuat potret miniatur sejak kecil.

Barrois mewujudkan momen-momen tak terlupakan dari sejarah sepak bola wanita dan pria menggunakan patung setinggi satu inci yang sebagian besar terbuat dari bungkus permen karet. Kemudian diperkuat dengan lem dan dilukis dengan detail sangat teliti, figur-figur kecil tersebut selanjutnya disusun dalam bentuk sketsa dan sangat ekspresif, memperbesar keanggunan fisik, kekuatan emosional, dan dampak budaya dari permainan tersebut.

Kehadiran lainnya, Barrois juga menghidupkan banyak figur tersebut dengan animasi stop-motion. Memperindah penciptaan kembali momen-momen indah khusus mereka, dengan menggunakan perangkat ponsel pintar, Barrois merekam dan mengedit hingga hasil yang memuaskan. Pameran Fútbol is Life menelusuri sejarah Piala Dunia dari tahun 1930 hingga 2022, menangkap berbagai momen-momen ikonik yang beresonansi dengan penonton lintas generasi, seperti selebrasi gol Marta dari Brasil, gol tangan tuhan Maradona, sundulan kepala Zinedine Zidane yang terkenal, evolusi tim nasional Jerman dari masa lalu era Nazi hingga masa kini yang lebih inklusif secara rasial, dan kehadiran negara-negara Afrika sub-Sahara yang telah lama tertunda di turnamen tersebut. 

Instalasi pameran ini, menghadirkan banyak miniatur dan diorama yang terjadi di lapangan. 40 diorama baru, 4 film animasi, 5 replika dengan 2 diantaranya merupakan replika raksasa, dan 1 proyeksi raksasa, sekaligus total 325 potret olahraga individu dalam aksi. Berbagai Replika dan diorama yang sangat ikonik hadir untuk memanjakan pengunjung, seperti replika Lionel Messi dan Marta da Silva seukuran asli, tergantung di langit-langit museum, dan diorama Megan Rapinoe berselebrasi, penyelamatan kiper timnas wanita Amerika Serikat Hope Solo, dan kampanye timnas Jerman terhadap hak asasi pekerja imigran.

Pada pameran ini, pengunjung diajak untuk melihat sepak bola sebagai budaya, gerak, dan bahasa bersama. Kedalaman makna tersaji sangat terasa, bahwa sepak bola lebih dari sekadar budaya pop, ini bisa menjadi lensa untuk bersuara mengenai protes migrasi, ras, dan identitas nasional, sepak bola dapat menyatukan siapa saja, pada akhirnya olahraga ini sebagai pengikat konflik politik, sosial, dan budaya dari berbagai latar belakang berbeda.

Foto-foto: lacma.org dan latimes.com