Uji “Hahan” Handoko: Algoritma Mereduksi Manusia di Pameran Tunggalnya “Days That Slip Away Untouched”

Kehidupan manusia saat ini, erat sekali dengan gawai yang selalu menjadi teman setia kemanapun langkah kaki berpijak. Globalisasi menjadi titik utama bagi situasi era digital sekarang ini, perkembangan tersebut menjadi efek domino bagi transformasi digital hingga kemunculannya saat ini yaitu media sosial. Situasi saat ini tentang media sosial, manusia dapat berselancar di dalamnya, menerima informasi secara cepat, mengetahui trend terbaru, hingga berbagi perasaan lewat fitur status yang tersedia, Tetapi pengaruh yang hadir di dalamnya justru menjadi pancingan untuk manusia agar selalu betah di dalamnya, hingga terus-menerus terkendali oleh algoritmanya.

Kondisi manusia ini, menjadi permasalahan sosial yang mulai menjadi perhatian bagi seluruh kalangan untuk menyuarakan situasi ini. Seni sebagai jembatan ke lingkungan sosial, menjadi ruang singgah secara perlahan merasakan situasi realita yang tidak manusia sadari, salah satu seniman Indonesia yaitu Uji Handoko Eko Saputro atau lebih akrab dengan sebutan Hahan, ingin menyampaikan kegelisahan rasa lewat karya-karyanya. Hahan menyuguhkan dengan pameran tunggalnya berjudul Days That Slip Away Untouched yang hadir di Gajah Gallery Jakarta dari 2 hingga 30 Mei 2026.

Saat ditemui pada pembukaan perdana Sabtu 2 Mei 2026 kemarin di Gajah Gallery Jakarta, Hahan berbagi mengenai awal kegelisahan, rasa, dan makna yang ingin disampaikan lewat karya-karyanya. Ia berangkat dari bagaimana seniman-seniman lama tidak memiliki wadah penyimpanan yang mudah diakses oleh seniman-seniman muda saat ini, dengan adanya sosial media seperti Instagram dan Tik Tok, para seniman muda yang ingin mereferensi atau mengadaptasi tema dari seniman lama yang sudah tiada, bisa dengan mudah mengaksesnya. Kemudian berlanjut pada konteks permasalahan dari kesadaran manusia yang melihat media sosial sebagai acuan terhadap dirinya, hingga dunia fisik yang merupakan esensinya tidak dapat terlihat lagi.

Ruang pameran yang ada membawa pengunjung masuk pada realita manusia seluruh dunia. Saat masuk, pengunjung akan disambut dengan salah satu karya yang cukup relate berjudul Full Moon Party, ini menunjukkan bulan berwarna biru, melambangkan centang biru dari akun media sosial yang menjadi tempat terpercaya manusia untuk mendapatkan informasi terkini, kemudian ditambah dengan elemen-elemen beberapa lengan sambil memegang smartphone dengan mengarahkannya ke bulan centang biru tersebut, ini seperti  mengartikan manusia atau netizen sedang menerima informasi dari suatu akun media sosial. Hal ini melihat bahwa manusia terpaku kepada algoritma yang memancing alam sadarnya untuk terus melahap konten-konten tanpa henti.

Penyambutan lainnya saat masuk juga tersaji oleh patung yang berbentuk kucing dengan judul 1997. Patung tersebut merupakan karya pertama dari Hahan sendiri sekaligus berkesan, ia menceritakan mengenai awal wifi muncul, Hahan mengatakan “1997 momentum penting dimana teknologi wifi digunakan untuk masyarakat yang lebih luas, jadi wifi yang membuat rekonstruksi hari ini kita mengakses smartphone, sosial media.” Lebih lanjut Hahan menambahkan bahwa patung 1997 berbentuk objek kucing, karena ia membayangkan tentang kucing liar, saat wifi dinyalakan maka seluruh jaringan wifi akan tersambung secara acak, hal ini selaras dengan kucing liar yang berdatangan, kemudian dikasih makan, maka kucing tersebut akan betah. Selaras dengan penjelasan Hahan bahwa saat wifi dapat terakses, segala hal yang baru datang akan betah dan kemudian pergi lagi ke tempat lain.

Pada pameran Days That Slip Away Untouched ini, Hahan menggunakan media yang sangat simple untuk instalasinya, tetapi memiliki arti dalam sekaligus pengerjaannya yang lumayan lama. Ia mengatakan “Sebenarnya pilihan menggunakan kanvas atau alumunium, mungkin jika dibilang lukisan, sebenarnya ingin membekukan, ingin menjadi sesuatu pengalaman monumental, bayangkan hari ini kita mengkonsumsi image ribuan kali dengan apa yang kita scroll, apa yang kita lihat, tidak pernah berhenti, maka ini memberhentikan itu, sesuatu yang cepat aku coba berhentikan.” Hahan menambahkan bahwa untuk pengerjaan karyanya bisa mencapai 3 setengah bulan, 4 bulan, hingga 5 bulan.

Pameran Days That Slip Away Untouched dari Hahan, membawa pengunjung untuk melihat realita mengenai kondisi sosial sudah berubah. Saat manusia menggenggam gawai, algoritma dari sosial media mengajak mata dan meraih jempol untuk memenuhi hasrat dari pikiran dan keinginan manusia itu sendiri, segala aspek dunia fisik menjadi terhenti dan berganti pada dunia digital yang memiliki standar tersendiri agar penikmatnya bisa mengikuti, padahal hal tersebut hanya kebutuhan konten semata dengan balik layar yang berbeda.

Setiap karya yang tersaji, pengunjung dapat melihat gambaran dari awal bagaimana centang biru sebagai pesulap yang menghipnotis manusia lewat algoritmanya. Kemudian kesenangan emosional untuk kenyamanan cepat dan sesaat, dan produktivitas dari manusia berkurang, mereka lebih mementingkan gawainya daripada kondisi dunia fisik yang merupakan esensi kehidupan manusia itu sendiri, pada akhirnya kesadaran terhadap algoritma media sosial, menjadi penyesuaian terhadap keadaan.

Foto depan: Instagram/@Gajah Gallery