
Edisi ke-25 mengusung tema “Rememory” dan memperluas lanskap seni Sydney
Australia kembali bersiap menyambut salah satu agenda seni rupa paling prestisius di dunia: Biennale of Sydney. Didirikan pada 1973, ajang ini merupakan biennale tertua ketiga di dunia setelah Venice Biennale dan Sao Paulo Biennial. Selama lebih dari lima dekade, Biennale of Sydney telah menjadi barometer penting bagi praktik seni kontemporer global, sekaligus ruang dialog antara seniman internasional dan konteks sosial-politik Australia.
Edisi ke-25 akan berlangsung pada 14 Maret hingga 14 Juni 2026, menghadirkan 83 seniman, kolektif, dan kolaborasi dari 37 negara. Pameran ini tersebar di lima lokasi utama, termasuk White Bay Power Station, Art Gallery of New South Wales, dan Penrith Regional Gallery. Selain itu, program publik juga akan merambah berbagai titik di Sydney Raya, memperluas jangkauan geografis dan sosial biennale ini, terutama di wilayah Sydney Barat.
“Rememory”: Mengingat sebagai Tindakan Politik
Tahun ini, Biennale mengusung tajuk Rememory, terinspirasi dari istilah yang diperkenalkan oleh Toni Morrison dalam novel Beloved (1987). Dalam karya Morrison, “rememory” merujuk pada ingatan kolektif yang terus hidup—trauma sejarah yang tidak sepenuhnya berlalu, melainkan hadir kembali melalui pengalaman dan narasi.
Di tangan Biennale of Sydney, konsep ini diperluas menjadi refleksi atas sejarah, identitas, dan rasa memiliki dalam konteks Australia kontemporer. Tema ini mengajak seniman dan audiens untuk meninjau ulang sejarah—bukan sebagai arsip statis, melainkan sebagai medan yang terus dinegosiasikan. Secara khusus, edisi ini memberi ruang bagi kisah-kisah masyarakat Aborigin serta komunitas diaspora Australia, menghadirkan memori sebagai praktik resistensi dan rekonstruksi identitas.

Kuratorial Hoor Al-Qasimi
Edisi ke-25 ini dikuratori oleh Hoor Al-Qasimi, presiden dan direktur Sharjah Art Foundation. Ia dikenal sebagai figur berpengaruh dalam ekosistem seni global, serta menjadi perempuan pertama sejak 2018 yang memimpin Biennale ini, sekaligus kurator Arab pertama dalam sejarahnya.
Selama lebih dari dua dekade, Al-Qasimi memimpin Sharjah Biennial dan memperluas cakrawala wacana seni di kawasan Asia Barat. Di bawah kepemimpinannya, Sharjah Art Foundation telah memamerkan seniman-seniman penting seperti Anish Kapoor dan Yayoi Kusama. Pendekatan kuratorialnya dikenal berpihak pada praktik seni yang berakar pada konteks sosial-politik dan pengalaman pascakolonial.
Di Sydney, Al-Qasimi menghadirkan sejumlah seniman dan kolektif Palestina, termasuk Basel Abbas dan Ruanne Abou-Rahme, Khalil Rabah, serta studio arsitektur DAAR yang dipimpin oleh Sandi Hilal dan Alessandro Petti. Kehadiran mereka menegaskan fokus pada memori, diaspora, dan dekolonisasi sebagai kerangka refleksi global.

Instalasi, Komunitas, dan Tubuh Kolektif
Salah satu karya yang paling dinantikan adalah oven tanah liat raksasa karya pematung Argentina Gabriel Chaile di White Bay Power Station. Instalasi fungsional ini akan diaktifkan pada akhir pekan pembukaan dan momen-momen penting selama festival, menyajikan masakan Peru kepada pengunjung. Dalam praktik Chaile, memasak menjadi tindakan kolektif—sebuah cara merawat ingatan komunitas melalui pangan dan pertemuan.
Seniman Lebanon Mounira Al Solh juga menghadirkan karya berbasis komunitas berupa wadah besar berisi tabbouleh di Granville. Proyek ini menempatkan makanan sebagai medium sosial, mempertemukan partisipasi publik dengan narasi migrasi dan identitas.
Sementara itu, presentasi monumental Ngurrara Canvas II menjadi momen historis dalam edisi kali ini. Karya seluas 80 meter persegi ini diciptakan pada 1996 oleh lebih dari 40 seniman Ngurrara dari Gurun Pasir Besar, Australia Barat, sebagai bagian dari klaim hak atas tanah adat mereka. Setelah berkeliling Australia dan dipamerkan secara internasional, presentasinya di Art Gallery of New South Wales akan menjadi penampilan terakhir sebelum karya tersebut kembali secara permanen ke tanah asal para senimannya.
Sorotan lain mencakup video multi-saluran tentang pengalaman pemuda Pribumi dalam tahanan, hasil kolaborasi Behrouz Boochani, Hoda Afshar, dan Vernon Ah Kee dalam proyek Code Black/Riot. Karya ini memadukan jurnalisme, seni visual, dan aktivisme sebagai upaya menghadirkan suara yang selama ini terpinggirkan.

Lanskap Kota sebagai Ruang Pamer
Biennale tahun ini memperluas jejaknya ke Sydney Barat dengan melibatkan Penrith Regional Gallery untuk pertama kalinya serta mengaktifkan kembali Campbelltown Arts Centre. Program publik juga hadir di Centenary Square Parramatta, Fairfield City Museum & Gallery, hingga Redfern Town Hall.
White Bay Power Station—ruang industrial yang menjadi lokasi favorit pada edisi sebelumnya—kembali menampilkan patung dan instalasi berskala besar, termasuk karya Nikesha Breeze dan pelukis Nancy Yukuwal McDinny. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana arsitektur kota dan situs pascaindustri dapat diaktifkan sebagai ruang refleksi kolektif.
Dengan “Rememory”, Biennale of Sydney 2026 menegaskan kembali perannya bukan sekadar sebagai pameran internasional, melainkan sebagai ruang perjumpaan antara sejarah, identitas, dan praktik artistik kontemporer. Di tengah dunia yang terus bergulat dengan ingatan dan krisis identitas, biennale ini mengingatkan bahwa seni memiliki kapasitas unik untuk menghidupkan kembali memori—bukan untuk terjebak di masa lalu, melainkan untuk membentuk masa depan bersama.
Foto-foto: Biennale of Sydney

