Closed: Kilas Balik Trauma Etnis Tionghoa

  Foto: aracontemprary.id

Bagaimana trauma yang kita alami, kembali terlintas dalam pikiran? Irfan Hendrian seorang seniman kelahiran 1987 yang tinggal di Bandung menghadirkan pameran tunggal bertajuk Closed dengan ara contemporary, Jakarta sebagai ruang refleksi dari barisan-barisan karya tersebut. Pameran tunggal yang berlangsung 31 Januari hingga 17 Maret 2026 menyajikan kertas sebagai media penyampaian pesan terhadap rasa takut dalam ingatan etnis Tionghoa pada masa itu.

Dalam Instagram @aracontemporary “Selama berabad-abad, kertas telah memegang kondisi ganda temporalitas dan keabadian – menanggung sejarah sementara ketika rentan terhadap penghapusan. Pada saat budaya berbasis kertas semakin terganti, Irfan Hendrian terus bekerja dengan kertas sebagai media utamanya, bukan dengan menggambar pada permukaan, tetapi terlibat dengan struktur internalnya. Dimulai dari satu lembar, proses kerajinan dan konstruksi terungkap sebagai penyelidikan ke dalam bentuk, memori, dan ambiguitas laten yang tertanam dalam material itu sendiri.” 

Maraknya promosi seni, pameran, dan museum melalui layar biru setiap persembahannya. Irfan Hendrian lewat pameran Closed terus menggunakan kertas sebagai media utamanya, ia menyelam dalam jiwa kertas tersebut, dari proses pembuatan, perancangan, dan penataannya selalu berawal paling dasar. Proses tersebut menggunakan teknik risografi, melalui pencetakan dengan mesin risograf yang relatif memproduksi dalam volume tinggi, biaya relatif rendah, dan hasil estetika khas yang bagus, setelahnya akan disusun dari berbagai lapisan bertumpuk dengan hasil narasi utuh estetik nan rapuh yang menunjukkan keindahan dalam ingatan ketakutan.

Hasil estetik dari Irfan Hendrian yang kemudian terefleksi di ara contemporary, menjadikan ruang galeri tempat pertahanan dan ketakutan yang dibalut oleh estetika khas orang Tionghoa. Motif berulang seperti teralis jendela, pagar logam bergelombang, kunci, membentuk apa yang digambarkan oleh seniman sebagai arsitektur ketakutan – struktur yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan kegelisahan sejarah komunitas Tionghoa Indonesia di Indonesia. 

         Foto: aracontemporary.id 

Irfan Hendrian menelusuri tempat sekaligus pengalamannya di Bandung. Secara cerita yang memang terjadi pada tahun 1960-an amuk massa menjalar sekitar Bandung tepatnya jalan Braga, ratusan properti dihancurkan hingga upaya bertahan etnis Tionghoa dengan memasang terali besi, jendela jeruji, dan pintu berlapis gembok. Dalam pengalamannya saat ini kembali menapak kondisi ruko dan rumah terpampang kuat terali besi penuh cerita kelam, ingatan kolektif itu dapat pengunjung rasakan dalam beberapa karya yang terpampang di ara contemporary.

Refleksi pengunjung dapat berawal dari karya berjudul Paper Thin Protection (Perlindungan Setipis Kertas). Seluruh elemen gembok berwarna kuning menghadirkan kesan mewah dengan disusun berlapis di atas tumpukan kertas tipis tertempel magnet, menunjukkan perlindungan seolah tidak tembus tetapi rapuh akan sebuah ketakutan. Selanjutnya masuk pada ruang utama yang terpampang Chinatown Window Sample, terali besi dengan ornamen tradisional Tionghoa yang elegan sekaligus rapat, berlapis, dan tidak memungkinkan tangan tembus ke dalamnya, struktur pola-pola rumit dipotong secara presisi dengan lapisan kertas yang bertumpuk, hasil objek tiga dimensi yang tipis bertekstur layaknya jendela sungguhan menjadikan trauma historis dalam simbol budaya.

     Foto: Tik Tok – @rekomendatebychris 

Pada ujung pameran, terdapat instalasi karya berjudul Emas Beras. Replika kecil seperti undakan gunung emas tersebut terbuat dari kertas dengan lapisan tipis dipotong dan ditekan melalui teknik deboss dan dye-cut, Irfan Hendrian berkata “Banyak yang bilang orang Tionghoa suka menimbun emas dan beras. Memang orang Tionghoa punya kebiasaan menimbun emas, tapi tidak sebanyak ini.” Hal ini memiliki pesan bahwa pada saat kerusuhan, orang Tionghoa tidak bisa keluar rumah, justru kediaman dan aset mereka yang dijarah, jadi ini menjadi simbol ketahanan untuk bersiap dalam keadaan yang tidak menentu.

Pameran tunggal Closed ini hadir sebagai obat dari trauma historis yang dialami etnis Tionghoa, kejadian tahun 1960-an di Bandung merupakan sedikit dari banyaknya penjarahan terhadap etnis tersebut, krisis moneter yang menjadi puncak pada 1998 di jakarta, merupakan memori buruk hingga saat ini. Pengingat itu terus menyeruak melalui sastra dan seni, pelanggaran tersebut sampai sekarang tidak dapat terselesaikan oleh kepemimpinan manapun, ekonomi dan pembangunan bisa diperbaiki secara cepat, tetapi memori akan trauma butuh waktu yang panjang untuk menyembuhkannya. Dalam laman Instagram @aracontemporary “Karya-karya ini beroperasi tidak hanya sebagai bentuk visual, tetapi sebagai objek bermuatan memori, mengundang sebuah konfrontasi yang lebih dekat dengan apa yang tetap tersembunyi, bekas luka, dan tidak terselesaikan.”