
Jakarta menjadi rumah selanjutnya bagi pameran yang bertajuk Critically Bali. Pada sebelumnya, sudah dibuka di Singapura, Gajah Gallery menjadi ruang bagi banyak karya dari seniman-seniman terkemuka Bali lintas masa, berjumlah 14 karya yang dipamerkan dari tanggal 7 Maret hingga 29 Maret 2026, pembawaan yang ingin disampaikan adalah setiap tempat memiliki budaya tersendiri, lingkungan sekitar dapat menjadi inspirasi sederhana akan sarat makna, dan proses kreatif seni dari para seniman menjawab sebuah penyesuain dengan waktu.
Pameran ini terbuka untuk umum, saat masuk pengunjung dapat melihat arti dari setiap karya. Setiap sudut menjadi tempat tersendiri bagi karyanya, dalam sudut pertama, penampilan sebuah karya yang menghiasi adalah karya dari seniman penting asal Bali, seperti I Gusti Nyoman Lempad, I Nyoman Tjokot, dan Dewa Putu Mokoh yang rata-rata masih menghadirkan karya klasik Bali dengan menonjolkan budaya dan lingkungan kesehariannya.
Tampilan dari karyanya masih mengedepankan identitas Bali sebagai pulau dengan kebudayaan yang kental. Seperti salah satunya karya I Nyoman Tjokot yang menghadirkan karya pahatan kayu, ia menggunakan kayu yang hanyut di sungai, terbuang, dan sudah terurai, kemudian dipoles sedemikian rupa dengan menghasilkan ekspresi penghargaan, penghormatan, dan pelestarian budaya sekaligus karakter dari masyarakat Bali.

Dalam karya lainnya, seperti dari seniman I Gusti Nyoman Lempad yang menghadirkan daun lontar sebagai medianya. Ia membawa arti dari kebudayaan Bali sebenarnya dengan menyisipkan humor dalam adegannya, dalam lukisan yang terpampang, pengunjung dapat melihat sebuah ilustrasi dari sastra klasik hindu-budha yaitu Ramayana dan Mahabharata, ini menjadi sebuah refleksi terhadap kebudayaan asli yang berpengaruh dari India dan kisah-kisah kuno.
Sudut pertama menjadi sebuah tempat klasik bagi para pengunjung saat merasakannya. Seniman lama memiliki sebuah daya tariknya tersendiri bagi karyanya, penyampaian dari sebuah objek yang mengangkat kebudayaan Bali menjadi dasar bagi seniman berikutnya dalam mendapatkan inspirasi. Jalan tersebut sudah terbuka, Made Wianta, I Made Djirna, dan Putu Sutawijaya menjadi awal terhadap praktik modern dalam karya, salah satu karya Made Winata yang berjudul “Buffalo” memberikan visual dan media yang unik, ia menggunakan paku tersusun mengikuti pola yang membentuk hewan banteng.

Bali Critically tidak hanya hadir dalam visual sosial dan budaya Bali. Kritik terhadap feminis dan karya kontemporer juga ikut dalam sudut kedua pameran ini. Beberapa seniman lama dan baru menghiasi sudut ini dalam karyanya, seniman perempuan yang ikut andil dalam penyampaian feminisme dan kesetaraan yang terpampang di Gajah Gallery, yaitu I Gusti Ayu Kadek Murniasih dan Satya Cipta. Mereka merupakan seniman perempuan dengan karyanya yang selalu berbicara tentang perempuan dan tubuhnya. Mereka mengambil dari pengalaman pribadi maupun lingkungannya dengan bercerita lewat karya-karyanya, ilustrasi abstrak tetapi menampilkan adegan seksualitas, bergairah, dan berani, menjadi ciri khas dari Kadek Murniasih dan Satya Cipta dalam mengekspresikan dirinya sekaligus menentang kekerasan patriarki.
Kehadiran kritik menjadi sebuah ledakan dalam pameran ini, kemudian disambung oleh penutup yang menjadi hidangan manis. Karya kontemporer dari seniman Jemana Murti dan Ashley Bickerton membuat pengunjung dapat melihat keberlanjutan dari praktik awal Made Wianta, salah satu seniman yang beradaptasi dengan waktu saat ini yaitu Jemana Murti, ia mengkolaborasikan kecerdasan buatan dan brainstorming dirinya. Karyanya yang berjudul “X3M9K4P Artificial Divinity” dengan menggunakan 3D print, menjadi bukti bahwa sebuah seni dapat beradaptasi dengan teknologi masa kini, dengan ide dan pesan yang disampaikan oleh seniman, dapat menjadi sebuah karya dengan ilustrasi khas didalamnya.

Critically Bali hadir tidak hanya semata memperlihatkan kebudayaan Bali yang kental. Setiap seniman memiliki keunikan tersendiri dalam mengungkapkan perasaan terhadap dirinya, pameran ini menjadi sebuah sinergi untuk menghidupkan seni rupa Bali, setiap bidang menjadi warisan yang harus dilestarikan dengan mengeksplor suatu kebaruan imajinasi. Kebaruan yang ada tidak langsung melunturkan budaya Bali, justru menjadi sebuah kesinambungan, kolaborasi menjadi sebuah kebersamaan untuk melestarikan warisan budaya, Gajah Gallery menjadi ruang untuk para pengunjung merasakan perbedaan waktu dan gaya dari para seniman Bali lintas generasi.
Foto-foto: Instagram/@Gajah Gallery

