Debut Nirmana Kinetic Space di Kancah Seni Indonesia

Ruang seni kinetik yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk Blok M

Jika berbicara tentang Blok M, kawasan ini tak pernah lepas dari citra sebagai pusat kuliner viral dan gaya hidup anak muda Jakarta. Deretan restoran populer, kafe, bar, hingga tempat nongkrong yang silih berganti bermunculan membuat Blok M seolah tak pernah tidur. Namun, di balik ritme cepat tersebut, kini hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda—sebuah tempat untuk berhenti sejenak, memperlambat langkah, dan merasakan seni dengan cara yang lebih kontemplatif.

Di penghujung 2025, Blok M menyambut kehadiran Nirmana Kinetic Space, ruang seni futuristik yang menggabungkan seni kinetik, teknologi, cahaya, dan desain dalam satu pengalaman utuh. Berlokasi di lantai bawah restoran Asia Timur kelas atas SU MA dan SHO Bar di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Nirmana Kinetic Space hadir bak oase tenang di tengah dinamika kota yang serba cepat.

Nama Nirmana sendiri bukan dipilih tanpa alasan. Dalam dunia desain, nirmana merujuk pada konsep dasar pengolahan unsur visual seperti titik, garis, bidang, ruang, dan struktur. Filosofi inilah yang menjadi fondasi utama ruang seni ini. Bagi tim Nirmana, seni tidak hanya hadir sebagai objek untuk dilihat, tetapi sebagai pengalaman yang dirasakan secara menyeluruh melalui gerak, cahaya, bunyi, dan ritme.

Gagasan Nirmana pertama kali muncul pada 2020, sebelum kemudian berkembang melalui terobosan besar dalam konser Head in the Clouds di Pantai Indah Kapuk pada 2022. Dalam proyek kolaboratif tersebut, Nirmana bekerja sama dengan studio seni berbasis di Bandung, Sembilan Matahari, menciptakan sebuah zona imersif yang menghadirkan pengalaman visual unik bagi para penonton. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah Pixel Wall—instalasi cahaya kinetik yang menangkap siluet orang-orang yang melintas dan mengubahnya menjadi citra dua bit secara real time.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Nirmana Kinetic Space kini hadir sebagai salah satu ruang seni kinetik paling ambisius di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Ruang ini memperlihatkan bagaimana gerak, struktur mekanis, dan rekayasa bentuk dapat menjadi medium ekspresi artistik yang setara dengan seni rupa lainnya.

Berbeda dari galeri seni konvensional yang banyak menampilkan karya dua dimensi atau instalasi statis, Nirmana Kinetic Space menghadirkan karya-karya yang tampak “hidup”. Di sinilah esensi seni kinetik benar-benar terasa: perpaduan antara mekanik, teknologi, cahaya, dan desain yang bekerja secara harmonis, menciptakan pengalaman visual dan emosional yang mendalam.

Pendiri Nirmana, Adi Panuntun, menekankan bahwa seni dan teknologi bukanlah dua entitas yang saling meniadakan. Justru sebaliknya, keduanya dapat berkolaborasi tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan. Melalui ruang ini, pengunjung diajak melihat bagaimana motor, sistem kontrol, dan mekanisme presisi dapat menjelma menjadi karya seni yang puitis.

Di Nirmana Kinetic Space, pengunjung tidak didorong untuk terburu-buru mengambil foto atau video. Sebaliknya, mereka diajak untuk diam sejenak dengan memperhatikan gerak yang berulang, mendengarkan bunyi halus mesin, dan merasakan bagaimana seni bekerja bukan hanya melalui penglihatan, tetapi juga melalui perasaan dan kesadaran tubuh.

Galeri ini menghadirkan tujuh instalasi yang tersebar di enam ruang berbeda yang saling terhubung. Setiap ruang memiliki karakter unik: ada yang gelap dan hening, ada pula yang dipenuhi gerakan ritmis dan iringan musik. Seluruh karya dirancang untuk membawa pengunjung memaknai seni melalui pendekatan yang beragam.

Ada apa saja di Nirmana Kinetic Space?

Di ruang pertama, pengunjung disambut oleh Saujana—instalasi berupa bola-bola magnet yang meluncur perlahan di atas hamparan pasir halus. Gerakannya membentuk pola-pola geometris yang terus berubah secara repetitif, menciptakan total 125 konfigurasi visual. Karya ini terinspirasi dari Sisyphus karya seniman Amerika, Bruce Shapiro, dan menawarkan pengalaman meditatif tentang ketekunan, ritme, dan waktu.

Melangkah lebih dalam, pengunjung akan menemui Amerta, sebuah instalasi kinetik berbahan baja tahan karat yang kokoh. Nama Amerta berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “abadi”, mencerminkan ritme alam yang tak pernah berhenti. Berbentuk sepasang sayap yang membentang dan berayun perlahan, karya ini menghadirkan ilusi penerbangan bagaikan sebuah tarian lembut antara gerak dan keheningan.

Selanjutnya, terdapat Senandika, instalasi seni kinetik tiga dimensi yang terdiri dari 240 balok kayu. Dengan mekanisme motor yang diprogram secara khusus, instalasi ini mampu membentuk pola, simbol, hingga huruf. Menariknya, pengunjung dapat berinteraksi langsung melalui tablet dengan menggambar atau menulis sesuatu yang kemudian diterjemahkan menjadi gerakan visual oleh instalasi ini.

Instalasi lain yang tak kalah menenangkan adalah Rintik. Terinspirasi dari hujan, karya ini menampilkan 200 bola logam dan akrilik yang bergerak naik-turun mengikuti ritme tetesan air. Rintik menghadirkan suasana hening dan reflektif, mengajak pengunjung merasakan keindahan alam dalam interpretasi seni kinetik modern. Karya ini mengingatkan pada instalasi Kinetic Rain di Bandara Changi, Singapura, meski hadir dengan pendekatan yang lebih intim.

Bagaimana Seni Kinetik di Dunia?Lebih jauh, seni kinetik sendiri telah lama menginspirasi praktik seni dan arsitektur global. Berbagai bangunan dunia memanfaatkan prinsip gerak dan respons lingkungan, seperti Al Bahr Towers di Abu Dhabi dengan fasad dinamisnya, The Sliding House di Inggris,Bund Finance Center di Shanghai rancangan Foster + Partners dengan fasad kinetik tiga lapis, hingga One Ocean Pavilion di EXPO 2012 Seoul yang terinspirasi dari gerak air.

Foto: Nirmana Kinetic