
Kondisi cuaca yang tidak menentu mengganggu aktivitas masyarakat urban. Suhu dari awal Januari terasa seperti di negara-negara eropa pada hari-hari biasanya. Saat membuka media sosial, muncul meme seperti “Ini bukan Bekasi, tapi BekaSwiss.” Celetuk dari netizen dunia maya menjadi penanda, hujan turun dengan intensitas tinggi merubah suhu beberapa tempat di Indonesia. Kondisi ini semakin parah bahwa alam sebagai protagonis akan membawa bencana ke manusia sebagai antagonis.
Seni menjadi sebuah pilar untuk bersuara dan berteriak bahwa terdapat fenomena yang mengganggu dalam kondisi sosial lingkungan. Pilar tersebut tersusun di ruangan yang sudah disiapkan melalui pameran, ruangan ini menjadi tempat evaluasi untuk protagonis yang melakukan play victim terhadap antagonisnya, tanggal 10 Desember 2025 – 15 Januari 2026 Museum Bank Indonesia menghadirkan pameran temporer Ecophilia untuk membuka sebuah kisah agar bumi bisa kembali bernafas.

Pameran Ecophilia mengajak untuk merasakan keindahan alam, kondisi kerusakan alam, dan bagaimana cara manusia memperbaikinya. “Ecophilia merupakan panggilan jiwa. Berasal dari kata yunani oikos, dalam bahasa inggris Eco ‘rumah atau tempat tinggal’ dan philia ‘cinta atau sayang’ Ecophilia adalah ikrar kepedulian kita yang paling mendalam pada bumi atau lingkungan tempat kita hidup.” Suguhan dari pameran ini terasa berbekas, lorong-lorong terbagi di dalamnya menjadi sebuah perjalanan terasa hidup dan ikut menyadarkan hal-hal kecil di sekitar kita.
Pelataran Alam Sekitar
Gerbang awal pengunjung di sambut “Aku adalah tempatmu pertama kali bernafas. Lihatlah pelataran itu: dirimu dan ragam flora-fauna, tersaji indah dalam denyut harmoni ekosistem, ketika manusia dan alam saling menjaga, bukan menguasai.” Kondisi ini memiliki anggapan untuk melihat sebuah awal dari situasi alam, membantu setiap lingkaran kehidupan agar bisa berdampingan.
Pelataran alam menjadi situasi disaat masuk ke hutan, rindang dari berbagai pohon dan rumput menghadirkan ruang alam sangat asri, hembusan angin yang terasa membawa realita masuk didalamnya. Lanjut kepada interaksi dasar laut, tampilan imersif yang sangat nyata untuk pengunjung, penuh koreo ragam hayati, dingin menggerayangi tubuh, dan biru khas memanjakan mata.
Mengapa Kondisi Alam Hancur?
Ilustrasi terpampang jelas pada saat masuk ke lorong selanjutnya. Gambar permukaan laut dan alas berwarna biru dengan koreo botol plastik, kayu bekas, dan berbagai jenis lainnya terapung di laut. Sebuah foto juga turut hadir sebagai bukti dampak dari perilaku manusia terhadap alam, menunjukkan situasi bencana nasional di Sumatera kemarin, banjir di Jakarta dan sekitarnya kian memburuk, dan salah satu ramalan “Apakah jakarta akan tenggelam?” Permainan interaktif meramaikan lorong ini, melihat pengetahuan pengunjung tentang flora dan fauna nusantara yang terancam punah.
Situasi lorong ini diartikan bahwa manusia menjadi sebab utama kehancuran alam. Dalam pelataran awal yang penuh keindahan, hilang dengan cepat, makna ini menjadi refleksi diri manusia agar tidak menyalahkan alam sepenuhnya. Alam melakukan perputaran di bumi untuk menjaga ekosistem tetap berjalan, jika ada efek domino yang tidak diinginkan, kesalahan utama bukan dari alam, tetapi akibat perbuatan manusia.
Alam Tidak Bisa Sembuh Sendiri
Pameran Ecophilia menjadi sebuah bukti, setelah keluar dari perjalanan hidup, setiap manusia harus memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Lorong terakhir menunjukkan gambar tentang proses manusia menyembuhkan alam, Interaksi langsung menghitung pencemaran karbon dari aktivitas sehari-hari menjadi sebuah hal unik, pameran barang-barang kreasi daur ulang dari usaha UMKM, dan penulisan “Janji menjaga lingkungan” turut memberikan pengalaman baru di pameran ini.

Sebelum meninggalkan area pameran, pengunjung diingatkan kembali akan pentingnya menjaga alam sekitar secara kolektif. Visi dari pameran Ecophilia bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan dengan hal-hal sederhana, kutipan akhir pameran menyebutkan “Aku tidak bisa pulih sendiri. Namun lewat aksi bersama dari langkah kecil hingga gerakan besar, pilihanmu menjadi asa yang dapat mengetuk sukma bumi. Buktikan bahwa Ecophilia adalah panggilan cinta dan tindakan nyata, bukan sebatas kata.”
Seni membawa keindahan dengan menyimpan makna tak terduga di dalamnya. Kritik sosial, ungkapan perasaan, bentuk dukungan, maupun abstrak menjadikan seni sebagai media penting untuk melihat berbagai sisi kehidupan, pameran sebagai ruang penting untuk mendukung suara tersebut. Ecophilia menjadi bukti, ajakan untuk menjaga alam tidak hanya dari iklan komersial saja, tetapi pameran seni yang interaktif sekaligus unik, bisa menjadi dorongan dan percikan untuk berani memulai sesuatu dari hal kecil.

