
Sebuah memori yang dibangkitkan melalui karya seni
Dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia, nama FX Harsono menempati posisi yang penting sekaligus politis. Selama lebih dari lima dekade, ia konsisten menggunakan seni sebagai medium refleksi, perlawanan, dan rekonstruksi ingatan. Karyanya tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang identitas, sejarah, dan trauma kolektif—terutama yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia.
Sebagai salah satu pendiri Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRB), FX Harsono berperan dalam menggeser paradigma seni rupa Indonesia sejak pertengahan 1970-an. Gerakan ini menolak batasan seni konvensional dan membuka ruang bagi praktik seni yang lebih konseptual, eksperimental, serta responsif terhadap isu sosial-politik.
Akar Biografi dan Jejak Sejarah
FX Harsono lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 22 Maret 1949. Ia terlahir dengan nama Tionghoa Oh Hong Bun, dari pasangan Oh Hok Tjoe dan Lim Swan Nio. Namun, dinamika politik Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru, memaksa banyak warga keturunan Tionghoa untuk menyembunyikan identitas aslinya. Kebijakan asimilasi yang diskriminatif membuat penggunaan nama Tionghoa ditekan secara sistematis.
Pada periode 1959–1961, kebijakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa menyebabkan puluhan ribu orang meninggalkan Indonesia. Keluarga Harsono sempat mempertimbangkan untuk pindah ke Tiongkok, tetapi niat tersebut dibatalkan karena tidak memiliki keluarga di sana.
Harsono menempuh pendidikan seni di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSI) ASRI Yogyakarta—kini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia Yogyakarta—pada 1969–1974. Ia kemudian melanjutkan studi di Institut Kesenian Jakarta pada 1987–1991. Masa studinya bertepatan dengan menguatnya rezim Orde Baru, sebuah periode yang membentuk kesadaran politiknya sebagai seniman sekaligus aktivis.
Seni sebagai Kritik dan Rekonstruksi Identitas
Sejak 1975, Harsono aktif berpameran di dalam dan luar negeri, termasuk di New York, San Francisco, Amsterdam, Berlin, London, Paris, Tokyo, Fukuoka, hingga Canberra dan Sydney. Namun, yang membuatnya menonjol bukan sekadar jangkauan geografisnya, melainkan konsistensinya dalam mengangkat isu sejarah yang terpinggirkan.
Praktik artistiknya berbasis riset sejarah. Ia menelusuri arsip, dokumen keluarga, hingga catatan peristiwa kekerasan terhadap etnis Tionghoa. Identitas, memori, dan kebudayaan menjadi tiga poros utama yang terus ia eksplorasi. Dalam banyak karya, ia berusaha mengembalikan narasi yang pernah dihapus atau dibungkam oleh negara.
Bagi Harsono, seni bukan sekadar medium ekspresi, melainkan ruang untuk mengingat—dan menolak lupa.
Writing in the Rain (2011)
Salah satu karya pentingnya adalah Writing in the Rain (2011). Dalam performans ini, Harsono menuliskan nama lahirnya dalam aksara Mandarin di atas dinding kaca menggunakan kuas dan tinta hitam. Ia menuliskannya secara repetitif, seolah sedang mengukuhkan kembali identitas yang lama terkubur.
Namun, air yang menyerupai hujan perlahan membasahi kaca dan menghapus tulisan tersebut. Tindakan simbolik ini merepresentasikan pengalaman kolektif warga Tionghoa Indonesia yang dipaksa mengganti nama dan identitasnya. Nama menjadi metafora tentang eksistensi yang direnggut.
Karya ini pernah dipamerkan di Tyler Rollins Fine Art, New York, pada 2012, serta ditampilkan dalam program Times Square Advertising Coalition di New York pada Januari 2018.
Rewriting the Erased (2009)

Dalam pameran tunggalnya di Singapore Art Museum pada 2009, Harsono menampilkan instalasi berjudul Rewriting the Erased. Karya ini terdiri dari lembaran kertas kaligrafi dengan tinta hitam, bertuliskan empat huruf kanji yang membentuk nama lahirnya: “Wu Fung Wen” atau “Oh Hong Bun”. Namun ironi terletak pada fakta bahwa ia sendiri tidak lagi fasih membaca dan menulis aksara Mandarin.
Karya ini menjadi refleksi mendalam tentang keterputusan budaya. Ketidakmampuan membaca aksara sendiri bukan sekadar persoalan linguistik, melainkan simbol kehilangan akar akibat kebijakan asimilasi paksa. “Yang terhapus” dalam judul karya ini merujuk pada identitas yang secara sistematis disingkirkan dari ruang publik.
The Light of Journey (2023)

Pada 2023, Harsono menghadirkan instalasi The Light of Journey, sebuah karya yang memanfaatkan duilian—papan berisi kalimat bijak yang biasanya digantung di pintu rumah dalam tradisi Tionghoa.
Ia menempatkan duilian tersebut di atas sebuah perahu yang dipesan khusus dari pengrajin. Kalimat berbahasa Mandarin yang tertulis bermakna: “Bercita-cita besar, jangan lupa moral.”
Perahu dalam karya ini dapat dibaca sebagai metafora perjalanan diaspora dan migrasi. Sementara duilian merepresentasikan tradisi yang perlahan ditinggalkan karena dianggap usang. Melalui instalasi ini, Harsono tidak hanya berbicara tentang identitas personal, tetapi juga tentang warisan budaya yang terancam hilang oleh modernitas dan stigma sosial.
Seni sebagai Arsip Alternatif
Praktik FX Harsono menunjukkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai arsip alternatif—ruang di mana sejarah yang tak tercatat dapat dihadirkan kembali. Ia tidak mengangkat senjata untuk melawan; ia menggunakan kuas, tinta, dan instalasi sebagai medium perlawanan.
Karya-karyanya menolak lupa. Ia mengajak publik untuk mengingat—bukan hanya peristiwa besar dalam sejarah nasional, tetapi juga pengalaman personal yang sering kali terpinggirkan. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, kontribusinya tidak hanya terletak pada bentuk visual, tetapi juga pada keberanian untuk membuka luka sejarah secara jujur dan reflektif.
FX Harsono membuktikan bahwa seni dapat menjadi ruang pemulihan sekaligus perlawanan. Di tengah dunia yang kerap bergerak cepat dan melupakan masa lalu, ia berdiri sebagai pengingat: ada sejarah yang harus terus dituliskan ulang, agar tidak pernah benar-benar terhapus.
Foto-foto: FX Harsono Art

