
Pada awal 2025, British Museum secara resmi mengumumkan keberhasilannya mengakuisisi sebuah artefak luar biasa dari awal abad ke-16: sebuah liontin emas berbentuk hati yang dikenal sebagai Tudor Heart. Akuisisi ini menjadi perhatian luas, bukan hanya karena nilai materialnya yang tinggi, tetapi juga karena makna sejarah dan simboliknya yang erat kaitannya dengan Dinasti Tudor, khususnya Raja Henry VIII dan istrinya yang pertama, Catherine of Aragon.
Liontin tersebut kini menjadi bagian dari koleksi permanen British Museum setelah melalui proses penggalangan dana publik senilai 3,5 juta pound sterling (sekitar Rp80.412.640.000) . Keberhasilan ini menegaskan kembali peran museum sebagai institusi publik yang tidak hanya menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjaga akses masyarakat terhadap warisan budaya yang memiliki nilai nasional dan internasional. Tudor Heart sendiri ditemukan pada tahun 2019 di Warwickshire oleh seorang pencari logam (metal detectorist). Penemuan ini kemudian dilaporkan sesuai dengan Treasure Act Inggris, sebuah regulasi yang mengatur penanganan temuan bersejarah berbahan logam mulia. Berdasarkan hukum tersebut, museum memiliki hak prioritas untuk mengakuisisi artefak yang dinilai memiliki kepentingan nasional.
Dari segi kondisi, liontin ini tergolong sangat terawat. Terbuat dari emas 24 karat, Tudor Heart terdiri dari sebuah pendulum berbentuk hati yang terhubung dengan rantai panjang. Detail pengerjaannya menunjukkan tingkat keahlian tinggi pengrajin perhiasan London pada awal abad ke-16, sebuah periode ketika perhiasan berfungsi bukan hanya sebagai hiasan, tetapi juga sebagai penanda status sosial, identitas politik, dan relasi kerajaan. Nilai historis Tudor Heart terletak pada simbol-simbol yang menghiasi permukaannya. Liontin ini menampilkan mawar Tudor, lambang resmi dinasti yang menyatukan Wangsa Lancaster dan York, serta buah delima, simbol pribadi Catherine of Aragon. Kombinasi ini memperkuat dugaan bahwa liontin tersebut dibuat untuk merayakan persatuan Henry VIII dan Catherine, yang menikah pada tahun 1509.
Di bagian dalam liontin, terdapat inisial “H” dan “K”, serta kata “toujours” yang berarti “selalu” dalam bahasa Prancis. Bahasa Prancis sendiri merupakan bahasa diplomasi dan bangsawan Eropa pada masa itu. Elemen-elemen ini menunjukkan bahwa Tudor Heart bukan sekadar perhiasan pribadi, melainkan objek yang sarat makna politis dan simbolik. Para kurator British Museum memperkirakan bahwa liontin ini kemungkinan dibuat sekitar tahun 1518, bertepatan dengan perayaan besar di istana Tudor, termasuk turnamen dan acara kenegaraan yang berkaitan dengan aliansi diplomatik Inggris di Eropa. Pada masa tersebut, keluarga kerajaan sering menggunakan perhiasan sebagai alat representasi kekuasaan dan legitimasi dinasti.

Henry VIII dan Catherine of Aragon menikah selama lebih dari dua dekade, sebuah periode yang relatif stabil dibandingkan pernikahan Henry berikutnya. Catherine, seorang putri Spanyol, memainkan peran penting dalam diplomasi dan kehidupan politik Inggris. Simbol delima pada liontin ini mencerminkan identitasnya sebagai ratu sekaligus penghubung antara Inggris dan kekuatan Eropa lainnya. Namun, sejarah juga mencatat bahwa pernikahan ini berakhir dengan pembatalan yang kontroversial, yang kemudian memicu Reformasi Inggris dan pemisahan Gereja Inggris dari otoritas Paus di Roma. Dalam konteks ini, Tudor Heart menjadi artefak yang merepresentasikan fase awal pemerintahan Henry VIII—sebelum konflik agama dan politik besar mengubah lanskap sejarah Inggris.
Setelah dinilai dan diberi harga sebesar 3,5 juta pound sterling, British Museum meluncurkan kampanye publik bertajuk Tudor Heart Appeal. Tujuannya adalah memastikan bahwa artefak tersebut tetap berada dalam koleksi publik dan tidak berpindah ke tangan kolektor pribadi. Kampanye ini mendapat respons luas dari masyarakat. Puluhan ribu individu turut berkontribusi, mulai dari donasi kecil hingga dukungan dari lembaga kebudayaan dan dana pelestarian warisan nasional. Keberhasilan penggalangan dana ini mencerminkan meningkatnya kesadaran publik akan pentingnya akses terbuka terhadap artefak bersejarah.
Bagi British Museum, kampanye ini juga menjadi contoh bagaimana institusi budaya dapat melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pelestarian sejarah. Artefak tidak lagi dipandang sebagai milik eksklusif para petinggi atau kolektor, melainkan sebagai bagian dari memori kolektif yang harus dijaga bersama. Tudor Heart memiliki nilai penting karena kelangkaannya. Sangat sedikit perhiasan kerajaan dari masa Henry VIII yang bertahan hingga kini, terlebih yang dapat dikaitkan secara langsung dengan figur sejarah tertentu. Artefak ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana simbol, perhiasan, dan identitas politik saling terkait dalam budaya istana Tudor.
Selain itu, liontin ini juga memperkaya pemahaman kita tentang peran material budaya dalam membangun narasi sejarah. Melalui objek kecil seperti perhiasan, sejarawan dapat menelusuri hubungan personal, dinamika kekuasaan, serta selera estetika suatu periode. Saat ini, Tudor Heart dipamerkan di British Museum dan dapat diakses oleh publik. Penempatannya di ruang pamer tidak hanya bertujuan menampilkan keindahan objek, tetapi juga menyajikannya dalam konteks sejarah yang lebih luas, lengkap dengan penjelasan mengenai simbolisme, teknik pembuatan, dan latar politik pada masanya.
Keberadaan liontin ini di museum nasional memastikan bahwa penelitian lanjutan dapat terus dilakukan, sekaligus memberikan kesempatan bagi generasi mendatang untuk belajar langsung dari artefak asli, bukan hanya melalui teks sejarah. Akuisisi Tudor Heart oleh British Museum menunjukkan bahwa benda bersejarah tidak hanya memiliki nilai masa lalu, tetapi juga relevansi masa kini. Melalui kolaborasi antara institusi dan masyarakat, warisan budaya dapat tetap terjaga dan diakses secara luas.
Tudor Heart kini tidak lagi tersembunyi di dalam tanah atau berada di balik koleksi pribadi. Ia menjadi bagian dari ruang publik—sebuah pengingat tentang bagaimana sejarah, kekuasaan, dan identitas pernah diwujudkan dalam bentuk yang kecil, halus, namun meyimpan banyak makna.
Foto-foto: news.artnet.com & britishmuseum.org

