Konsep “Objek Sementara” oleh El Anatsui dalam Karya Terbarunya

Emosi terhadap ingatan masa lalu menjadi sebuah pemantik pada perasaan untuk menghadirkan suatu gagasan. Benda-benda sederhana dalam keseharian yang jarang diperhatikan, justru bisa menjadi objek pelampiasan emosional. Terkadang, manusia selalu mempermasalahkan estetika dasar dari objek sederhana yang lewat begitu saja, tetapi pada seni, waktu menjadi kunci untuk terus menghadirkan transformasi karya dari berbagai media atau hasil yang beragam.

Objek sederhana yang menjadi dasar bagi karya seni sudah banyak dilakukan oleh para seniman. Salah satunya El Anatsui yang merupakan pematung kondang dari Ghana, sejak tahun 1990-an ia memiliki visi untuk merepresentasikan kemungkinan-kemungkinan seni patung dengan karya-karya logam berskala besar, dengan mengubah tutup botol bekas menjadi bidang-bidang luas dengan bentuk dan warna yang ekspresif melalui pemotongan, perataan, penghancuran, pelipatan, dan penjahitan elemen-elemen menjadi permutasi yang tak terbatas. 

Representasi dari visinya berhasil menjadi realita yang kemudian diakui secara internasional. El Anatsui bertumpu pada konsepsi tentang keberadaan objek patung sebagai sesuatu yang sementara: bentuk tidak tetap pada saat pembuatan tetapi tetap bergantung, responsif terhadap lokasi, orientasi, dan waktu itu sendiri. Konsep ini, kemudian hadir di White Cube Gallery yang menjadi ruang bagi karya terbaru El Anatsui untuk menarik minat pengunjung.

Secara bersamaan dengan pemandangan di kedua lokasi ruang berbeda, yaitu di White Cube Gallery Seoul dan White Cube Gallery Hongkong. Pada ruang galeri di Seoul yang berjudul El Anatsui: LuwVor, pengunjung dapat tersuguh dari 18 Maret hingga 18 April 2026, sementara di Hongkong berjudul El Anatsui: MivEvi, waktu yang tersaji cukup panjang dari 25 Maret hingga 9 Mei 2026. Kehadiran dua ruang yang berbeda, tidak menjadi suatu pembeda bagi pengunjung, lebih jauh dapat menjadi interaksi luas untuk melihat keindahan dari sang seniman lewat tutup botol yang dihubungkan menjadi satu.

Karya-karya yang hadir di White Cube Seoul maupun Hongkong, Membawa keindahan yang luar biasa. Logika konstruktif dari tutup botol sepenuhnya bersifat timbal balik, dirancang dan dipajang sebagai dua sisi, patung-patung tersebut tidak menawarkan sisi yang diistimewakan. Sisi sebaliknya dari tutup botol tersebut menghasilkan bidang-bidang monokromatik berkilauan dari perak yang dimodulasi dan kontras dengan register kromatik warna coklat, hitam, oker, dan merah teroksidasi yang membedakan permukaan bermerek di sisi sebaliknya. 

Karya yang dipamerkan ditempel di dinding dan digantung pada langit-langit angkasa, tutup botol bekas dimanipulasi lewat berbagai cara, seperti salah satu karya yang menggunakan tutup botol dengan cara mengeluarkan dari dalam dan memotong kotak menjadi strip, sehingga dapat menyusun suatu corak bergambar seperti awan dan hujan. Dalam karya lainnya, potongan-potongan tutup botol digabungkan dengan kotak silang yang sebenarnya adalah piring cetak. Pada visualnya, corak yang terbentuk adalah  kotak-kotak kecil yang tersusun secara acak, kemudian ada monokrom berwarna merah dengan gradasi oranye terang meliputi sisi karya tersebut, pengunjung dapat lebih mengetahui tentang keragaman dalam komunitas elemen individu ini. Kemudian karya berbentuk jaring longgar yang memiliki dua sisi sehingga dapat digantung, menggunakan teknik memotong tutup botol menjadi strip yang sangat halus dan menghubungkannya bersama-sama.

Bahan-bahan tadi mencerminkan tema yang sedang berlangsung. Dari sejarah imigrasi dan pertukaran ke pertanyaan waktu, transformasi, dan pengalaman manusia, berakar dalam idenya tentang “bentuk tidak tetap”, setiap bagian dapat dibentuk ulang dan dipasang dalam berbagai cara, berubah dengan setiap ruang yang masuk. Referensi dari realita Anatsui tentang pasca-kemerdekaan, melihat bahwa sesuatu yang hancur dapat kembali utuh, karena pada dasarnya setiap hal yang diambil, pasti akan kembali kepada pemiliknya.

Namun, dalam praktiknya, proses tersebut tidak mudah. Sesuatu yang hancur harus dikumpulkan kembali, dijahit menjadi satu, dan baru bisa terbangun kembali dengan utuh. Dalam karyanya, Anatsui melihat bahwa kepekaan yang diwariskan ini tidak diwujudkan secara harfiah atau diselesaikan, tetapi diskalakan ulang. Fragmentasi beroperasi sebagai prinsip pengorganisasian, dengan jahitan, sambungan, dan unit tambahan yang membentuk permukaan luas yang menangguhkan penutupan dan tetap bergantung pada lokasi, orientasi, dan tampilan.

Foto-foto: whitecube.com