Mengintip Karya-Karya Bersejarah Melalui Lanskap Visual Guillermo Del Toro “Frankenstein”

Ketika kita berbicara tentang film dan penyutradaraannya–setuju atau tidak–ada dua tipe sutradara. Pertama yang membawa dunia ke layar kaca dan kedua yang membangun dunianya sendiri. Guillermo Del Toro masuk ke dalam kategori kedua. Siapa yang tidak asing dengan karya sutradara berjulukan “Maestro Monster” ini? Lewat berbagai filmnya Del Toro berhasil menciptakan gambaran monster yang terasa indah untuk dipandang–tidak mengintimidasi ataupun memberi kesan teror–semua monster ciptaannya terasa seperti karya artistik yang layak untuk dipamerkan. 

Ciptaan Del Toro yang akhir-akhir ini menyita perhatian masa dunia adalah Frankenstein.  Diadaptasi dari kisah Mary Shelley—ia membingkainya ulang sebagai pengalaman visual yang berdetak pelan, seperti detak jantung di balik kanvas tua. Adegan demi adegan diramu dan disajikan lebih dari sekadar bercerita. Del Toro dengan sadar ingin kita bisa merasakan dan merenungkan dunia kecil miliknya melewati mata kita. Seperti berjalan dari satu ruang ke ruang lain di sebuah museum gelap–dimana setiap lukisan tiba-tiba muncul dan bernapas melalui warna, guratan, serta teksturnya, film Frankenstein bergerak bukan seperti narasi lurus. Film ini berhasil menciptakan ruang dan waktunya sendiri–menandakan kehadiran dimensi lain yang lahir dari kecakapan visual era renaisans dengan menggandeng karya-karya bersejarah sebagai kiblat adegannya. 

Jelajah karya ini dimulai dari adegan kelahiran makhluk yang disebut sebagai Frankenstein–ditujukan menjadi pusat kekaguman–Del toro memilih untuk tidak menjadikannya atraksi horor semata, melainkan ritual sunyi yang rasanya hampir religius. Di sinilah The Creation of Adam karya Michelangelo menjadi nyawa estetika dari adegan ini. Del Toro meminjam komposisi ikonik Michelangelo, namun ia membalik maknanya. Jika dalam lukisan Renaissance tersebut Tuhan memberi kehidupan dengan ketenangan ilahi, maka dalam Frankenstein, sentuhan itu terasa berat, ragu, bahkan mungkin berdosa. Cahaya yang jatuh ke tubuhnya bukan cahaya surga, melainkan lampu laboratorium yang dingin. Inilah momen ketika seni klasik bertabrakan dengan tragedi manusia modern. Menandakan hal yang terlahir dari keobsesian, bukan cinta tak bersyarat. Dari adegan ini Del Toro seperti mengisyaratkan bahwa ini bukan permulaan dari akhir yang bahagia. 

Dilanjutkan dengan meminjam komposisi The Incredulity of Saint Thomas karya Gerard van Honthorst, disini Del Toro ingin bercerita tentang keraguan yang lahir setelah adanya penciptaan. Di adegan ini Frankenstein diraba, diperiksa, dan diamati—bukan sebagai makhluk hidup, tetapi sebagai bukti. Seperti Santo Thomas yang harus menyentuh luka untuk percaya akan kebangkitan, manusia di sekitar makhluk ini perlu meraba jahitan, bekas luka, dan kulit asingnya untuk meyakini bahwa ia benar-benar hidup. Namun yang paling menyakitkan bukanlah rabaan penuh ragu itu sendiri, melainkan ekspresi Frankenstein. Tidak ada perlawanan atau kemarahan. Hanya kepasrahan. Ia menjadi objek dari keingintahuan, bukan subjek dari kehidupan. Pada titik ini, Del Toro seolah berkata “ketika manusia berhenti percaya pada keajaiban, mereka mulai meragukan dan membedahnya”.

Masuk ke adegan dimana laboratorium tempat Frankenstein diciptakan tersorot.Tempat yang menjadi saksi kebangkitan Frankenstein ini justru tidak terasa hidup sama sekali. Tidak seperti laboratorium sains lainnya, set di adegan ini dihiasi dengan tengkorak, botol kaca, alat medis berkarat, bunga layu, jam, dan cahaya kekuningan yang memberikan kesan usang. Tentunya Del Toro tidak terlewat untuk menyisipkan konsep “Altar Vanitas. Semua hal yang ada di adegan ini merujuk langsung pada tradisi lukisan Vanitas abad ke-17, khususnya karya Simon Renard de Saint-André. Seperti mata yang sadar akan konsep laju waktu, gerakan kamera di adegan ini dibuat lambat sambil menyoroti altar vanitas–mengisyaratkan bahwa esensi dari film bukan tentang mengalahkan kematian, tetapi tentang ketakutan manusia terhadap kefanaan.

Lanjut ke salah satu momen paling sunyi sekaligus paling filosofis adalah ketika Frankenstein berada sendirian di alam, memegang tengkorak. Disini referensi pada Hamlet and Yorick’s Skull karya F. Wenworth–tidak hanya kuat secara visual, tetapi  menginterpretasikan maknanya. Berbeda dengan Hamlet yang merenungkan kematian orang lain, Frankenstein merenungkan kematian yang kelak akan menjadi miliknya—atau mungkin, kematian yang tak pernah bisa ia capai. Ia bukan manusia, tetapi ia memiliki kesadaran manusiawi. Ia sadar bawah ia adalah entitas yang berdiri diantara keabadiaan dan kefanaan. Del Toro ingin memaknai bahwa disini alam tidak menolakmya tetapi juga tidak merangkulnya, satu-satunya cerminan eksistensinya adalah tengkorak yang ia pegang saat itu.

Dalam film ini kita juga menandai kehadiran Medusa karya Caravaggio, Del Toro menggunakan referensi ini untuk membingkai bagaimana dunia memandang makhluk Frankenstein. Terekam dalam adegan ketika wajah Frankenstein menjadi pusat pandangan–orang-orang terdiam, ketakutan, membeku. Terintimidasi oleh kehadirannya yang menurut mereka sudah cukup mengganggu keseimbangan. Seperti Medusa, makhluk ini tidak perlu berbuat apa-apa untuk menjadi ancaman. Bukan Del Toro jika tidak bermain dengan makna–ia membalik perspektif Caravaggio. Jika Medusa adalah monster yang dihukum, maka Frankenstein adalah makhluk yang tidak pernah diberi pilihan. Tema Horror di sini bukan berasal dari wajahnya, tetapi dari cara dunia bereaksi terhadapnya.

Karya terakhir yang tidak terlewat untuk Del Toro selipkan adalah Las Meninas karya Diego Velázquez. Referensinya terasa kuat pada cara Del Toro membangun ruang dan sudut pandang dalam film ini–refleksi di cermin dan penempatan karakter di latar belakang–semua adegan disusun dengan lapisan visual yang memuaskan untuk dipandang. 

Film Frankenstein karya Guillermo Del Toro ini bukan hanya sekadar alur cerita, melainkan pengalaman visual yang terus menguak makna disetiap babaknya. Dengan menjahit karya-karya seni historikal ke dalam struktur visual film, Del Toro tidak sekadar memberi penghormatan—ia menghidupkan kembali dialog antara masa lalu dan masa kini. Ia menjadikan sinema sebagai bahasa yang mampu berbicara dengan seni rupa & emosi manusia secara bersamaan. Frankenstein menjadi bukti bahwa horor tidak selalu tentang teror dan ketakutan, tetapi juga keindahan yang terlalu jujur, mungkin juga obsesi akan penciptaan tanpa tahu cara mencintai hasilnya.

Sumber foto: Facebook/@Art-holic