Pameran dan Museum Interaktif: Sebuah Inovasi di Era Modern Sekarang?

 Foto: X – @designboom 

Aktivitas manusia yang sehari-hari memiliki jadwal padat sekaligus tenggat suatu kerjaan numpuk, tentu pernah berada pada posisi jenuh dan kalau kata Gen Z “Aduh, kena mental health gue.” Perasaan itu terjadi akibat perputaran aktivitas yang tidak pernah berhenti atau tidak ada suatu gerakan untuk mengubah arus perputaran itu, mungkin maksud perumpamaan ini adalah suatu hal apapun dapat menarik dan unik apabila ada kebaruan dalam hal tersebut.

Dunia sastra dan seni juga pasti pernah dalam posisi tersebut, jika bisa dikatakan “Ah, alur buku ini udah sering muncul.” Atau “Bosen ah, museum hanya lihat-lihat seperti itu saja.” Dalam sastra, karya-karya seperti puisi, novel, dan lainya, contoh sebuah puisi, beberapa orang penikmatnya mungkin sudah bosan dengan diksi indah yang umum. Kondisi ini bisa menjadi sebuah ide unik untuk diterapkan seperti diksi yang sederhana, penulisan unik, dan mengadaptasi suatu puisi ke film pendek (Sinematisasi puisi). Penerapan adaptasi juga menjadi pilihan inovasi pada sastra, sebut kisah Ramayana yang bisa di animasikan, kemudian menjadi tontonan edukasi. Dalam sebuah novel dapat diberikan inovasi juga, tidak hanya sebuah tema umum romansa anak SMA, tetapi pengembangan tema pada suatu isu dan alur sekaligus pembawaan unik dari novel itu.

Sastra mungkin dapat meluas jika dikaji lebih jauh lagi, karena sastra suatu yang universal dalam kreativitas dan perasaan. Tidak kalah dari sastra, dunia seni juga terjadi yang memang penuh dinamika, jika merujuk pada seni, hal yang terbesit maksud banyak orang adalah “pameran” Seperti pameran buku, patung, foto, dan lainnya juga bisa menjadi rujukan kata tersebut.

Dalam dunia seni, ruang pameran memainkan peran penting sebagai tempat dimana karya seni dihadirkan untuk dinikmati oleh masyarakat. Pameran seni tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga merupakan arena dimana perdebatan tentang makna, relevansi, dan konteks sosial budaya dari karya seni tersebut berlangsung (Setyo). Dalam  tradisi pameran  seni,  ruang  pameran  biasanya  mengacu  pada  galeri  atau  museum  yang dirancang  untuk  menampilkan  karya  seni  dalam  ruang  fisik  tertentu.  Model  tradisional  ini sangat bergantung pada objek fisik yang dilihat secara langsung oleh pengunjung (Setyo), seperti FAB Paris, La Biennale Paris, dan Art Dubai.

Foto: labiennale.org

Era modern dan globalisasi saat ini, pameran tidak hanya berfungsi sebagai tempat apresiasi karya saja, tetapi menjadi sebuah ruang untuk bisa berinteraksi langsung sekaligus memahami konteks dari karya tersebut. Dapat disebutkan ini menjadi sebuah inovasi terhadap pameran dengan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat menjadi sebuah keuntungan. Beberapa pameran sekarang sudah menerapkan inovasi di dalamnya terutama lapisan teknologi dan mengajak interaktif pengunjung, beberapa dapat disebutkan seperti berikut.

1. Omega Mart. Las Vegas, Amerika Serikat

Foto: area15.com 

Omega Mart merupakan ruang pameran imersif dari Meow Wolf yang mengangkat konsep seperti industrial swalayan fiktif, produk aneh, dan lorong rahasia. Pameran ini menampilkan karya-karya seni interaktif dari 325 seniman dan kolaborator yang dikumpulkan selama tiga tahun, seperti Brian Eno, Amon Tobin, dan Beach House.

2. Super Blue. Miami, Amerika Serikat

Foto: superblue.com 

Menampilkan instalasi digital tentang lingkungan dengan seni biometrik, instalasi cahaya suara, dan labirin cermin. Dari seniman Es Devlin, James Turrell, TeamLab, Rafael Lozano Hemmer, Studio Lemercier, dan Jr.

3. Wisdome LA. Los Angeles, Amerika Serikat

Foto: tripadvisor.co.id 

Wisdome LA menampilkan pameran seni visual Samskara. Dibuat oleh seniman digital Android Jones, pameran ini menampilkan 70 karya dalam sembilan format berbeda, mulai dari kanvas digital, patung dinamis, hingga pertunjukan langsung.

Pameran terkenal di berbagai tempat menjadi bukti bahwa inovasi dalam pameran seni menjadi tempat yang unik sekaligus menarik. Pameran imersif dan interaktif membantu para pengunjung bahwa pameran tidak hanya soal melihat dan memandang saja, pengalaman baru dari banyaknya seniman dalam menghadirkan karya tidak hanya untuk dipandang, tetapi narasi, interaksi, dan makna dapat bisa disampaikan secara asyik.

Pameran seni memang menjadi wadah untuk berbagai karya, interaktif yang disajikan menjadi pembaruan pada dunia seni. Kehadiran itu berakibat pada efek domino menuju tempat lain yaitu museum, museum sebagai  tempat  khusus  berisi  kekayaan  seni,  budaya,  dan  sejarah, memiliki  makna  yang  lebih  dari sekadar  memperkuat  hubungan  individu  dengan  dunia nyata. Museum memberikan banyak gairah yang bernilai, sejarah menjadi garis bawah pertama jika gairah sebagai ruang khusus bagi setiap individu untuk melihat dunia dengan kreativitas, persepsi, dan kisah.

Museum pada hakikatnya menjadi tempat untuk melihat kembali sejarah yang mungkin tidak terulang pada hari ini. Berbagai benda-benda, cerita, tulisan yang terpampang lewat lapisan kaca tebal menjadi bukti ada kehidupan awal dan memiliki makna. Fungsi utama lainnya adalah untuk memberikan edukasi ke berbagai kalangan tentang warisan dan media pikiran atas kejadian lampau, nyawa museum terletak melalui narasi, makna, dan sejarah dalam bendanya. Banyak yang mengira bahwa museum merupakan tempat kuno dingin dan bosan, tetapi ada sebuah tren di masa ini, selain sebagai tempat yang tadi “membosankan” Bertransformasi menjadi tempat menarik dan unik.

Persoalan transformasi menjadi highlight dari inovasi era modern sekarang. Pengalaman imersif dan interaksi secara langsung menjadi hal paling gencar yang dilakukan banyak oleh museum untuk mendapatkan pengalaman dan rasa secara langsung, beberapa museum berikut telah menyajikan inovasi baru seperti tadi.

4. Museum Nasional. Jakarta, Indonesia

Foto: museumnasional.or.id 

Museum Nasional sekarang menghadirkan ruang ImersifA, sebuah inovasi yang menggabungkan seni, teknologi, dan cerita kebudayaan sekaligus sejarah Indonesia. 

5. TeamLab Forest. Fukuoka, Jepang

Foto: teamlab.art

TeamLab Forest adalah jenis museum baru yang diciptakan oleh kolektif seni teamLab, terdiri dari Hutan Menangkap dan Mengumpulkan serta Rutan Atletik. Ruang atletik adalah kreatif baru yang melatih kesadaran spasial berdasarkan konsep memahami dunia melalui tubuh dan memikirkan dunia secara tiga dimensi.

6. Museum Louvre. Paris, Prancis

Foto: louvre.fr

Museum Louvre telah mengintegrasikan teknologi digital canggih dan platform yang menarik untuk mengubah cara pengunjung, baik di lokasi maupun global, menikmati koleksinya yang tak tertandingi, menjadikan seni dan sejarah lebih mudah diakses, dipahami, dan lebih personal daripada sebelumnya.

Pameran dan museum interaktif dalam era modern saat ini merupakan inovasi yang luar biasa terhadap seni dan sejarah. Penggabungan teknologi dan benda-benda pajangan merupakan suatu transformasi dalam edukasi maupun estetika, penyelimutan modernisasi tidak menghilangkan esensi dari pameran yang mengedepankan estetika dan ruang penceritaan masa lalu dari museum, jika pertanyaan apakah ini merupakan inovasi era modern? Sudah pasti iya bahkan merupakan suatu kolaborasi.