Thailand Biennale Phuket 2025 menghadirkan pendekatan berbeda. Alih-alih berfokus pada citra Phuket sebagai salah satu destinasi wisata dan menonjolkan landmark yang instagramable serta keindahan eksotis semata, Thailand Biennale kali ini mengajak pengunjung melihat sisi lain Phuket—sejarah, realitas sosial, dan dampak pariwisata terhadap lingkungan serta masyarakat lokal.
Mengusung tema Kalpa, yang merujuk pada konsep waktu tanpa batas, pameran ini menjadi ruang refleksi tentang perubahan, ingatan, dan siklus kehidupan. Karya-karya dipamerkan di berbagai lokasi, termasuk bangunan industri lama dan kawasan kota tua, memperkuat hubungan antara seni, ruang, dan sejarah lokal.

Speedy Grandma, Pickled Thoughts in Brine: Come Be a Tourist in My Sea (2025). Exhibition view: Thailand Biennale: Eternal [Kalpa], Phuket (2025). Courtesy the artist and Thailand Biennale. Photo: Widewalker.

Nathalie Muchamad, The Throne and the Crown (2025). Exhibition view: Thailand Biennale: Eternal [Kalpa], Phuket (2025). Courtesy the artist and Thailand Biennale. Photo: Ringo Cheung.
Biennale mengusung tata letak terdesentralisasi dengan 20 lokasi utama dan 13 paviliun independen yang tersebar dari kota tua Phuket hingga distrik Kathu. Lokasi-lokasi tersebut terhubung melalui jalur yang melewati bekas kawasan industri, menegaskan hubungan antara seni, ruang, dan sejarah ekonomi Phuket. Berbagai bangunan yang telah lama kosong dihidupkan kembali untuk menekankan narasi pameran mengenai refleksi kenangan dalam emosi manusia yang bertumbuh dalam ruang dan waktu.

Mochu and Merve Ertufan, Philosophical Magnets: acknowledging declination 0° 26’ (2025–). Exhibition view: Thailand Biennale: Eternal [Kalpa], Phuket (2025). Courtesy the artist and Thailand Biennale. Photo: Widewalker.
Beragam karya dari berbagai seniman Asia dan internasional dalam pameran ini menggabungkan pop culture atau pengalaman lintas budaya untuk menunjukkan pengaruh media dan imaji dalam memaknai sebuah pengalaman. Seniman-seniman ini menghadirkan karya yang membongkar narasi turistik, membahas isu seperti eksploitasi, identitas, hingga bagaimana citra populer ikut andil dalam membentuk cara manusia memandang suatu tempat dan esensinya dalam kehidupan.
Salah satu hal paling menarik dari Thailand Biennale ini adalah diangkatnya tema dark tourism, dimana dua lokasi utama Biennale secara gamblang mengungkap fakta di balik industri seks. Salah satunya diletakkan di venue utama, Pearl Theater. Lokasi ini pertama kali pada tahun 1971, tepat ketika Perang Vietnam mulai menempatkan kerajaan ini di peta pariwisata global. Terletak di dalam kompleks yang sejak lama menjadi pusat area hiburan dewasa, gedung yang sudah lama terbengkalai ini, hingga akhirnya dihidupkan kembali oleh Biennale.
Seniman Prancis Pauline Curnier Jardin turut menghadirkan instalasi seni. Ia menampilkan bendera-bendera buatan tangan dan rangkaian bunga yang diselingi catatan tulisan tangan yang dibangun melalui kolaborasi dengan kelompok advokasi hak pekerja seks. Selanjutnya, pameran membawa pengunjung turun ke lanskap abstrak karya seniman performans Indonesia, Melati Suryodarmo, di mana ruang itu sendiri berubah menjadi panggung baginya.

Melati Suryodarmo, ANCESCAPE (2025). Exhibition view: Thailand Biennale: Eternal [Kalpa], Phuket (2025). Courtesy the artist and Thailand Biennale. Photo: Ringo Cheung.
Pembahasan tentang isu ini mencapai titik penting melalui karya Pearl Boy Operating Theater (2025). Dalam karya tersebut, seniman dan performer Thailand Oat Montien menggabungkan elemen pertunjukan klub malam dengan kursi medis yang merujuk pada prosedur faloplasti. Karya ini disertai video musik provokatif yang berangkat dari pengamatannya terhadap gemerlap kehidupan malam Phuket, yang menurutnya banyak dibentuk oleh pengaruh asing dan pariwisata.

Oat Montien, Pearl Boy Operating Theater (2025). Exhibition view: Thailand Biennale: Eternal [Kalpa], Phuket (2025). Courtesy the artist and Thailand Biennale. Photo: Ringo Cheung.

Oat Montien, Pearl Boy (2025) (still). Single-channel video, stereo, colour, 10:44 minutes. Commissioned by Thailand Biennale, Phuket 2025. Courtesy the artist and Thailand Biennale.
Thailand Biennale tidak hadir sebagai tontonan spektakuler semata, melainkan sebagai pengalaman yang mendorong pengunjung untuk berpikir ulang tentang pariwisata, konsumsi, dan makna sebuah destinasi.
Foto-foto: ocula.com

