Perjumpaan mahakarya lintas zaman dalam salah satu pameran seni paling prestisius di dunia

Edisi ke-39 TEFAF Maastricht kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pameran seni dan barang antik paling bergengsi di dunia. Diselenggarakan pada 14–19 Maret 2026 di MECC Maastricht, Belanda, ajang ini menghadirkan sekitar 277 dealer dari 24 negara—menampilkan spektrum sejarah seni yang membentang lebih dari 7.000 tahun, mulai dari karya Old Masters hingga seni modern dan desain kontemporer.
Didirikan pada 1988, TEFAF (The European Fine Art Fair) dikenal bukan hanya karena kualitas karya yang ditampilkan, tetapi juga karena standar kuratorial dan proses vetting yang sangat ketat. Setiap objek yang dipamerkan harus melalui seleksi mendalam oleh para ahli lintas disiplin—mulai dari sejarah seni, konservasi, hingga autentikasi material. Di tengah pasar seni global yang semakin kompleks, pendekatan ini menjadikan TEFAF sebagai tolok ukur kualitas, kelangkaan, dan kredibilitas.
Tahun ini, sejumlah karya berhasil mencuri perhatian, baik karena nilai historis, keunikan medium, maupun harga fantastis yang ditawarkan. Berikut lima karya yang menjadi sorotan utama di TEFAF Maastricht 2026.
Dua Wajah Cahaya dalam Karya Claude Monet
L’église de Vernon, temps gris & Église de Vernon, Soleil (1894)

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 130 tahun, dua lukisan gereja di Vernon karya Claude Monet ini dipertemukan kembali. Dilukis pada 1894—periode matang dalam praktik Impresionisme Monet—keduanya merupakan bagian dari seri kecil yang hanya terdiri dari tujuh karya.
Dalam kedua lukisan ini, Monet mengeksplorasi transformasi cahaya terhadap arsitektur Gotik yang sama. Temps gris menghadirkan suasana kelabu dengan nuansa dingin dan atmosferik, sementara Soleil memancarkan kehangatan melalui cahaya matahari yang menyinari fasad batu. Ketika ditampilkan berdampingan, keduanya menjadi studi visual tentang persepsi, waktu, dan perubahan alam.
Tak mengherankan jika pasangan karya ini ditaksir mencapai USD 26,83 juta (sekitar Rp 454 miliar), menjadikannya salah satu highlight paling banyak diperbincangkan di TEFAF tahun ini.
Intimitas Emosional dalam Lukisan Berthe Morisot
Jeune fille au chien (1892)

Sebagai salah satu figur sentral dalam gerakan Impresionisme, Berthe Morisot sering kali berada di bawah bayang-bayang rekan-rekan prianya seperti Edgar Degas dan Pierre-Auguste Renoir. Namun, karya Jeune fille au chien menegaskan kembali kekuatan perspektif personal dalam praktik artistiknya.
Dilukis menjelang akhir hayatnya, karya ini memancarkan keintiman yang khas: sosok perempuan muda bersama seekor anjing dalam suasana domestik yang tenang. Di balik kesederhanaannya, terdapat lapisan emosional yang dalam—terkait dengan masa berkabung Morisot setelah kehilangan suaminya.
Dengan sapuan kuas yang spontan dan sensitif terhadap cahaya, Morisot mengubah momen sehari-hari menjadi refleksi psikologis yang subtil. Lukisan ini ditaksir bernilai USD 4,45 juta (sekitar Rp 75 miliar).
Eksplorasi Material oleh Henry Moore
Figure (1932)

Dalam praktik seni patung modern, Henry Moore dikenal luas melalui eksplorasi bentuk organik dalam medium batu dan perunggu. Namun, karya berbahan kayu seperti Figure (1932) tergolong sangat langka dalam oeuvre-nya.
Patung kecil ini menampilkan figur manusia yang direduksi menjadi bentuk-bentuk biomorfik yang mengalir. Moore memanfaatkan serat alami kayu beech, membiarkan tekstur material menjadi bagian integral dari komposisi visual. Tubuh dan anggota badan menyatu dalam volume yang lembut, menciptakan kesan simultan antara kekuatan dan kehangatan.
Karya ini ditawarkan dengan harga antara USD 1,09 juta hingga USD 1,16 juta (sekitar Rp 18–19 miliar), mencerminkan kelangkaan sekaligus signifikansi historisnya dalam perkembangan seni patung modern.
Abstraksi Cair dari Helen Frankenthaler
Spring Run I (1996)

Di tengah dominasi karya klasik, stan Lyndsey Ingram menghadirkan energi berbeda melalui karya Ekspresionisme Abstrak. Spring Run I karya Helen Frankenthaler menjadi pusat perhatian berkat pendekatan visualnya yang cair dan atmosferik.
Sebagai pelopor teknik soak-stain, Frankenthaler menciptakan lapisan warna transparan yang tampak mengalir bebas di atas permukaan. Dalam karya ini, nuansa biru, hijau, dan warna tanah menyebar seperti lanskap emosional—tanpa batas tegas, namun tetap memiliki ritme internal yang kuat.
Menariknya, karya ini merupakan monoprint—hasil dari proses eksperimental yang menjadikannya unik, bukan bagian dari edisi. Dengan harga sekitar USD 182.000 (sekitar Rp 3 miliar), karya ini menjadi representasi penting dari inovasi teknik cetak dalam seni abad ke-20.
Desain sebagai Ekstensi Arsitektur oleh Zaha Hadid
Double Seat Bench “UltraStellar” (2016)

TEFAF tidak hanya menampilkan lukisan dan patung, tetapi juga desain kontemporer yang melintasi batas disiplin. Salah satu yang menonjol adalah bangku UltraStellar karya Zaha Hadid.
Sebagai arsitek visioner, Hadid kerap memperluas praktiknya ke ranah desain objek. Bangku ini menampilkan bentuk dinamis yang mengalir ke dua arah, menyerupai kurva organik yang menjadi ciri khas arsitekturnya.
Objek ini bukan sekadar furnitur, melainkan eksplorasi spasial dalam skala kecil—menghadirkan pengalaman visual yang futuristik sekaligus fungsional. Ditawarkan dengan harga USD 116.000 (sekitar Rp 1,9 miliar), karya ini menjadi bukti bahwa desain juga memiliki posisi penting dalam ekosistem seni kontemporer.
Foto-foto: TEFAF, artsy.net, artvee, & Instagram

