Museum MACAN secara resmi mengumumkan lima perupa Indonesia sebagai finalis Max Mara Art Prize for Women. Ini merupakan edisi pertama penghargaan tersebut digelar di Indonesia. Nama-nama yang terpilih antara lain adalah Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, Mira Rizki, dan Dian Suci. Bukan hanya mewakili generasi atau medium tertentu, tetapi juga memperlihatkan spektrum praktek seni Indonesia yang luas dan berlapis. Pengumuman ini bukan hanya kabar institusional. Ia menjadi penanda bahwa praktek seni yang selama ini tumbuh dalam konteks lokal kini semakin mendapatkan tempat dalam percakapan global.

Di antara lima nama itu, Betty Adii membawa jejak yang kuat dari Papua. Ia bukan lulusan institusi seni formal, melainkan tumbuh sebagai seniman otodidak—sebuah proses yang membentuk kepekaan visual sekaligus keberanian dalam bertutur. Melalui gambar, lukisan, dan instalasi, Betty merangkai cerita tentang perempuan Papua, khususnya perjuangan, berdiri sebagai ilustrasi, tetapi sebagai narasi yang puitis sekaligus tajam. Ia memadukan elemen tradisi dengan pendekatan kontemporer, menciptakan ruang di mana pengalaman personal bertemu dengan sejarah kolektif. Dalam konteks ini, keterpilihannya sebagai finalis terasa seperti pengakuan terhadap suara yang selama ini jarang mendapat panggung luas.

Beralih ke Bandung, Dzikra Afifah bekerja dengan medium yang terlihat sederhana—tanah liat. Namun dalam tangannya, keramik menjadi ruang eksperimen yang kompleks. Ia menggunakan metode yang tidak biasa,membentuk massa padat, lalu mengosongkannya dari dalam. Proses ini membuat bentuk karyanya berubah secara organik, bahkan tak terduga saat pembakaran. Ada relasi yang kuat antara tubuh dan material dalam praktiknya. Proses menguleni, memahat, dan menggeser tanah liat menjadi bagian penting dari karya itu sendiri. Di sini, seni tidak hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang proses yang penuh negosiasi—antara kontrol dan ketidakpastian. Karya Dzikra memperlihatkan bahwa medium tradisional masih dapat berbicara dengan bahasa yang sangat kontemporer. Dan mungkin, justru di situlah kekuatannya.

Sementara itu, Ipeh Nur membangun praktiknya dari ingatan—baik yang personal maupun yang diwariskan melalui cerita. Berbasis di Yogyakarta, ia bekerja melalui berbagai medium: gambar, lukisan, batik, keramik, hingga instalasi. Namun benang merahnya tetap sama: eksplorasi tentang memori, mitologi, dan tradisi lisan. Dalam beberapa tahun terakhir, Ipeh banyak menelusuri budaya maritim Nusantara. Laut, dalam karyanya, bukan hanya lanskap, tetapi ruang yang menyimpan cerita—tentang perjalanan, kehilangan, dan hubungan manusia dengan alam. Material yang ia gunakan tidak pernah netral. Ia menjadi perpanjangan tubuh, sekaligus medium untuk menghidupkan kembali cerita-cerita lama. Menjadi finalis dalam ajang ini menunjukkan bagaimana praktik yang berakar pada tradisi dapat tetap relevan dalam percakapan seni global.

Berbeda dari yang lain, Mira Rizki bekerja dengan sesuatu yang tidak selalu terlihat: suara. Sebagai seniman multidisipliner, ia mengeksplorasi bagaimana manusia mendengar—dan bagaimana pengalaman itu dibentuk oleh memori, ruang, dan konteks. Melalui instalasi interaktif dan komposisi soundscape, Mira menciptakan pengalaman yang imersif. Penonton tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar, bahkan merasakan ruang secara berbeda. Karyanya mengingatkan bahwa persepsi tidak pernah tunggal. Apa yang kita dengar bisa berbeda, tergantung siapa kita dan di mana kita berada. Dalam dunia yang semakin visual, pendekatan Mira terasa penting—sebuah pengingat bahwa seni juga bisa hadir melalui gelombang yang tak kasat mata.

Nama terakhir, Dian Suci, membawa kita ke ruang yang paling dekat–rumah. Berbasis di Yogyakarta, ia mengangkat pengalaman personalnya sebagai ibu tunggal dan menerjemahkannya ke dalam karya yang membahas relasi antara domestik dan kekuasaan. Melalui instalasi, lukisan, patung, dan video, Dian membedah isu patriarki, otoritarianisme, hingga kapitalisme—semuanya berangkat dari pengalaman sehari-hari. Rumah, dalam karyanya, bukan tempat yang netral. Ia menjadi ruang di mana struktur sosial bekerja, sering kali tanpa disadari. Pendekatannya terasa intim, namun justru karena itu menjadi politis. Ia memperlihatkan bahwa pengalaman pribadi tidak pernah benar-benar terpisah dari sistem yang lebih besar.
Max Mara Art Prize for Women dikenal sebagai penghargaan dua tahunan yang memberikan kesempatan bagi seniman perempuan untuk mengikuti residensi di Italia, yang kemudian diakhiri dengan pameran di institusi seni terkemuka. Dalam konteks Indonesia, kehadiran program ini membuka kemungkinan baru. Ia bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang proses—tentang bagaimana seniman dapat mengembangkan praktik mereka dalam lingkungan yang berbeda.
Kelima finalis ini akan melalui tahap seleksi berikutnya sebelum satu nama dipilih sebagai pemenang. Namun bahkan sebelum itu, posisi mereka sebagai finalis sudah menjadi capaian penting. Jika dilihat bersama, kelima perupa ini seperti mewakili lima arah yang berbeda dalam seni kontemporer Indonesia. Mereka tidak datang dari jalur yang sama. Tidak menggunakan medium yang sama. Bahkan mungkin tidak berbicara tentang hal yang sama. Namun justru di situlah kekuatannya.
Mereka menunjukkan bahwa seni Indonesia itu beragam, kompleks, dan terus berkembang. Pada akhirnya, penghargaan ini memang akan memilih satu pemenang. Namun cerita yang lebih besar sebenarnya sudah dimulai sejak lima nama ini diumumkan. Mereka tidak hanya mewakili diri sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi seni indonesia di kancah global. Dan mungkin, yang paling penting, mereka mengingatkan bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir. Ia adalah proses—tentang mencari, merespons, dan terus bergerak.
Foto-foto: museummacan.org

