Dari Bandung ke Times Square: Bagaimana Tromarama Membawa Kegelisahan Era Digital ke Mata Dunia

Sumber gambar: https://www.publika.id

Kolektif seni asal Bandung, Tromarama, kembali menorehkan pencapaian penting di panggung internasional. Sepanjang Juli 2026, karya video mereka berjudul Turn On #2 tampil dalam program Midnight Moment, sebuah program seni publik yang mengubah hampir 100 layar digital di kawasan Times Square, New York, menjadi ruang pamer terbuka setiap malam selama tiga menit. Program ini dikenal sebagai salah satu platform seni digital terbesar di dunia dan telah menjadi panggung bagi banyak seniman kontemporer lintas negara. Kehadiran Tromarama menjadikan mereka sebagai salah satu nama dari Indonesia yang membawa praktik seni media ke ruang publik paling ikonik di Amerika Serikat.

Pencapaian ini terasa istimewa bukan hanya karena lokasinya berada di Times Square. Yang lebih menarik adalah bagaimana karya yang ditampilkan tetap mempertahankan bahasa visual khas Tromarama—tenang, sederhana, tetapi menyimpan banyak pertanyaan tentang kehidupan digital yang kita jalani setiap hari. Tromarama berdiri pada 2006 dan digagas oleh tiga seniman, yaitu Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena. Ketiganya merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pertama kali bertemu ketika mengikuti workshop pembuatan video musik. Dari proyek kecil tersebut, mereka menemukan ketertarikan yang sama terhadap medium video, animasi, dan teknologi sebagai bahasa untuk bercerita. 

Meski bekerja sebagai kolektif, masing-masing anggota membawa latar belakang yang saling melengkapi. Febie Babyrose dikenal banyak mengeksplorasi pendekatan visual dan narasi dalam karya video. Herbert Hans memiliki perhatian besar pada eksperimen medium digital dan instalasi, sementara Ruddy Hatumena banyak berperan dalam pengembangan konsep visual yang menghubungkan teknologi dengan pengalaman sehari-hari. Selama hampir dua dekade, mereka tidak pernah terpaku pada satu medium. Video art, stop-motion animation, instalasi, hingga pemrograman komputer menjadi bagian dari praktik artistik Tromarama. Namun, benang merahnya selalu sama–membahas bagaimana teknologi perlahan mengubah cara manusia melihat, mengingat, dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Jika mendengar deskripsi karya Turn On #2, mungkin banyak orang akan bertanya, “Apa menariknya melihat kipas angin?” Justru di situlah letak kekuatan Tromarama.

Dalam video tersebut, kipas angin tampil sebagai objek utama yang tampak menggerakkan berbagai potongan gambar dari kehidupan sehari-hari. Pada awalnya hubungan sebab-akibat terlihat jelas. Kipas menyala, gambar bergerak. Namun semakin lama video berjalan, logika itu mulai bergeser. Penonton dibuat mempertanyakan apakah kipas benar-benar mengendalikan gambar, atau justru gambar yang sedang membentuk persepsi kita tentang kipas itu sendiri.

Karya ini dipresentasikan sebagai sebuah loop tanpa awal maupun akhir. Karena diputar terus-menerus di hampir seratus billboard Times Square, penonton dapat masuk ke dalam narasi dari titik mana pun. Tidak ada cerita linear yang harus diikuti, tetapi ada pengalaman visual yang perlahan membangun rasa asing terhadap benda-benda yang sebenarnya sangat akrab. Pilihan menggunakan kipas angin juga terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Asia. Benda rumah tangga yang biasanya luput dari perhatian berubah menjadi simbol tentang bagaimana teknologi bekerja secara diam-diam dalam kehidupan kita.

Yang menarik dari Tromarama adalah mereka hampir tidak pernah berbicara tentang teknologi dengan cara yang futuristis. Tidak ada robot, dunia virtual yang berlebihan, ataupun visual khas film fiksi ilmiah. Sebaliknya, mereka justru mengambil objek yang kita jumpai setiap hari. Televisi, lampu, layar, suara elektronik, hingga kipas angin menjadi medium untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar.

Dalam Turn On #2, teknologi hadir sebagai sesuatu yang begitu dekat hingga sering kali tidak lagi kita sadari keberadaannya. Karya ini mengajak penonton mempertanyakan bagaimana layar, algoritma, dan arus informasi membentuk ingatan, identitas, bahkan cara kita memahami kenyataan. Pendekatan seperti ini membuat karya Tromarama terasa lebih relevan dibanding karya digital yang terlalu sibuk memamerkan teknologi. Mereka tidak sedang menunjukkan kecanggihan perangkat, melainkan mengajak kita melihat bagaimana teknologi perlahan mengubah kebiasaan sehari-hari tanpa banyak disadari. Salah satu ciri khas Tromarama adalah proses kreatif yang selalu berangkat dari observasi terhadap kehidupan sehari-hari.

Alih-alih mencari isu besar yang terdengar rumit, mereka justru memperhatikan bagaimana manusia berinteraksi dengan benda-benda di sekitarnya. Dari pengamatan tersebut lahirlah komposisi visual yang sederhana, tetapi mampu membuka banyak kemungkinan tafsir. Dalam Turn On #2, hubungan antara gambar, gerak, dan ritme dibangun secara koreografis. Setiap perpindahan visual terasa seperti memiliki pola tertentu, tetapi pola tersebut sengaja dibuat terus bergeser sehingga penonton tidak pernah benar-benar menemukan kepastian. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa proses kreatif Tromarama tidak bertumpu pada cerita yang eksplisit. Mereka lebih tertarik membangun pengalaman visual yang mengundang rasa penasaran dan membiarkan penonton menyusun maknanya sendiri.

Sebelum tampil di Times Square, nama Tromarama sebenarnya sudah lama dikenal di dunia seni internasional. Karya mereka pernah dipamerkan di Mori Art Museum Tokyo, Stedelijk Museum Amsterdam, Liverpool Biennial, Gwangju Biennale, M+ Hong Kong, hingga berbagai institusi seni di Eropa, Amerika, dan Asia. Pada 2026, mereka juga menggelar pameran institusional pertamanya di Amerika Serikat melalui Upon A Machine di The Kitchen, New York. Namun, tampil di Times Square memberikan konteks yang berbeda. Jika biasanya karya video dipresentasikan di ruang galeri yang relatif tenang, kali ini karya mereka hadir di tengah lalu lintas manusia paling sibuk di dunia.

Ribuan orang yang mungkin tidak berniat mengunjungi pameran seni tiba-tiba menjadi penonton. Di titik ini, karya Tromarama tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga bagian dari ritme kota. Jika ada satu hal yang membuat Tromarama tetap relevan setelah hampir dua puluh tahun berkarya, mungkin jawabannya adalah konsistensi. Mereka tidak terus-menerus mengejar teknologi terbaru. Yang mereka kejar justru perubahan perilaku manusia akibat teknologi tersebut. Visi inilah yang terus terlihat dari berbagai proyek mereka. Video, instalasi, maupun karya digital yang mereka hasilkan selalu berbicara tentang hubungan antara ruang fisik dan ruang virtual, tentang bagaimana informasi bergerak, serta bagaimana identitas perlahan dibentuk oleh layar yang kita lihat setiap hari.

Di era ketika hampir semua orang hidup berdampingan dengan algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Tromarama justru terasa semakin dekat. Pencapaian di Times Square akhirnya bukan hanya menjadi kebanggaan karena nama Indonesia tampil di salah satu ruang publik paling terkenal di dunia. Lebih dari itu, pencapaian ini menunjukkan bahwa praktik seni kontemporer dari Bandung mampu masuk ke dalam percakapan global tanpa harus kehilangan identitasnya. Mereka hanya memperlihatkan bahwa di balik layar yang setiap hari kita tatap, selalu ada hubungan baru antara manusia, teknologi, dan cara kita memahami kenyataan.