Christopher Nolan Menghidupkan Karya Goya ke Dalam Mahakarya Terbarunya The Odyssey

Christopher Nolan kembali dengan membuktikan bahwa referensi seni rupa masih memiliki tempat penting di dunia perfilman modern. Dalam proses kreatif The Odyssey, sutradara peraih Oscar tersebut mengungkap bahwa sosok Cyclops Polyphemus tidak hanya lahir dari imajinasi atau teknologi visual, tetapi juga terinspirasi dari salah satu lukisan paling iconic sekaligus paling gore dalam sejarah seni “Saturn Devouring His Son” karya Francisco Goya. Fakta ini menjadi salah satu cerita di balik layar yang paling menarik perhatian, karena memperlihatkan bagaimana sebuah karya seni abad ke-19 masih mampu mempengaruhi visual sinema masa kini.


Bagi Nolan, Cyclops bukan sekadar monster raksasa bermata satu yang harus ditaklukkan Odysseus. Sosok ini harus menghadirkan rasa takut yang lebih manusiawi—bukan hanya karena ukurannya, tetapi juga karena ekspresi, gerak tubuh, dan atmosfer yang dibawanya. Di sinilah karya Goya menjadi titik awal yang penting dalam membangun karakter Polyphemus. Dalam mitologi Yunani, Polyphemus dikenal sebagai Cyclops yang menjebak Odysseus dan para awak kapalnya di dalam sebuah gua. Adegan ketika Odysseus berhasil membutakan mata sang raksasa menjadi salah satu bagian paling terkenal dalam The Odyssey karya Homer. 

Sumber gambar: https://mashable.com/, www.huffingtonpost.co.uk

Namun, Nolan tampaknya tidak ingin menghadirkan Cyclops seperti yang selama ini sering muncul dalam film fantasi. Ia justru mencari sesuatu yang terasa lebih nyata sekaligus lebih mengganggu secara psikologis. Pilihan itu kemudian jatuh pada Saturn Devouring His Son, salah satu karya paling terkenal dari Francisco Goya. Lukisan tersebut memperlihatkan dewa Saturn yang sedang melahap anaknya sendiri dengan tatapan liar dan ekspresi penuh kegilaan. Mata yang membelalak, tubuh yang membungkuk, serta gestur yang brutal menjadi elemen visual yang kemudian diterjemahkan Nolan ke dalam desain Cyclops. Alih-alih membuat monster yang terlihat besar, referensi tersebut menghadirkan sosok yang terasa lebih mengintimidasi. Ketakutan tidak datang dari ukuran tubuhnya saja, tetapi dari ekspresi dan tekstur anatomi tubuh mahluk tersebut.

Sumber gambar via Instagram: cinema.encyclopedia

Salah satu hal yang cukup menarik dari produksi The Odyssey adalah komitmen Nolan terhadap penggunaan efek praktikal. Seperti beberapa film sebelumnya, ia tetap memilih membangun banyak elemen fisik dibanding sepenuhnya bergantung pada CGI. Berbagai laporan di balik layar menyebut proses produksi Cyclops melibatkan pembangunan properti berukuran besar, animatronik, serta make prostetik untuk menciptakan kesan bahwa monster tersebut benar-benar hadir di lokasi syuting. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Nolan yang selama bertahun-tahun lebih percaya pada kehadiran objek nyata di depan kamera. Baginya, interaksi aktor dengan properti fisik mampu menghasilkan respons emosional yang lebih natural dibanding hanya berakting di depan layar hijau. Pilihan tersebut memang membuat proses produksi menjadi jauh lebih rumit. Membangun kepala Cyclops dalam skala raksasa bukan hanya soal ukuran, tetapi juga bagaimana tekstur kulit, bentuk mata, hingga pencahayaan dapat terlihat meyakinkan ketika direkam menggunakan kamera IMAX.

Yang membuat cerita ini menarik bukan hanya soal referensi visualnya, melainkan cara Nolan menerjemahkan lukisan menjadi karakter. Lukisan Goya sebenarnya tidak menggambarkan Cyclops. Bahkan keduanya berasal dari mitologi yang berbeda. Namun Nolan tidak sedang mencari kesamaan cerita, melainkan kesamaan emosi. Tatapan Saturn dalam lukisan Goya memancarkan rasa lapar, paranoia, dan kegilaan dalam waktu bersamaan. Ekspresi seperti inilah yang kemudian digunakan sebagai fondasi untuk membangun karakter Polyphemus. Ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana referensi seni bekerja di dunia perfilman. Sebuah karya tidak selalu dipinjam karena bentuknya, tetapi karena suasana yang mampu dibangunnya. Film kemudian menerjemahkan suasana tersebut ke medium yang berbeda.

Banyak film menggunakan karya seni sebagai dekorasi visual. Lukisan muncul di latar ruangan, menjadi easter egg, lalu selesai sampai di situ. Namun pendekatan Nolan terasa berbeda. Ia menggunakan sejarah seni sebagai bagian dari proses desain karakter. Artinya, karya Goya bukan hanya dikutip agar terlihat artistik, tetapi benar-benar dipelajari untuk membangun atmosfer visual film. Pendekatan seperti ini membuat hubungan antara seni rupa dan sinema terasa lebih hidup. Museum dan galeri bukan lagi ruang yang berdiri sendiri, melainkan menjadi sumber inspirasi yang terus berkembang di industri kreatif. Tidak heran jika banyak sutradara besar menghabiskan waktu melihat arsip lukisan sebelum masuk ke tahap produksi. Sebab kadang, satu ekspresi yang dilukis dua abad lalu justru mampu menjelaskan sesuatu yang belum bisa dicapai teknologi masa kini.

Menariknya, Cyclops versi Nolan justru terasa lebih menyeramkan karena memiliki sisi manusia. Ekspresinya tidak dibuat seperti makhluk fantasi yang sepenuhnya asing. Ada kemarahan, kesedihan, hingga naluri bertahan hidup yang masih bisa dikenali. Hal ini membuat ancamannya terasa lebih dekat. Pendekatan tersebut juga membuat adegan konfrontasi antara Odysseus dan Polyphemus tidak hanya menjadi pertarungan fisik, tetapi juga benturan antara kecerdikan manusia dengan insting liar. Dalam sinema modern, monster yang paling berkesan sering kali bukan yang paling besar, melainkan yang terasa paling nyata. Dan Cyclops tampaknya dibangun dengan prinsip tersebut.

Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah lukisan yang lahir dari kegelisahan seorang seniman akhirnya menemukan kehidupan baru melalui bahasa sinema. Medium boleh berubah, teknologi terus berkembang, tetapi emosi yang ditangkap tetap sama. Tatapan liar yang dulu menghantui kanvas Goya kini kembali hadir dalam sosok Polyphemus, membawa rasa takut kepada generasi penonton yang berbeda.