Kehinde Wiley: Seniman Potret Obama Kini Disingkirkan

Ketika Diplomasi Seni AS Berujung di Meja Lelang

Ada masa ketika sebuah lukisan bisa jadi jembatan diplomasi. Sekarang, di tangan pemerintahan Trump jilid dua, lukisan yang sama justru berakhir sebagai korban perang budaya. Kanvas berjudul Young Artists After Siamesas 1960 karya pelukis kenamaan Kehinde Wiley, yang selama lebih dari satu dekade menghiasi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Santo Domingo, Republik Dominika, kini tengah dipertimbangkan untuk dijual oleh Departemen Luar Negeri AS. Alasannya sederhana sekaligus kontroversial: karya itu dianggap terlalu “woke“.

Dari Dinding Kedutaan ke Bawah Terpal

Lukisan tersebut dipesan pada 2013 oleh program Art in Embassies, inisiatif Departemen Luar Negeri sejak 1963 yang dirancang untuk merajut diplomasi lintas budaya lewat seni. Wiley menghabiskan waktu berkolaborasi dengan mahasiswa dari Facultad de Artes dan Altos de Chavón School of Design di Republik Dominika sebelum menyelesaikan karya yang menampilkan empat model asal negara itu, dua perempuan berdiri dan dua pria duduk, dengan latar belakang motif bunga. Karya ini bahkan terinspirasi dari dua lukisan Dominika: Desnudo Feminine (1940) karya Celeste Woss y Gil dan Siamesas (1960) karya Gilberto Hernández Ortega, sebagaimana diberitakan TIME.

Namun pada 11 Agustus 2026, lukisan itu diturunkan dari dinding kedutaan. Duta Besar AS untuk Republik Dominika, Leah Campos, mengunggah video proses penurunannya di Instagram — lukisan ditutup terpal bergambar bendera Amerika, diiringi lagu metal “We’re Not Gonna Take It” dari Twisted Sister. Dalam keterangannya, Campos menyebut langkah ini sebagai upaya menjauh dari “ideologi globalis dan woke” menuju penegasan patriotisme Amerika, seperti dilaporkan Washington Post dan TIME.

“Aesthetically Terrifying”

Sorotan tajam datang dari Erin Scavino, direktur Art in Embassies sekaligus mantan kontestan acara realitas The Apprentice milik Trump. Dalam wawancara podcast bersama mantan juru bicara Gedung Putih Sean Spicer, Scavino menyebut lukisan Wiley “very woke” dan “aesthetically terrifying” — sebuah pernyataan yang dikutip luas oleh CNN, Artforum, hingga The Art Newspaper.

Menurut laporan Artforum dan TIME, juru bicara Departemen Luar Negeri turut menyeret rekam jejak kontroversial Wiley sebagai alasan tambahan. Mereka merujuk pada karya Wiley tahun 2012, Judith and Holofernes, yang menggambarkan perempuan kulit hitam memegang kepala terpenggal perempuan kulit putih — karya yang pernah digambarkan Wiley sendiri sebagai plesetan dari ungkapan rasis “kill whitey”. Selain itu, gugatan dugaan pelecehan seksual terhadap Wiley pada 2024, yang telah dibantah sang seniman, turut disinggung sebagai alasan mengapa karyanya dianggap “tidak punya tempat” di era diplomasi ala “America First”.

Menuju Lelang?

Yang membuat kasus ini unik bukan sekadar pencopotan karya, melainkan rencana penjualannya. Departemen Luar Negeri, menurut laporan SF Chronicle dan TIME, tengah mengkaji apakah secara hukum lukisan itu bisa dijual — mengingat statusnya dibiayai uang pajak dan belum jelas apakah pemerintah federal benar-benar memegang hak kepemilikan penuh atasnya. Sebagai gambaran nilai pasar Wiley, sebuah lukisannya yang berukuran lebih kecil terjual hampir 845 ribu dolar AS dalam lelang Phillips pada 2024.

Ironisnya, Wiley bukan orang asing bagi program ini. Ia justru dianugerahi Medal of Arts oleh Departemen Luar Negeri pada 2015 atas kontribusinya, sebelum dua tahun kemudian baby art”, hingga perintah eksekutif Trump yang meminta Smithsonian menyingkirkan melejit lewat potret resmi Presiden Barack Obama yang kini tersimpan di Smithsonian National Portrait Gallery.

Bagian dari Pola yang Lebih Besar

Kasus Wiley bukan insiden tunggal. New Republic dan Vanity Fair mencatat langkah ini sejalan dengan perombakan lebih luas terhadap institusi budaya federal AS: mulai dari kurikulum ulang paviliun Amerika di Venice Biennale 2026, klaim Scavino ikut mendesak pensiun dini duta besar AS untuk Rumania gara-gara karya seni yang disebutnya “ideologi yang keliru” dari narasi sejarah Amerika.

Bagi dunia seni, kasus ini menjadi studi kasus tentang bagaimana kanvas bisa berubah jadi medan pertempuran ideologi — dan bagaimana nasib sebuah karya kini ikut ditentukan oleh siapa yang tengah berkuasa di Washington.

Foto-foto: Instagram Kehinde Wiley dan Rafael Diaz Casas