Marina Abramović Membaca Krisis Iklim Lewat Tubuhnya Sendiri

Pameran ini menjadi  catatan lima dekade seorang perempuan yang mempertaruhkan dirinya demi seni.

Di dalam gudang beton yang dulunya menyimpan serpihan kayu di pinggiran Oulu, Finlandia utara, sepuluh lembar cetakan berbahan dasar kulit manusia tergantung berjajar menghadap kegelapan silo. Di ruang sebelahnya, sebuah kepala dari garam pecah di beberapa sisi, memperlihatkan semburat merah muda yang menyerupai warna daging hidup.

Tak jauh dari situ, tumpukan air mata dari kaca berkilau pelan—sebagian untuk kesedihan, sebagian untuk harapan. Di sinilah, di AaltoSiilo, bekas silo industri rancangan arsitek legendaris Alvar Aalto, Marina Abramović menaruh bagian paling personal dari dirinya: tubuhnya sendiri, selama empat hari, 2 hingga 5 September 2026.

Pameran bertajuk Skin, Salt and Tears ini adalah hasil kolaborasi bertahun-tahun antara Abramović, Adam Lowe, dan tim Factum Arte—studio seni asal Madrid yang dikenal lewat kerja rekonstruksi dan konservasi karya seni, melibatkan pula Sol Costales dan Irene Gaumé.

Dikuratori dan diproduksi khusus oleh Factum Arte, pameran ini menjadi bagian dari program Oulu2026 European Capital of Culture, gelar tahunan Uni Eropa untuk kota yang dianggap layak menjadi pusat perhelatan budaya benua itu. Karya-karya di dalamnya menyingkap sisi yang jarang terlihat dari Abramović: bukan lagi tubuh yang menahan sakit di depan publik, melainkan jejak tubuh itu sendiri yang diawetkan sebagai artefak.

Kulit menjadi metafora perlindungan sekaligus kerapuhan manusia di hadapan perubahan iklim, sekaligus menggemakan mitos Marsyas yang kulitnya dikuliti hidup-hidup setelah kalah bertanding melawan Apollo. Garam menautkan karya ini dengan Laut Baltik yang kian payau akibat perubahan lingkungan. Retakan pada kepala garam tersebut justru dirayakan sebagai bagian dari kerapuhan yang ingin ditunjukkan Abramović.

Sementara air mata kaca terbelah dua makna: kesedihan untuk Venesia yang perlahan tenggelam oleh naiknya permukaan laut, dan harapan untuk Oulu, kota yang justru terus naik akibat pengangkatan pascaglasial. Ditambahkan pula seri Electrostatic, cetakan dari jejak debu bermuatan listrik statis yang tertinggal bertahun-tahun di studio Factum—gema tak sengaja dari lukisan Anthropometry milik Yves Klein. Sepanjang pameran, film Seven Deaths of Maria Callas (2020) turut diputar, saat Abramović memerankan ulang tujuh adegan kematian yang pernah dinyanyikan sang diva opera.

Yang menarik dari sosok Abramović bukan sekadar karya-karyanya, melainkan lima dekade perjalanan yang membentuknya. Lahir di Beograd pada 1946, ia muncul dari Yugoslavia era Tito sebelum menembus dunia seni radikal Amsterdam dan Bologna pada 1970-an, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai medium utama eksplorasi rasa sakit, ketahanan, dan kepercayaan.

Karya-karya seperti Rhythm 0 (1974), di mana ia membiarkan penonton memperlakukan tubuhnya dengan 72 objek termasuk pisau dan pistol, atau The Artist Is Present di MoMA (2010)—saat ia duduk diam menatap ribuan pengunjung bergantian selama tiga bulan penuh—menjadikannya rujukan utama seni performans dunia.

Prestasinya pun berderet panjang. Pada 1997, ia menjadi perempuan pertama yang meraih Golden Lion di Venice Biennale. Tahun 2023, ia tercatat sebagai perempuan pertama yang menggelar pameran tunggal di Main Galleries Royal Academy of Arts, London. Dan pada Mei 2026, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80, Abramović kembali mencatat sejarah sebagai perempuan hidup pertama yang mendapat pameran besar di Gallerie dell’Accademia, Venesia, lewat Transforming Energy—berlangsung hingga 19 Oktober 2026, berdampingan dengan mahakarya Renaisans karya Titian dan Tintoretto.

Karyanya telah singgah di panggung-panggung besar dunia: Serpentine Gallery London, Stedelijk Museum Amsterdam, Kunsthaus Zürich, hingga MAM Shanghai. Setelah Oulu, jejaknya berlanjut ke ART VITAL – 12 Years of Ulay/Marina Abramović di Aranya Art Center North, Tiongkok, yang berlangsung 31 Juli 2026 hingga 28 Februari 2027—merayakan dua belas tahun kemitraan artistiknya dengan mendiang Ulay.

Di Oulu, kota yang oleh Abramović sendiri disebut “sedang bergerak ke arah berlawanan” dari Venesia, ia menaruh bagian tubuhnya yang paling rentan sebagai hadiah untuk Laut Baltik. Kulit, garam, dan air mata itu pada akhirnya bukan sekadar objek pameran—melainkan pengingat bahwa tubuh manusia dan bumi yang ia pijak sedang mengalami krisis yang sama.

Foto-foto: Oulu 2026, Marina Abramović Institute, AaltoSiilo, dan Gallerie dell’Accademia.