Dalam dunia kreatifitas, berbagai macam bentuk kreatifitas bisa saling berinteraksi dan saling menemukan titik temu, berujung pada kolaborasi yang menghasilkan suatu karya unik yang dapat dinikmati kalangan luas.
Interaksi yang telah berlangsung sejak lama antara lain adalah antara fashion dan art. Pada tahun 1937 Elsa Schiaparelli dan Salvador Dali berkolaborasi menciptakan sebuah gaun sutra organza yang menampilkan visual Lobster hasil sketsa Salvador Dali.

Sumber Foto : Fashion History
Gaun yang dikenal dengan nama Lobster Dress ini pertama kali dikenakan oleh Duchess of Windsor, Wallis Simpson, yang sangat kontroversial saat itu. Wallis Simpson, seorang sosialita dari Amerika Serikat, menikah dengan Pangeran Edward, Putra Mahkota Kerajaan Inggris yang rela melepaskan gelarnya demi seorang Wallis Simpson. Dalam rancangan gaun tersebut sketsa Dali diletakkan di posisi yang ‘Unconventional’ sedangkan lobster disebut sebagai simbol dari Seksualitas dan Sensualitas. Gaun ini dianggap mewakili gambaran tentang diri Duchess of Windsor saat itu.
Gaun Ikonik lain adalah Mondrian Dress, diciptakan oleh Yves Saint Laurent untuk FALL/WINTER 1965 Haute Couture Collection. Gaun ini terinspirasi dari karya Abstrak Geometrik dalam warna-warna primer, hasil goresan kanvas pelukis Belanda Piet Mondrian.

Sumber foto : Jet-print.ch

Sumber Foto : WSJ
Yves Saint Laurent pertama kali melihat lukisan Mondrian dari Buku Biografi pelukis tersebut yang diberikan oleh ibunya sebagai hadiah Natal. Walaupun tidak melihat lukisan aslinya, Saint Laurent terpesona dengan karya-karya Mondrian yang mampu menciptakan harmoni dan keindahan hanya dengan elemen yang sangat murni yaitu garis-garis sederhana dan warna-warna primer.
Pada masa itu, trend pakaian yang kasual dan dinamis sangat disukai oleh generasi muda. Yves Saint Laurent melihat karakter lukisan Mondrian sangat cocok untuk sebuah gaun Shift Dress yang memberikan kebebasan bergerak bagi pemakainya. Sumber Foto : WSJ
Dari sanalah ia mulai merancang gaun yang kelak mengubah cara dunia melihat hubungan antara seni dan fashion. Menggunakan jersey tebal yang memiliki karakter jatuh lurus, gaun ini tidak dibuat dari satu lembar kain, melainkan dari sejumlah potongan dengan warna yang mengikuti komposisi lukisan Mondrian. Potongan-potongan tersebut kemudian disatukan menggunakan kain hitam, membentuk garis-garis geometris yang menjadi ciri khas karya sang seniman.
Di balik tampilannya yang terlihat sederhana, proses pembuatannya membutuhkan presisi dan keterampilan tingkat tinggi. Setiap potongan harus ditempatkan dengan tepat agar motif tetap terlihat datar dan tidak mengikuti lekuk tubuh perempuan.
Dengan pendekatan ini, Yves Saint Laurent seolah menerjemahkan sebuah lukisan dua dimensi ke dalam bentuk tiga dimensi—mengubah karya seni menjadi sesuatu yang dapat dikenakan. Ia berhasil mengubah bentuk lukisan dari 2 dimensi menjadi 3 dimensi.

Sumber Foto : Gagosian
Gaun ini dikategorikan sebagai Haute Couture dan beberapa koleksi aslinya tersimpan di The Metropolitan Museum of Art ( The MET ) New York dan Musée Yves Saint Laurent Paris.
Kolaborasi ikonik lainnya adalah antara Louis Vuitton dan Yayoi Kusama artis kontemporari legendaris Jepang, terkenal dengan bentuk Polka Dots dalam karya-karyanya yang seringkali disebutnya sebagai ‘ Infinity Nets ‘ atau ‘ Infinity Rooms ‘ simbol dari ‘ Unity ‘ dan ‘ Universe ‘
Direktur Artistik Louis Vuitton pada tahun 2012, Marc Jacobs, yang merupakan arsitek dari kolaborasi antara Louis Vuitton dan Yayoi Kusama, menyebut kolaborasi ini sebagai ‘Monumental Marriage between Art and Commerce’ karena kedua belah pihak bermotivasi tinggi untuk berkreasi, menciptakan sesuatu yang berbeda dan didukung oleh strategi bisnis yang kuat.

Sumber Foto : PINTEREST
Kolaborasi ini berulang kembali di tahun 2023 dengan Nicolas Ghesquière sebagai direktur artistik.

Sumber Foto : PINTEREST
Sebagai salah satu pelopor dari Gerakan ‘Fashion – as – Art’ Louis Vuitton mengajak artis-artis “High Profile ‘ untuk berperan serta memperkuat citra Brand terkemuka ini. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai dari tas-tas retail Louis Vuitton yang mengandung karya seni sehingga bisa menjadi sebuah koleksi dan investasi bagi pemiliknya
Salah satu perubahan dalam kolaborasi ini terletak pada logo Louis Vuitton yang tidak lagi stagnan, karena Louis Vuitton memberikan kebebasan pada para artis untuk berkreasi dengan Logo Klasik LV di tas-tas Louis Vuitton
Menggunakan visual dari karya seni Yayoi Kusama yang sangat mudah dikenal, Louis Vuitton berhasil membangun ‘Hype’ di kawasan Asia dan menarik perhatian market dari usia yang lebih muda.

Sumber Foto : PINTEREST

Sumber Foto : PINTEREST
Dengan dukungan media sosial dan penggunaan instalasi masif di kota-kota mode seperti New York dan Paris serta toko-toko LV di pusat perbelanjaan di berbagai kota besar di Asia, kolaborasi antara Louis Vuitton dan Yayoi Kusama merupakan kisah sukses dari interaksi Fashion dan Art.