Art Market Mulai Pulih, Tapi Kolektor Masih Berhitung: Membaca Art Basel & UBS Art Market Report 2026.

Sumber Gambar: https://theartmarket.artbasel.com/ (Karya Oleh Minh Lan Tran, ditampilkan oleh Balice Hertling di sektor utamaArt Basel in Basel 2025)
Apakah membeli karya dari seniman yang belum pernah kita dengar namanya adalah keputusan impulsif dan beresiko? Pertanyaan ini menjadi salah satu temuan menarik dalam The Art Basel and UBS Art Market Report 2026 by Arts Economics. Dalam survei terhadap kolektor, 52% responden menganggap membeli karya dari seniman yang belum mereka kenal sebagai sesuatu yang berisiko. Angka ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jika dibaca dalam konteks pasar seni global, ia menunjukkan satu hal penting—minat terhadap karya baru memang tumbuh, namun rasa percaya masih menjadi mata uang yang sangat menentukan.
Memasuki edisi ke-10, laporan tahunan Art Basel dan UBS ini memotret kondisi pasar seni global sepanjang 2025 sekaligus melihat arah perkembangannya pada 2026. Data dalam laporan dikumpulkan dari berbagai sumber, mulai dari galeri dan rumah lelang, art fair, kolektor, basis data harga karya seni, hingga pakar ekonomi dan pelaku industri. Dan kabar pertamanya cukup positif, pasar seni global kembali tumbuh pada 2025. Nilai penjualan mencapai sekitar US$59,6 miliar, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, laporan ini juga memberi catatan bahwa pemulihan tersebut masih berjalan tidak merata dan nilainya belum kembali ke puncak 2022.
Setelah mengalami penurunan selama dua tahun, 2025 menjadi tahun ketika pasar seni mulai menemukan kembali momentumnya. Penjualan melalui dealer atau galeri naik 2% menjadi sekitar US$34,8 miliar, sementara penjualan melalui lelang publik meningkat lebih signifikan, yaitu 9%. Di sisi lain, penjualan privat melalui rumah lelang justru turun 5%. Namun, pemulihan ini tidak berarti semua lapisan pasar mengalami kondisi yang sama. Salah satu pola yang paling terlihat adalah menguatnya kembali pasar kelas atas. Penjualan karya seni dengan harga lebih dari US$1 juta meningkat 21% pada 2025, sementara transaksi di atas US$10 juta tumbuh 30%. Sebaliknya, penjualan karya dengan harga di bawah US$50.000 justru turun 2% baik dari sisi nilai maupun jumlah transaksi. Angka tersebut memperlihatkan bahwa uang besar kembali bergerak di pasar seni, terutama untuk karya-karya yang sudah memiliki reputasi kuat. Tetapi kondisi ini juga membuat pertanyaan tentang seniman baru menjadi semakin menarik.

Sumber Gambar: https://theartmarket.artbasel.com/ (Karya dari Marthine Tayou, ditampilkan oleh Galleria Continua di Art Basel Qatar 2025)
Kembali ke angka 52% tadi. Jika lebih dari separuh kolektor yang disurvei menganggap membeli karya dari seniman yang belum dikenal sebagai sesuatu yang berisiko, persoalannya bukan hanya soal apakah sebuah karya bagus atau tidak. Pasar seni bekerja dengan sistem kepercayaan. Nama seniman, rekam jejak pameran, reputasi galeri, sejarah penjualan, hingga posisi karya dalam dunia seni dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Laporan 2026 bahkan menunjukkan bahwa ketergantungan galeri terhadap sejumlah kecil seniman semakin kuat. Pada 2025, sekitar sepertiga penjualan dealer berasal dari satu seniman dengan penjualan tertinggi. Sementara itu, tiga seniman teratas menyumbang 58% penjualan, meskipun rata-rata sebuah galeri memiliki sekitar 32 seniman dalam daftar representasinya. Artinya, sekitar 11% seniman menghasilkan lebih dari setengah penjualan galeri. Di satu sisi, pola ini masuk akal. Kolektor cenderung mencari karya yang sudah memiliki rekam jejak. Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuat seniman baru menghadapi jalan yang lebih panjang untuk mendapatkan pengakuan. Mungkin inilah salah satu ironi pasar seni hari ini: semua orang ingin menemukan nama baru sebelum menjadi besar, tetapi tidak semua orang berani mengambil risiko ketika nama tersebut masih belum dikenal.

Sumber Gambar: https://theartmarket.artbasel.com/ (Art Economics 2026)
Salah satu perubahan paling menarik dalam laporan ini adalah kembalinya art fair sebagai pusat transaksi. Pada 2025, penjualan yang dilakukan melalui art fair menyumbang 35% dari total penjualan dealer, naik dari 31% pada 2024. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2022. Penjualan dari fair internasional maupun lokal sama-sama mengalami peningkatan. Fenomena ini menunjukkan bahwa meski pasar seni sempat mengalami pergeseran besar ke ruang digital selama pandemi, pengalaman melihat karya secara langsung masih memiliki nilai yang sulit digantikan. Kolektor tetap datang ke fair, melihat karya secara langsung, bertemu galeri, berdiskusi dengan seniman, dan membangun hubungan dengan pelaku pasar lainnya. Namun, art fair juga menghadapi persoalan sendiri. Biaya booth, perjalanan, pengiriman, akomodasi, hingga biaya operasional menjadi salah satu tantangan utama bagi galeri. Jadi, semakin banyak transaksi terjadi di fair, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung galeri untuk hadir di dalamnya.
Jika selama pandemi internet menjadi pusat transaksi seni, laporan terbaru memperlihatkan bahwa pembelian kembali bergerak ke ruang fisik. Penjualan online menyumbang sekitar 16% dari total omzet dealer pada 2025, turun 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan melalui situs dan kanal digital milik dealer sendiri juga turun menjadi 14% dari total nilai penjualan. Meski begitu, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan 2019, ketika penjualan online hanya menyumbang 8%. Menariknya, digital tetap menjadi pintu masuk bagi pembeli baru. Dealer melaporkan bahwa 40% nilai penjualan online pada 2025 berasal dari pembeli baru. Jadi, internet mungkin tidak lagi menjadi pusat transaksi terbesar, tetapi tetap penting untuk memperkenalkan karya kepada calon kolektor yang sebelumnya tidak memiliki hubungan dengan pasar seni.
Laporan ini juga memperlihatkan bagaimana kondisi pasar berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar secara global, sementara Inggris dan China berada di posisi berikutnya. China menyumbang sekitar 14% pasar global pada 2025 dengan nilai penjualan sekitar US$8,5 miliar. Pertumbuhannya relatif kecil, hanya sedikit di atas 1%, dengan pasar domestik China menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan Hong Kong. Di Asia, Korea Selatan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 6%, sedangkan Jepang turun 1%. Sementara itu, Prancis menjadi pasar terbesar keempat dunia dan mencatat pertumbuhan 9% dengan nilai penjualan US$4,5 miliar. Data tersebut memperlihatkan bahwa pasar seni global tidak lagi bisa dibaca hanya dari satu pusat. Pergerakan kolektor, kekayaan, kebijakan perdagangan, hingga kondisi ekonomi masing-masing wilayah semakin menentukan arah pasar.
Selain membahas angka penjualan, laporan ini juga mencatat perubahan dalam representasi seniman perempuan. Pada 2025, seniman perempuan menyumbang 37% dari nilai penjualan dealer, naik dari 35% pada tahun sebelumnya dan 28% pada 2018. Di galeri pasar primer, angka tersebut mencapai 44%. Meski begitu, kesenjangan masih terlihat di tingkat galeri dengan omzet terbesar. Di dealer dengan omzet di bawah US$250.000, seniman perempuan menyumbang 55% dari jumlah seniman dan 43% dari nilai penjualan. Angka tersebut turun menjadi 35% dari jumlah seniman dan 27% dari nilai penjualan di galeri dengan omzet lebih dari US$10 juta. Dengan kata lain, keberagaman memang bergerak maju, tetapi belum sepenuhnya merata di bagian pasar yang paling besar.
Memasuki 2026, laporan Art Basel dan UBS melihat suasana pasar yang lebih optimistis. Pameran seni pada musim gugur dan musim dingin, hasil lelang yang memecahkan rekor, serta minat kolektor yang semakin beragam membantu meningkatkan kepercayaan terhadap pasar. Namun, laporan juga mengingatkan bahwa pemulihan tersebut belum tentu langsung menghasilkan pasar yang lebih sehat dan stabil dalam jangka panjang. Ada sejumlah tantangan yang masih membayangi. Geopolitik, tarif, biaya operasional, regulasi perdagangan lintas negara, dan perubahan kondisi ekonomi menjadi persoalan bagi pelaku pasar. Di sektor lelang menengah, misalnya, 80% responden mengatakan tarif dan hambatan perdagangan lintas negara memberikan dampak negatif terhadap bisnis mereka pada 2025. Di sisi lain, perubahan besar juga sedang berlangsung dalam struktur kepemilikan kekayaan. UBS memperkirakan lebih dari US$83 triliun akan berpindah antargenerasi dalam beberapa dekade mendatang. Perubahan ini berpotensi membawa generasi kolektor baru dengan cara pandang, minat, dan alasan mengoleksi yang berbeda.
Pada akhirnya, Art Basel and UBS Art Market Report 2026 tidak hanya bercerita tentang berapa banyak uang yang berputar dalam dunia seni. Laporan ini menunjukkan bagaimana pasar sedang mencari keseimbangan baru: antara galeri dan digital, nama besar dan seniman baru, transaksi langsung dan online, serta kolektor lama dan generasi baru. Dan pertanyaan tentang apakah aman membeli karya dari seniman yang belum dikenal mungkin justru menjadi salah satu pertanyaan paling relevan untuk membaca masa depan pasar seni. Sebab, di balik angka 52% tersebut, ada persoalan yang lebih besar, siapa yang berani mengambil risiko untuk memperkenalkan nama baru sebelum pasar memutuskan bahwa nama tersebut layak dipercaya? Pasar seni 2026 mungkin sedang tumbuh kembali. Tetapi siapa yang akan menjadi bagian dari pertumbuhan itu masih terbuka untuk diperebutkan.