
Foto: via apnews.com
Alih-alih membiarkannya terus terbengkalai, House of Art and Dreams bersama ROYVA Group dan St. Vincent Behavioral Health Campus menggeser fungsi St. Vincent Medical Center yang berada di Los Angeles, California, menjadi sebuah medium seni. Bangunan yang sebelumnya menjadi tempat perawatan kini memberi ruang bagi 70 seniman dari berbagai latar belakang untuk mentransformasi sebanyak 80 ruangan di empat lantai. Masing-masing kemudian menerjemahkan gagasan mereka terhadap emosi manusia ke dalam instalasi seni.
Menariknya, bangunan rumah sakit itu tidak dirombak agar serupa galeri atau museum. Koridor-koridornya dibiarkan tetap. Ruang tunggu, kamar rawat inap, area unit gawat darurat dan sisa lainnya tetap begitu adanya. Hospital of Emotions membiarkan jejak rumah sakit tetap terasa sekaligus menjadikannya wadah bagi interpretasi dan perspektif artistik. Di balik setiap pintu, karya-karya baru hadir berdampingan dengan ruang yang telah lebih dulu memiliki sejarahnya sendiri.
Pilihan lokasi tersebut, tentu saja, bukan tanpa alasan. Bagi para kurator—House of Art and Dreams, ROYVA Group dan St. Vincent Behavioral Health Campus—rumah sakit merupakan bagian dari keseluruhan gagasan pameran. Rumah sakit kerap berkaitan dengan rasa takut, ketidakpastian, tetapi secara bersamaan juga menjadi tempat untuk menaruh harap, kembali menemukan apa yang paling berarti dalam hidup. Di sinilah Hospital of Emotions mulai terasa lebih dari sekadar pameran seni imersif. Tidak lagi rumah sakit dilihat sebagai bangunan medis semata, melainkan juga tempat untuk berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih personal: apa yang manusia rasakan.
Dan seperti tulisan sambutan di atas pintu masuknya… Are you ready to feel?
Di Hospital of Emotions, emosi-emosi manusia dibagi menjadi 8 departemen tematik: Joy, Love, Fear, Anger, Hope, Sadness, Gratitude dan Resilience. Di sini, tiap emosi memperoleh wujudnya dari cara masing-masing seniman memandang dan mengalaminya. Tidak ada interpretasi yang benar-benar serupa. Satu emosi bisa melahirkan respon yang berbeda-beda, gagasan yang beragam, yang menjadi pengingat bahwa perasaan manusia tidak pernah sesederhana namanya.

Dr. Maryam Trebeau, di Sadness Departement. Foto: via apnews.com

Delivered oleh Heriberto Gomes. Foto: via apnews.com
Pada Sadness Department, misalnya, Dr. Maryam Trebeau memandang kesedihan bukan sebagai jalan buntu, melainkan sebagai bagian dari proses untuk kembali menemukan kegembiraan. Instalasinya berupa rangkaian pita kaset yang disusun membentuk wajah-wajah muram, seolah menghadirkan kesedihan sebagai sesuatu yang perlu dihadapi, bukan disembunyikan. Baginya, seseorang dapat membiarkan kesedihan menghanyutkan diri mereka, atau justru menjadikannya pijakan menuju kehidupan yang baru. “You need sadness to feel joy,” ujarnya. Lalu, interpretasi yang berbeda muncul dari Heriberto Gomes. Alih-alih menghadirkan kesedihan secara eksplisit, ia justru membicarakannya melalui perilaku konsumtif dalam instalasi yang terdiri dari 400 kardus dan 800 label. Karya tersebut menyoroti dorongan manusia untuk membeli dan mengkonsumsi secara kompulsif, serta perasaan yang ada di balik perilaku tersebut. Jika Trebeau melihat kesedihan sebagai sesuatu yang perlu ada dan dirasakan untuk terus hidup, Gomes justru menelusurinya melalui cara manusia mengisi atau mengalihkan kesedihan itu sendiri.

Mônica Lóss, di Resilience Department. Foto: via rnz.co.nz

Botanical Currents oleh Lenny Gerard. Foto: via apnews.com
Di lain departemen, Resilience pun hadir dalam bentuk yang berbeda ketika diterjemahkan oleh beberapa seniman. Mônica Lóss melihatnya dari dalam diri: tubuh dan perasaan. Dua textile sculpture berwarna pastel berdiri berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah lorong kecil yang mengarah pada textile sculpture lainnya berwarna merah. Perubahan bentuk dan warna tersebut menjadi metafora bahwa seseorang tidak selalu kembali jadi dirinya yang semula setelah melewati banyak hal. Baginya, untuk terus berjalan, akan selalu ada perubahan yang terjadi. Lalu gagasan yang lebih luas muncul dalam Botanical Currents karya Lenny Gerard. Ia menggunakan banyak terminal stop kontak yang menjalar di lantai dan dinding menyerupai tanaman rambat, dengan dedaunan yang muncul dari lubang-lubangnya. Di sini, Gerard membaca resiliensi dari perspektif ekologi: di saat teknologi terus berkembang, alam pun tidak pernah berhenti tumbuh, dan akan terus tumbuh melampaui ciptaan manusia. Dua karya tersebut sama-sama berbicara tentang resiliensi, tetapi yang satu menerjemahkannya dalam transformasi manusia, sementara yang lain melihatnya dalam daya hidup alam.

Seorang pengunjung bereksperimen dengan karya instalasi Nellie Xie. Foto: Youtube/@ChristieMcFit

Mark Girgis, di Compassion Department. Foto: via apnews.com
Pada Compassion Department, perhatian bergeser ke bagaimana seseorang melihat, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Nellie Xie menyoroti kecemasan manusia terhadap penampilan diri melalui sebuah instalasi yang mengajak pengunjung mengamati fitur wajah mereka secara detail. Dengan bantuan perangkat yang memproyeksikan bagian-bagian wajah, apa yang biasanya luput dari perhatian justru menjadi pusat pandang. Pengunjung diajak untuk melihat diri mereka dengan cara yang berbeda, untuk kemudian bisa menerimanya, apa adanya. Di lain ruangan, Mark Girgis menerjemahkan compassion secara interpersonal melalui instalasi ruang rawat inap dengan manekin pasien, keluarga serta perawat yang dirancang transparan. “Imagine if we all saw the struggle; imagine what can change if the invisible became visible,” adalah yang mendasari karya tersebut. Di saat Xie mengajak seseorang untuk melihat dirinya dengan lebih penuh penerimaan, Girgis mempertanyakan apa yang terjadi ketika manusia mampu melihat perjuangan yang selama ini tidak terlihat di diri orang lain—mungkin setiap kita akan lebih bisa berbelas kasih.
Pada akhirnya, Hospital of Emotions tidak menawarkan satu cara untuk merasa. Tidak pula menjanjikan bahwa setiap pengunjung akan menemukan emosi yang sama di balik setiap pintu. Pengalaman di dalam akan menjadi sangat personal: pengunjung bisa saja menemukan kegembiraan di sebuah ruangan yang bagi orang lain terasa melankolis; lalu bisa saja mulai mengapresiasi apa yang selama ini terabaikan, entah tahi lalat di bawah kantung mata, atau tanaman-tanaman yang seringnya hanya dianggap penghias belaka. Apa pun pemaknaannya, setiap ruangan memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan emosi sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya. Pameran ini berlangsung hanya sampai akhir September 2026.