
Pada September 2025, M+ Museum di Hong Kong kembali membuka pameran terbaru dari koleksi Sigg dengan judul M+ Sigg Collection: Inner Worlds. Pameran ini menampilkan karya dari 38 seniman dan menjadi bagian lanjutan dari upaya M+ dalam memperkenalkan perkembangan seni kontemporer Tiongkok ke publik global. Dalam pameran ini, fokus diarahkan pada periode 1990-an hingga 2010-an—masa ketika Tiongkok mengalami perubahan besar dalam ekonomi, sosial, dan budaya. Alih-alih menampilkan perubahan tersebut secara langsung, Inner Worlds justru mengambil jalur yang lebih personal. Pameran ini tidak banyak bicara soal peristiwa, tapi lebih pada bagaimana perasaan manusia yang hidup di dalamnya.
Koleksi Sigg sendiri punya peran besar dalam pameran ini. Dikumpulkan oleh Uli Sigg, koleksi ini mencakup ribuan karya yang merekam perkembangan seni kontemporer Tiongkok sejak tahun 1970-an. Yang menarik, koleksi ini tidak hanya berisi karya-karya yang sudah terkenal. Banyak juga karya yang mungkin jarang dilihat, tapi justru penting untuk memahami proses perkembangan seni di sana. Menggaet Dr. Wu Mo sebagai kurator, karya-karya di Inner Worlds lebih fokus pada masa ketika seniman Tiongkok mulai aktif di kancah internasional. Salah satu karya yang cukup menyita perhatian adalah karya Yue Minjun sebagai bagian pembuka yang berjudul “2000 A.D.”
Dalam karya ini, terdapat dua puluh lima patung berukuran manusia yang menampilkan figur yang sama secara berulang, disusun dalam formasi yang mengingatkan pada pasukan terakota di Tiongkok. Berada di antara gagasan tentang individualitas dan keseragaman, karya ini merefleksikan ketegangan antara diri pribadi dan kolektif. Sebagai salah satu figur penting dalam aliran Cynical Realism, Yue dikenal lewat karakter “laughing man” yang ikonik. Pada pandangan pertama, ekspresi tersebut terasa seperti humor. Namun, semakin lama dilihat, justru muncul rasa yang lebih ganjil dan tidak sepenuhnya nyaman. Karya ini menjadi bagian dari pameran Inner Worlds, yang menyoroti periode perubahan cepat di Tiongkok dari pertengahan 1990-an hingga 2010-an—saat globalisasi dan pergeseran ekonomi mulai membentuk ulang kehidupan sehari-hari masyarakat.
Yue Minjun dikenal dengan karyanya yang menggambarkan figur manusia dengan senyum lebar yang berulang, hal ini sudah menjadi ciri khasnya. Sekilas, karyanya terlihat ringan, bahkan cenderung lucu. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang terasa ganjil. Senyum tersebut tampak kosong, seperti tidak benar-benar berasal dari emosi yang nyata. Di sinilah menariknya. Karya Yue Minjun bisa dibaca sebagai bentuk ironi—tentang bagaimana ekspresi manusia bisa menjadi seragam dan kehilangan makna. Namun ketika ditempatkan dalam konteks Inner Worlds, karya ini terasa sedikit berbeda.

Di titik ini pun, pameran telah terasa seperti ruang untuk membaca emosi, bukan sekedar memahami sejarah. Periode 1990-an hingga 2010-an adalah masa yang sangat cepat bagi Tiongkok. Kota-kota berkembang pesat, teknologi masuk ke berbagai aspek kehidupan, dan cara hidup masyarakat berubah dalam waktu singkat. Biasanya, perubahan seperti ini dibahas lewat angka atau pembangunan fisik. Tapi di pameran ini, yang diangkat justru sisi manusianya. Karya-karya yang ditampilkan seperti menangkap rasa yang muncul di tengah perubahan tersebut—rasa cemas, bingung, harapan, bahkan rasa lelah. Semua itu tidak disampaikan secara langsung, tetapi lewat visual, suasana, dan pendekatan yang lebih halus. Hal ini membuat pameran terasa lebih dekat. Pengunjung tidak harus paham sejarah Tiongkok untuk bisa menikmati karya-karyanya. Cukup dengan merasakan, kita sudah bisa ikut masuk ke dalam narasi yang dibangun.
Selain karya, cara pameran ini disusun juga cukup diperhatikan. Tata ruang, pencahayaan, dan alur pengunjung dirancang untuk mendukung tema yang diangkat. Ada ruang yang terasa terang dan ringan, ada juga yang lebih gelap dan intens. Perubahan ini membantu membangun suasana tanpa terasa dipaksakan.
Pengunjung tidak hanya berjalan dari satu karya ke karya lain, tetapi seperti diajak masuk ke dalam pengalaman yang lebih utuh. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sunyi—cukup untuk membuat kita berhenti dan benar-benar melihat.
Emosi pun dijadikan sebagai titik awal untuk memahami karya sebagai salah satu daya tarik pameran ini. Tidak banyak penjelasan yang berat atau konsep yang terlalu teknis, s ebaliknya, pengunjung diajak untuk merasakan dulu, baru kemudian memahami. Beberapa karya terasa tenang dan reflektif, sementara yang lain justru membawa suasana yang lebih gelisah. Perpindahan antar ruang juga terasa halus, seperti berpindah dari satu kondisi batin ke kondisi lainnya. Pendekatan ini membuat pameran terasa lebih terbuka, terutama untuk pengunjung awam. Seni tidak lagi terasa “jauh” atau sulit dimengerti, tetapi justru lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Di tengah banyaknya pameran yang mencoba menjelaskan segalanya secara lengkap, Inner Worlds justru terasa lebih tenang. Ia tidak terburu-buru memberi jawaban, tetapi memberi ruang untuk merasakan. Mungkin di situlah kekuatan pameran ini. Ia tidak memaksa untuk dimengerti, tapi mengajak untuk dirasakan. Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, pendekatan seperti ini terasa penting—sebagai pengingat bahwa di balik perubahan besar, selalu ada sisi manusia yang berjalan lebih pelan, mencoba memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya sendiri.

