
Ketika surealisme diterjemahkan ke dunia nyata menjadi berbagai mode fesyen kelas atas.
Ada sebuah sweater hitam sederhana yang tersimpan di dalam lemari kaca Victoria and Albert Museum, London, yang usianya hampir satu abad. Rajutan halus dengan benang putih yang menyembul membentuk gambar kerah dan pita di bagian leher. Tampak naif, bahkan sedikit kekanak-kanakan. Namun dari sweater inilah segalanya bermula — dari sanalah Elsa Schiaparelli mengubah dunia mode dan, dalam prosesnya, menegaskan bahwa pakaian bisa menjadi seni.
Pameran bertajuk Schiaparelli: Fashion Becomes Art yang dibuka pada 28 Maret 2026 di Victoria and Albert Museum London menjadi momen penting untuk menengok kembali warisan perempuan yang selama beberapa dekade justru tenggelam dalam bayang-bayang rivalnya, Coco Chanel. Sementara Chanel dikenang karena elegansinya yang minimalis, Schiaparelli memilih jalan yang jauh lebih berisiko: mempersilakan alam bawah sadar berbicara melalui kain.
Dari Roma ke Paris: Perempuan yang Tak Mau Patuh
Elsa Schiaparelli lahir pada 1890 di Roma, dari keluarga akademisi dan aristokrat. Ia melarikan diri dari ekspektasi konservatif keluarganya, meninggalkan Italia pada usia 23 tahun. Setelah menikahi seorang penipu dan menjadi ibu tunggal, ia akhirnya tiba kembali di Paris dengan tangan kosong namun pikiran penuh. Tanpa pelatihan formal, ia meluncurkan koleksi fashion pertamanya pada 1927. Dalam lima tahun, Maison Schiaparelli mempekerjakan 400 staf yang menciptakan lebih dari 7.000 busana haute couture setiap tahunnya.

Tidak bisa menjahit, tidak bisa memotong pola — namun Paris pada akhir 1920-an adalah kota yang sedang bergolak secara intelektual, di mana absurdisme Dadais telah berkembang menjadi fantasi Surealis. Schiaparelli menemukan dirinya tepat di jantung lingkaran tersebut, dan kedekatan dengan para seniman avant-garde seperti Salvador Dalí, Jean Cocteau, dan Man Ray bukan sekadar pergaulan sosial. Itu adalah laboratorium.
Trompe L’Oeil dan Sweater yang Mengubah Segalanya
Pada 1927, Schiaparelli mendatangi seorang pengrajin rajut Armenia bernama Aroosiag Mikaëlian, dan memintanya mengerjakan sweater dengan motif pita yang tergambar seolah nyata di bagian leher. Hasilnya adalah sebuah trompe l’oeil yang cemerlang: tipu daya visual yang membuat mata seolah tertipu. Schiaparelli memakainya ke sebuah makan siang, dan pembeli dari sebuah department store Amerika langsung memesan 40 buah.
Sesederhana itu awalnya. Tapi dalam kesederhanaan itu tersimpan sebuah manifesto: bahwa pakaian bisa memiliki logika yang menipu, bahwa keindahan bisa mengandung lelucon, dan bahwa batas antara seni dan mode adalah garis yang bisa — dan harus — dilintasi. Francesco Pastore, kepala warisan dan budaya Maison Schiaparelli, menyimpulkannya: “Schiaparelli tidak sekadar meminjam dari Surealisme; ia menerjemahkannya ke dalam kehidupan nyata.”
Ketika Dalí dan Schiaparelli Bertemu
Tidak ada kolaborasi dalam sejarah mode yang lebih liar dari pertemuan Schiaparelli dan Salvador Dalí. Keduanya terobsesi pada yang tersembunyi di balik yang terlihat, pada tubuh manusia sebagai benda yang bisa dipertanyakan, dan pada mimpi sebagai bahan baku seni yang sah.

Skeleton Dress dari 1938 adalah puncak kolaborasi ini. Menggunakan teknik trapunto — metode menjahit berlapis yang biasanya dipakai untuk membuat quilt — Schiaparelli dan Dalí membangun ilusi tulang belakang, tulang rusuk, dan sendi pinggul di atas sutra krem transparan. Gaun itu tampak seperti foto rontgen. Pemakainya seolah memamerkan kerangkanya sendiri.
Lalu ada Shoe Hat yang lahir dari gestur sederhana: Gala Dalí meletakkan sepatu di atas kepala suaminya sebagai lelucon. Schiaparelli melihatnya dan mengubahnya menjadi aksesori. Dan Lobster Dress, gaun organza putih dengan gambar lobster merah di tengahnya, dikenakan Wallis Simpson untuk sesi foto pernikahannya dengan Duke of Windsor — simbol erotis Dalí yang diubah menjadi pernyataan mode paling sopan sekaligus paling subversif. Pastore menambahkan bahwa penggunaan citra para seniman oleh Schiaparelli “melampaui dekorasi — itu adalah imajinasi yang dibagi bersama.”
Tombol sebagai Karya Seni Miniatur
Salah satu sudut paling mengejutkan dari pameran V&A adalah deretan tombol. Bagi Schiaparelli, tombol bukan sekadar penutup. Ia adalah kalimat. Digarap oleh pematung seperti Gisèle Favre-Pinsard dan François Hugo, tombol-tombol ini hadir dalam wujud kumbang, kupu-kupu, siput, candelabra, grand piano, hingga putri duyung — flotsam dan jetsam dari pikiran bawah sadar yang menonjol di atas setelan polos yang tertata rapi. Pastore menyebut mereka “karya seni miniatur — bukan hiasan tambahan, melainkan tanda baca struktural.”

Warisan yang Hidup Kembali
Ketika realitas Perang Dunia Kedua mulai membayangi Paris pada 1940, Schiaparelli merilis koleksi terakhirnya sebelum pergi ke Amerika. Ketika ia kembali ke Prancis pascaperang, seni rupa yang diterapkan pada pakaian bukan lagi mode yang diinginkan. Schiaparelli pensiun pada 1954, tahun yang sama ketika Chanel membuka kembali rumah modanya.
Namun nama itu tidak mati. Akuisisi nama dan arsip Schiaparelli pada 2006 membuka jalan bagi kebangkitan rumah mode ini. Sejak 2019, di bawah arahan kreatif Daniel Roseberry, House Schiaparelli terus memperluas reputasinya sebagai pengganggu tatanan fashion. Anatomi manusia masih muncul — kali ini dalam kalung berbentuk paru-paru berhias berlian. Surealisme masih hadir — kali ini dalam gaun-gaun yang membuat penonton di barisan depan tidak tahu harus tertawa atau terpesona.
Pameran Schiaparelli: Fashion Becomes Art dapat dikunjungi di Victoria and Albert Museum, London, hingga 1 November 2026.
Foto-foto: Victoria and Albert Museum

