
Seniman muda asal Indonesia, Natasha Tontey, melakukan debutnya di ajang Venice Biennale 2026 melalui karya berjudul The Phantom Combatants and the Metabolism of Disobedient Organs. Karya ini menjadi salah satu sorotan karena mengangkat kisah pejuang perempuan dari Sulawesi Utara, yang diterjemahkan ke dalam bentuk instalasi visual dan pengalaman ruang. Secara faktual, partisipasi ini menandai langkah penting Tontey dalam membawa narasi lokal ke panggung seni internasional.
Natasha Tontey adalah seniman visual asal Indonesia yang dikenal dengan karya-karya yang menggabungkan berbagai medium, seperti video, instalasi, dan objek tiga dimensi. Ia lahir dan besar di Sulawesi Utara, yang kemudian banyak mempengaruhi tema dalam karyanya. Dalam perjalanan kariernya, Tontey sering mengangkat isu tentang tubuh, teknologi, dan cerita-cerita lokal. Ia juga dikenal dengan pendekatan world-building, yaitu membangun dunia atau semesta cerita sendiri di dalam karyanya. Sebelum tampil di Venice Biennale, Tontey sudah aktif dalam berbagai pameran internasional. Salah satu proyek pentingnya ditampilkan di LAS Art Foundation, di mana ia mulai mengembangkan ide tentang tubuh sebagai sesuatu yang bisa “melawan” atau tidak selalu mengikuti aturan. Pendekatan ini kemudian menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.
Dalam karya-karya sebelumnya, Tontey sering menampilkan bentuk-bentuk yang terlihat seperti bagian tubuh, namun tidak sepenuhnya realistis. Bentuk tersebut dipadukan dengan elemen yang terasa futuristik, menciptakan suasana yang berada di antara nyata dan imajinasi. Ia juga kerap mengangkat tema tentang bagaimana tubuh berinteraksi dengan lingkungan dan sistem di sekitarnya. Dalam beberapa karya, tubuh digambarkan tidak selalu patuh, melainkan bisa berubah dan beradaptasi. Secara visual, karya Tontey memiliki karakter yang cukup kuat. Warna, tekstur, dan bentuk yang digunakan sering kali terasa asing, tetapi tetap menarik untuk diamati. Hal ini membuat penonton tidak hanya melihat, tetapi juga mencoba memahami apa yang sedang terjadi di dalam karya tersebut.

Dalam karya terbarunya yang berhasil menarik perhatian di Venice Biennale, Tontey mengangkat sosok Len Karamoy, seorang pejuang perempuan dari Sulawesi Utara yang terlibat dalam gerakan Permesta pada era 1950-an. Namun, pendekatan yang digunakan tidak mengikuti pola sejarah yang umum—tidak ada upaya untuk menyusun ulang kronologi atau menghadirkan biografi secara langsung. Sebaliknya, Tontey memilih untuk mengolah figur Karamoy menjadi representasi yang lebih simbolis. Ia disulap menjadi apa yang disebut sebagai “Phantom Combatants,” semacam entitas kolektif yang merepresentasikan semangat perlawanan. Dalam konteks ini, Len Karamoy tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari narasi yang lebih luas tentang perjuangan, identitas, dan perubahan. Tema yang diangkat juga tidak ringan. Karya ini menyentuh isu pengkhianatan, balas dendam, hingga transformasi tubuh. Namun, semua itu tidak ditampilkan secara gamblang. Tontey bereksperimen dalam mengisyaratkan perubahan tubuh ke dalam bentuk yang cenderung abstrak dan cukup liar. Pendekatan ini memberi ruang bagi penonton untuk memahami makna di baliknya, bukan sekedar menerima cerita secara langsung.

Dari sisi penyajian visual, instalasi ini memadukan berbagai elemen seperti video, suara, cahaya, hingga objek patung. Semua elemen tersebut dirancang menjadi satu pengalaman ruang yang utuh. Penonton tidak hanya melihat, tetapi juga masuk ke dalam suasana yang dibangun. Menariknya, ia menggunakan pendekatan visual yang terinspirasi dari estetika film B-movie. Gaya ini dikenal dengan tampilan yang agak berlebihan, dramatis, dan kadang terasa tidak realistis. Namun, justru di situlah kekuatannya—ia menciptakan jarak dari realitas, sekaligus membuka ruang imajinasi yang lebih luas. Selain itu, penggunaan teknologi juga menjadi bagian penting dalam karya ini. Ia memanfaatkan LiDAR, kamera termal, dan teknik imaging lainnya untuk mengeksplorasi bagaimana tubuh dan ruang bisa dipetakan. Di sini, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat visual, tetapi juga sebagai cara untuk membahas isu yang lebih besar, seperti bagaimana tubuh dan wilayah bisa diukur, dikontrol, bahkan dimiliterisasi.
Pendekatan ini membawa diskusi ke arah yang lebih dalam. Tubuh tidak lagi dilihat hanya sebagai sesuatu yang biologis, tetapi juga sebagai objek yang bisa diawasi dan diatur. Dalam konteks tertentu, hal ini berkaitan dengan sejarah konflik dan kekuasaan. Di sisi lain, unsur budaya Minahasa juga hadir sebagai lapisan penting dalam karya ini. Salah satu yang cukup menonjol adalah referensi ke konsep purgatory, yaitu kondisi “di tengah”, antara selesai dan belum, antara hidup dan mati, atau antara damai dan konflik. Konsep ini terasa relevan dengan tema yang diangkat, terutama dalam menggambarkan situasi yang belum benar-benar selesai.

Debut Natasha Tontey di Venice Biennale menjadi pencapaian penting, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi perkembangan seni kontemporer Indonesia. Ajang ini dikenal sebagai salah satu platform paling bergengsi di dunia seni, yang menghadirkan seniman dari berbagai negara. Kehadiran Tontey menunjukkan bahwa seniman Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional dengan membawa cerita yang berakar dari budaya lokal. Ia tidak hanya menampilkan identitas, tetapi juga menawarkan cara baru dalam bercerita. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak seniman muda Indonesia yang tampil di panggung global. Namun, setiap seniman memiliki pendekatan yang berbeda. Dalam hal ini, Tontey menonjol melalui cara ia menggabungkan riset, cerita, dan visual menjadi satu kesatuan.
Karya The Phantom Combatants and the Metabolism of Disobedient Organs merupakan bagian dari seri Macho Mystic Meltdown dan bisa dibilang menjadi salah satu proyek terbesar yang pernah dikerjakan Natasha Tontey sejauh ini. Dalam proyek ini, ia menghadirkan pendekatan yang cukup teatrikal—visualnya terasa dramatis dan penuh lapisan, namun tetap menyimpan ruang refleksi yang kuat bagi penonton. Lewat cara penyampaian seperti ini, Natasha Tontey tidak hanya ingin menghadirkan pengalaman visual, tetapi juga mengajak kita untuk berpikir ulang tentang konsep kedaulatan. Tidak lagi terbatas pada wilayah atau batas geografis, tetapi juga menyentuh hal yang lebih dekat, seperti tubuh dan bagaimana kita memahami diri sendiri. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, karya ini terasa relevan. Ia seperti mengingatkan bahwa cara kita melihat dunia juga perlu ikut beradaptasi. Bahwa kedaulatan, pada akhirnya, bukan hanya soal ruang yang kita tempati, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknai keberadaan kita di dalamnya.

