
Sumber gambar: https://www.readhibiscus.com/
Di tangan banyak orang, bambu mungkin hanya dipandang sebagai material bangunan atau kerajinan tradisional. Namun bagi seniman asal Thailand, Korakot Aromdee, bambu justru menjadi medium utama untuk membangun karya seni kontemporer yang mampu menembus panggung internasional. Mulai dari instalasi berskala besar, paviliun arsitektural, hingga kolaborasi dengan rumah mode mewah seperti Dior, hampir seluruh praktik artistiknya selalu berangkat dari satu material yang sama–bambu.
Pilihan tersebut bukan muncul karena tren keberlanjutan yang berkembang beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, hubungan Korakot dengan bambu sudah dimulai sejak masa kecilnya di Ban Laem, sebuah desa pesisir di Provinsi Phetchaburi, Thailand. Tumbuh di tengah komunitas nelayan membuatnya akrab dengan bambu yang digunakan masyarakat untuk membuat alat tangkap ikan hingga layang-layang tradisional. Dari lingkungan inilah ia mulai memahami bahwa setiap simpul, anyaman, dan lengkungan bambu menyimpan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Korakot tidak berasal dari keluarga seniman. Ia justru tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan para perajin lokal. Salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah sang kakek, seorang pembuat layang-layang tradisional Chula yang mengajarkannya teknik memilih bambu, membelah serat, hingga mengikat setiap ruas menggunakan tali rami.
Bagi Korakot kecil, semua itu awalnya hanyalah keterampilan sehari-hari. Namun semakin dewasa, ia mulai melihat bahwa teknik tersebut memiliki nilai artistik yang jauh lebih besar. Ketika melanjutkan pendidikan di Fakultas Seni Dekoratif, Silpakorn University, lalu mengambil program magister, ia mulai bereksperimen menggunakan bambu sebagai medium patung dan instalasi kontemporer. Momen inilah yang perlahan mengubah arah kariernya. Ia tidak lagi melihat bambu sebagai material kerajinan rakyat, melainkan sebagai bahasa visual yang mampu berbicara di ruang seni kontemporer.
Yang membuat karya Korakot berbeda bukan hanya pilihan materialnya, tetapi juga cara ia memperlakukan bambu. Alih-alih dipotong menjadi bentuk geometris yang kaku, bambu justru dibiarkan mengikuti sifat alaminya. Ia dirangkai menggunakan teknik ikat tradisional tanpa banyak sambungan logam sehingga menghasilkan bentuk-bentuk organik yang menyerupai ombak, angin, atau aliran udara. Salah satu karya yang banyak mendapat perhatian adalah Breath of Bamboo, sebuah paviliun yang dipresentasikan dalam ajang Maison&Objet Hong Kong. Instalasi tersebut dibangun menggunakan bambu, rotan, dan tanaman rambat yang seluruh strukturnya disatukan hanya melalui teknik simpul tradisional. Bentuk lengkungnya terinspirasi dari ritme angin laut dan pasang surut air di kampung halamannya.
Melihat karya-karyanya, kita hampir lupa bahwa material yang digunakan adalah bambu. Yang terasa justru seperti melihat gelombang yang sedang bergerak, meski seluruh instalasi sebenarnya diam. Pencapaian Korakot tidak berhenti di ruang galeri. Namanya semakin dikenal setelah dipercaya mengerjakan berbagai instalasi untuk Dior. Salah satunya adalah interior Café Dior di Dior Gold House, Bangkok, di mana ia menciptakan instalasi bambu yang dipenuhi bentuk flora dan fauna sehingga pengunjung seolah berada di dalam sebuah taman.

Sumber gambar: https://www.readhibiscus.com/
Tidak lama kemudian, Dior kembali mengajak Korakot berkolaborasi untuk Milan Design Week melalui instalasi bambu yang menjadi latar utama koleksi lampu Corolle. Menariknya, karya-karya tersebut tidak pernah terasa seperti dekorasi pelengkap. Instalasi bambu Korakot justru menjadi pengalaman ruang yang memperkuat identitas setiap proyek. Di titik ini Korakot berhasil membuktikan bahwa material tradisional tidak harus kehilangan identitas ketika masuk ke dunia desain mewah. Bambu tetap tampil sebagai bambu, hanya saja dipresentasikan dengan bahasa visual yang lebih kontemporer. Hal lain yang membuat praktik Korakot terasa relevan adalah cara ia melibatkan masyarakat di balik setiap proyeknya.
Pada 2006, ia mendirikan Korakot International dengan tujuan yang tidak hanya berorientasi pada produksi karya, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi para perajin di komunitasnya. Dari yang awalnya hanya melatih sekitar sepuluh orang, kini studionya bekerja sama dengan puluhan pengrajin dari berbagai daerah di Thailand untuk mengerjakan proyek-proyek berskala besar. Baginya, melestarikan kerajinan tidak cukup hanya dengan menyimpannya di museum. Pengetahuan tersebut harus tetap digunakan agar memiliki nilai ekonomi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Pendekatan ini membuat karya Korakot terasa lebih dari sebuah objek seni. Setiap instalasi juga menjadi hasil kolaborasi antara seniman, komunitas, dan tradisi yang terus hidup.
Banyak seniman kontemporer memilih teknologi sebagai medium utama untuk membicarakan masa depan. Korakot justru mengambil arah yang berbeda. Ia kembali pada material yang telah digunakan masyarakat selama ratusan tahun. Namun menariknya, keputusan itu sama sekali tidak membuat karyanya terlihat kuno. Justru karena memahami karakter bambu secara mendalam, ia mampu menghadirkan bentuk-bentuk baru yang terasa segar. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa karya Korakot mudah diterima di berbagai negara. Ia tidak menjual eksotisme Thailand, tetapi menawarkan cara pandang baru terhadap material yang selama ini sering dianggap biasa.
Bambu tidak lagi diposisikan sebagai simbol tradisi semata, melainkan sebagai medium yang terus berkembang mengikuti zaman. Selama hampir dua dekade berkarya, Korakot telah membawa instalasinya ke berbagai pameran desain dan seni internasional. Selain tampil di Maison&Objet Hong Kong, ia juga dipercaya mengerjakan berbagai proyek untuk Dior di Bangkok, Tokyo, hingga Milan Design Week. Karyanya beberapa kali mendapat penghargaan desain di Thailand, termasuk Prime Minister’s Export Award dalam kategori Design Excellence, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu desainer dan seniman bambu paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Meski telah bekerja bersama berbagai institusi global, Korakot tetap mempertahankan proses produksi yang berakar pada komunitas lokal. Bagi dirinya, perkembangan teknologi justru harus berjalan berdampingan dengan keterampilan tangan, bukan menggantikannya. Di tengah dunia seni yang terus dipenuhi material baru dan teknologi yang semakin canggih, perjalanan Korakot Aromdee menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang benar-benar baru. Terkadang, ia justru muncul ketika seseorang berani melihat kembali warisan yang sudah ada, lalu memberinya cara hidup yang berbeda.

Sumber gambar: https://www.tatlerasia.com/
Korakot tidak mengubah bambu menjadi sesuatu yang lain. Ia hanya menunjukkan bahwa material sederhana itu memiliki kemungkinan yang jauh lebih luas daripada yang selama ini kita bayangkan. Dari desa nelayan di pesisir Thailand hingga ruang-ruang seni dan desain kelas dunia, bambu tetap membawa cerita yang sama—tentang alam, tentang manusia, dan tentang keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin itulah pencapaian terbesar Korakot Aromdee. Bukan hanya karena karyanya hadir di panggung internasional, tetapi karena ia berhasil membuktikan bahwa tradisi dan seni kontemporer bukan dua hal yang saling bertolak belakang melainkan dua hal yang relevan.

