Refleksi Pengaruh Kekuasaan Melalui Nama dalam Pameran Tunggal Octora “Menamai | Naming”

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang tampak sederhana dan akrab dengan kita, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan yang jarang disadari. Salah satunya adalah proses memberi nama. Menamai bukan sekadar memberikan sebutan pada suatu objek atau peristiwa, melainkan juga membawa sejarah, cara pandang, dan bahkan relasi kuasa dalam memahami dunia. Gagasan ini membuka ruang untuk kembali mempertanyakan bagaimana nama dan sejarah saling membentuk makna dalam seni. Arsip, yang selama ini dipahami sebagai tempat penyimpanan memori, bukti, dan pengakuan atas masa lalu, menjadi titik tolak untuk menguji kembali apakah sebuah penamaan benar-benar mencerminkan esensi dan kebenaran yang dikandungnya, atau justru membentuk pemahaman tertentu yang terus diwariskan.

Proses penamaan dalam ilmu pengetahuan, dapat dibawa lewat kajian semiotika atau ilmu yang mempelajari tentang tanda. Proses penamaan disebut penanda dengan memerlukan sebuah objek yang bisa ditandai, tetapi dalam hadirnya situasi ini, apakah esensi penamaan yang menamai sesuatu bisa sepenuhnya melambangkan identitas dari objek tersebut? Atau justru hanya sebuah klaim agar terlihat berkuasa? Kegelisahan ini membawa kita kepada salah satu pameran tunggal bertajuk Menamai | Naming yang diselenggarakan oleh Gajah Gallery dari tanggal 26 Juli – 23 Agustus 2026. Pameran ini menampilkan banyak karya yang disuguhkan untuk pengunjung, hasil dari tangan sang seniman Octora.

Ditemui pada saat pembukaan perdana pameran Sabtu 25 Juli 2026 lalu, Octora sedikit membagi cerita pada pameran tunggalnya yang ia bawa tahun ini. Menamai | Naming berangkat dari diri sang seniman mengenai, nama, sejarah, perempuan, fotografi, instalasi, karya berbasis tenun, dan arsip, Octora melihat salah satu titik utama dalam pembawaannya di pameran ini adalah mengenai arsip, ia pergi ke Universitas Leiden untuk melihat arsip-arsip jaman penjajahan yang masih tersimpan. Octora juga berbagi keresahan tentang arsip sejarah Indonesia yang tidak disimpan di negeri sendiri, justru tersimpan banyak di negara lain, dengan alasan karena kurangnya fasilitas perawatan di Indonesia untuk benda-benda bersejarah. Octora dalam pamerannya bercerita tentang menamai, menjadikan sebuah ruang untuk melihat nilai historis lewat nama.

Saat masuk pada ruang pameran, mata pengunjung akan langsung tertuju pada salah satu karya berjudul Word bertuliskan “Kurebahkan sukmaku dalam rekam cahaya abadimu.” Mengajak pengunjung untuk merefleksikan sesuatu dari masa lalu yang kembali hadir di pameran ini, melihat sebuah kebenaran yang sebelumnya terkunci lewat informasi terbatas. Octora kemudian  membawa nama, sejarah, dan arsip yang membentuk sebuah pesan dalam pameran ini untuk mengetahui bahwa saat kolonialisasi datang, mereka membawa sebuah ideologi yang membentuk cara berpikir berbeda, pengaruhnya berdampak pada suatu kebenaran yang dihilangkan.

Merino Wool sebagai salah satu bahan yang dihadirkan oleh Octora untuk banyak karyanya. Visual yang sangat apik ditunjukkan saat bersentuhan dengan lampu sorot di ruang pameran dan efek timbul yang memainkan mata, kilauan cahaya dalam karya berjudul After Stratz akan menghipnotis mata pengunjung hingga betah menikmati estetika karyanya, efek timbul dari karya Gluteal Gaze yang memanjakan mata  juga turut mendampingi, rasanya seperti kembali hidup dalam memori sejarah yang bisa dirasakan kembali. Pembentukan karya yang dilakukan Octora dalam Merino Wool dirajut dengan inspirasi arsip dari Universitas Leiden, yaitu foto wanita Jawa jaman dahulu. Setiap rajutan terukir indah, bisa direfleksikan dalam prosesnya secara perlahan sambil membawa memori masa lampau, representasi ini melihat bahwa nama tidak luput dari sejarah, bayang-bayangnya akan terus hadir dalam realita. 

Karya lain seperti The Flower That Remembers juga menarik perhatian pengunjung yang datang, sebuah instalasi berbentuk bunga Rafflesia atau Padma Raksasa menghadirkan sebuah detail unik, yaitu sebuah mata yang berada di dalam putik bunga seperti melihat ke arah pengunjung, kehadiran ini menjadi sebuah histori tentang penamaan bunga tersebut. Mata menjadi representasi kepemilikan bunga tersebut yang sudah dinamai, kemudian permainan psikologi, saat pengunjung melihat instalasi tersebut, menggambarkan tiba-tiba ada seorang datang mengkaji, kemudian mengarsip dan menamai bunga tersebut dengan namanya sendiri, makna ini menjadi sebuah ironi bahwa siapa yang lebih unggul, dia yang akan menguasai sesuatu.

Pameran Menamai | Naming dari Octora membawa pengunjung merefleksikan sebuah sejarah lewat nama. Karya tenun yang terinspirasi dari foto menjadikan estetika sepanjang ruang galeri ini terasa dalam. Lewat nama, relasi kekuasaan menjadi sangat nyata, siapa yang lebih berkuasa akan membalikkan cara pandang yang dikuasai. Pengaruh tersebut berdampak pada kebenaran mutlak yang memang sudah ada terlebih dahulu, tetapi kebenaran apa saja bisa dipukul mundur oleh sesuatu yang ingin duduk di atasnya, pameran ini menarik untuk pengunjung yang ingin merefleksikan sejarah melalui nama, dengan memperlihatkan sebuah arsip foto yang dibungkus pada instalasi dan rajutan karya.