Vivienne Westwood & Jewellery Akhirnya Akan Mendarat di Bangkok

Setelah Wellington, Shanghai, Chengdu, dan Makau, pamerian ini sambangi ke Asia Tenggara.

“Beli lebih sedikit, pilih dengan baik dan jadikan tahan lama.” Prinsip yang selama puluhan tahun jadi mantra Vivienne Westwood dalam melihat mode itu kini jadi pintu masuk untuk memahami satu sisi paling pribadi dari warisannya: perhiasan. Mulai 11 September hingga 23 Oktober 2026, sisi itu akan dipamerkan untuk pertama kalinya di Thailand, lewat pameran Vivienne Westwood & Jewellery yang singgah di Level 2 Event Hall, Central Chidlom, Bangkok.

Munculnya pameran ini bukan suatu kebetulan. Ia merupakan bagian dari tur dunia yang telah membawa koleksi arsip mendiang desainer asal Inggris di tiga benua. Pameran ini diluncurkan pada Januari 2025 di Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa, Wellington, sebelum berlanjut ke Shanghai dan Chengdu, lalu singgah di Makau sebagai perhentian terakhir sebelum akhirnya tiba di Bangkok — kota pertama di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumahnya.

Menariknya, hubungan Westwood dengan perhiasan bermula dari sebuah kecelakaan kecil dalam kariernya. Pada tahun 1957, di usia 17 tahun, ia pindah dari Derbyshire ke London untuk belajar mode di Harrow Art School. Namun ia tak beta — kelas yang menuntutnya menggambar terus-menerus terasa jauh dari bayangannya soal membuat pakaian asli — sehingga ia pindah ke jurusan seni perak (silversmithing). Ia hanya bertahan satu semester di sana, tapi ironisnya, itulah satu-satunya pendidikan formal desain yang pernah ia tempuh seumur hidup, dan fondasi itulah yang kelak melahirkan bahasa visual perhiasannya yang begitu khas: pin pengaman, mutiara palsu, hingga Orb yang jadi identitas dagang.

Diproduksi bersama Nomad Exhibitions, pameran ini bukan mode retrospeksi konvensional yang biasa memajang gaun demi gaun di atas manekin. Untuk pertama kalinya, lebih dari 600 perhiasan arsip dan panggung — bersama busana serta aksesori — dikurasi dan dipamerkan sebagai satu koleksi utuh, dengan tiap karya disajikan layaknya objet d’art dalam kabinet berpencahayaan khusus, menggabungkan kolase visual, foto, dan rekaman yang menghidupkan kembali koleksi dan pertunjukan catwalk ikoniknya. Semangat itu sejalan dengan prinsip Westwood sendiri yang kerap ia ulang-ulang setiap merancang koleksi baru: “frasa yang selalu diingat adalah belum pernah terlihat'” — sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Perjalanan itu dibagi ke dalam delapan ruangan, masing-masing mewakili dekadensi dan tema berbeda: dari akar punk yang membuatnya meledak, dunia fantasi ala Wonderland, filosofi Do It Yourself yang ramah lingkungan, penjelajahan lintas budaya lewat parure abad ke-18, hingga satu ruangan yang didedikasikan penuh untuk simbol dagangnya yang paling dikenal: Orb. Motif satelit menyerupai Saturnus yang dililitkan pada bola kekuasaan monarki Inggris ini lahir pada tahun 1985, dan sejak itu jadi representasi visual paling padat dari cara Westwood menabrakkan tradisi dengan masa depan — persist seperti cara memperlakukan mode sebagai alat kritik, bukan sekadar estetika.

Kurasi pameran ini digarap langsung oleh tim Vivienne Westwood, dengan sentuhan kreatif Andreas Kronthaler — pasangan sekaligus penerus estafet kreatif rumah mode ini — yang memastikan setiap koleksi arsip tetap terasa hidup dan relevan, bukan sekadar artefak masa lalu yang dipajang dalam kaca.

Di ujung rute pameran, pengunjung akan disambut Vivienne Westwood Exhibition Shop, satu-satunya tempat yang menjual merchandise edisi terbatas yang dirancang khusus untuk perhentian di Bangkok ini — kesempatan langka bagi kolektor yang tak ingin pulang dengan tangan kosong.

Pameran buka setiap hari pukul 10.00–22.00 waktu setempat, sepanjang periode 11 September–23 Oktober 2026. Bagi yang ingin menghemat, tiket early bird seharga THB 160 atau setara dengan Rp86.229. tersedia melalui Ticketmelon pada 10–25 Agustus, sebelum harga normal THB 200 atau setara dengan Rp107.786 berlaku hingga hari pameran terakhir.

Hal yang membuat kehadiran pameran ini di Bangkok terasa pas bukan hanya soal geografi. Westwood selalu memosisikan dirinya sebagai desainer yang menolak logika mode cepat — filosofi yang, secara tak terduga, semakin relevan di tengah perubahan kesadaran konsumen Asia Tenggara terhadap isu keinginan. Nomad Exhibitions sendiri merancang tur ini dengan mengurangi prinsip, menggunakan ulang, dan mendaur ulang material, demi meminimalkan limbah pameran, sejalan dengan etos hidup hemat dan tahan lama yang selalu digaungkan Westwood selama hidupnya.

Bagi publik seni dan mode Asia Tenggara, kehadiran koleksi ini di Bangkok adalah momen langka untuk melihat dari dekat bagaimana seorang desainer bisa mengubah peniti pengaman, mutiara, dan lambang kerajaan menjadi pemahaman visual yang bertahan lebih dari empat dekade — dan masih terasa provokatif hingga hari ini.

Foto-foto: Nomad Exhibitions