“Polluted Water Popsicle” Sebuah Aksi Artistik yang Membangun Kesadaran Lingkungan

Foto: via adswithbenefits.in

Apa jadinya kalau air sungai yang kotor diubah menjadi popsicle berwarna-warni yang terlihat menyegarkan? Alih-alih menjadi makanan penutup yang menggugah selera, benda-benda ini justru membawa pesan yang cukup mengganggu tentang kondisi lingkungan. Inilah ide di balik Polluted Water Popsicles, sebuah karya dari tiga mahasiswa National Taiwan University of the Arts yang menggunakan air tercemar sebagai medium untuk menyuarakan persoalan polusi air. 

Dibuat pada 2017, proyek ini digagas oleh Hong Yi-chen, Guo Yi-hui, dan Zheng Yu-di, tiga mahasiswa jurusan Visual Communication Design yang saat itu sedang menempuh tahun terakhir studi mereka. Melalui karya ini, ketiganya mencoba mengajak publik melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang berbeda. Bukan melalui poster kampanye yang penuh peringatan atau data statistik yang sulit dicerna, melainkan lewat benda sehari-hari yang akrab dengan banyak orang–popsicle. Sekilas, popsicle dalam proyek ini terlihat seperti produk es yang bisa ditemukan di toko. Ada bentuk yang menyerupai es loli, warna yang beragam, serta kemasan yang dirancang menyerupai produk makanan komersial. Namun, ketika dilihat lebih dekat, isinya justru memperlihatkan sesuatu yang jauh dari kesan menyegarkan.

Alih-alih buah atau sirup, popsicle tersebut berisi air yang dikumpulkan dari 100 sumber air tercemar di Taiwan. Sampelnya berasal dari berbagai lokasi, termasuk sungai, pelabuhan, pantai, selokan, hingga saluran pembuangan limbah. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat berbagai jenis kontaminasi, mulai dari potongan plastik, puntung rokok, tutup botol, serangga, hingga sisa sampah lainnya. Beberapa sampel bahkan memiliki warna mencolok yang sekilas mengingatkan pada varian rasa buah. Kontras antara penampilan dan isi menjadi bagian penting dari karya ini. Sesuatu yang awalnya terlihat menarik justru menimbulkan rasa tidak nyaman ketika publik mengetahui bahan yang sebenarnya digunakan. Pertanyaan sederhana pun muncul: kalau air yang tercemar bisa terlihat seperti sesuatu yang ingin kita konsumsi, seberapa sering kita mengabaikan kondisi lingkungan di sekitar kita?

Foto: via adswithbenefits.in

Menurut laporan Taipei Times pada 2017, Hong Yi-chen menjelaskan bahwa proyek tersebut dibuat untuk menarik perhatian terhadap penurunan kualitas sumber air. Timnya melihat bahwa pendekatan kampanye lingkungan yang biasa belum tentu cukup untuk membuat masyarakat benar-benar memperhatikan persoalan tersebut. Karena itu, mereka memilih pendekatan visual yang mampu memancing rasa penasaran sekaligus menciptakan reaksi emosional. Proses pembuatan Polluted Water Popsicles dimulai dengan perjalanan mengumpulkan sampel air dari 100 lokasi di Taiwan. Ketiganya mendatangi berbagai sumber air yang menunjukkan persoalan pencemaran, lalu membawa sampel tersebut kembali ke kampus untuk diolah menjadi bagian dari karya.

Air yang terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam cetakan popsicle dan dibekukan. Proses ini mempertahankan tampilan sampel beserta material yang terdapat di dalamnya, sehingga kondisi air dapat diamati secara langsung. Namun, bentuk es tersebut tidak dibiarkan mencair sebagai objek pameran. Tim kemudian membuat replika menggunakan polyester resin, material yang memungkinkan bentuk, warna, dan konten visual setiap popsicle dipertahankan untuk kebutuhan display. Dengan cara ini, karya mereka tidak berhenti sebagai eksperimen sederhana menggunakan air kotor. Setiap objek menjadi semacam dokumentasi visual dari lokasi tempat sampel tersebut berasal. Perbedaan warna, tingkat kekeruhan, dan sampah yang terperangkap di dalamnya memperlihatkan bahwa pencemaran tidak selalu memiliki bentuk yang sama.

Tim juga merancang kemasan individual untuk setiap popsicle. Kemasan tersebut mencantumkan informasi mengenai asal sampel dan konten yang ditemukan di dalamnya, menyerupai label bahan pada produk makanan yang dijual secara komersial. Pilihan desain ini membuat karya terasa semakin dekat dengan keseharian publik, sekaligus memperkuat ironi yang ingin disampaikan. Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, popsicle ini bukan makanan dan sama sekali tidak aman untuk dikonsumsi. Bentuknya memang menyerupai es loli, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai objek seni dan media edukasi lingkungan. Hong Yi-chen, Guo Yi-hui, dan Zheng Yu-di berasal dari lingkungan pendidikan desain visual di National Taiwan University of the Arts. Proyek ini menjadi karya kelulusan mereka yang mempertemukan keterampilan desain dengan persoalan sosial dan lingkungan. Latar belakang tersebut cukup terlihat dari cara mereka mengembangkan proyek. Mereka tidak hanya mengumpulkan objek yang menunjukkan pencemaran, tetapi juga memikirkan bagaimana objek itu akan dilihat, dipahami, dan diingat oleh audiens. Bentuk popsicle, pilihan warna, kemasan, serta informasi tentang asal air bekerja sebagai satu kesatuan komunikasi visual.

Foto: via preventedoceanplastic.com

Alih-alih menyampaikan pesan secara langsung dengan nada menggurui, ketiganya membiarkan publik mengalami perubahan persepsi. Pada pandangan pertama, orang mungkin merasa penasaran atau bahkan tertarik dengan bentuknya. Namun, setelah mengetahui isi sebenarnya, ketertarikan itu dapat berubah menjadi rasa jijik, kaget, atau khawatir. Pendekatan ini menunjukkan bahwa desain bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat menarik. Desain juga dapat digunakan untuk membangun percakapan mengenai isu yang sering luput dari perhatian. Melalui Polluted Water Popsicles, ketiganya membuktikan bahwa bahasa visual dapat menjadi pintu masuk untuk membahas persoalan yang lebih besar daripada objek itu sendiri.

Salah satu kekuatan karya ini terletak pada kemampuannya menghubungkan persoalan lingkungan dengan pengalaman sehari-hari. Air tercemar mungkin terasa seperti masalah yang jauh, terutama bagi orang yang tidak tinggal di dekat sungai atau kawasan industri. Namun, air merupakan sumber daya yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, ekosistem, dan keberlanjutan lingkungan. Di sinilah seni dapat mengambil peran. Sebagai medium kesadaran akan nature and sustainability, karya seni tidak harus selalu menawarkan solusi teknis atau menjelaskan persoalan melalui data yang rumit. Seni juga dapat membuat publik berhenti sejenak, memperhatikan sesuatu yang sebelumnya diabaikan, lalu mempertanyakan kebiasaan dan cara pandang mereka sendiri.

Foto: via amanutricresci.com

Polluted Water Popsicles tidak membersihkan sungai atau menghentikan pembuangan limbah secara langsung. Namun, karya ini membuat persoalan pencemaran hadir dalam bentuk yang konkret dan sulit diabaikan. Publik tidak hanya membaca bahwa air telah tercemar, tetapi melihat jejak pencemaran tersebut melalui objek yang dapat diamati dari dekat. Pada 2017, proyek ini dipamerkan dalam New Generation of Design Exhibition di Taipei World Trade Center dan mendapat perhatian dari berbagai media internasional. Respons tersebut memperlihatkan bagaimana ide sederhana dapat menjangkau audiens yang lebih luas ketika disampaikan melalui pendekatan visual yang kuat. Pada akhirnya, Polluted Water Popsicles mengajak kita memikirkan kembali hubungan antara manusia dan lingkungan. Sampah yang terperangkap di dalam setiap popsicle bukan hanya elemen visual untuk menciptakan efek mengejutkan, melainkan bukti bahwa aktivitas manusia meninggalkan jejak pada sumber daya alam.