
Foto: via sfeir-semler.com
Dalam Biennale Arte 2026 di Venesia, Lawrence Abu Hamdan menghadirkan sebuah karya yang berangkat dari suara-suara yang hilang. 450XL: The Story of a Fugitive Sound (2026), yang dipresentasikan dalam pameran Canicula di Complesso dell’Ospedaletto, menelusuri sebuah suara yang secara resmi dianggap tidak pernah terjadi. Pameran yang dikuratori Alessandro Rabottini dan Leonardo Bigazzi ini merupakan bab terakhir dari “Trilogy of Uncertainties” yang digagas Fondazione In Between Art Film.
Kisahnya bermula pada 15 Maret 2025 di Belgrade, Serbia. Mereka mengheningkan cipta selama 15 menit untuk mengenang para korban runtuhnya kanopi Stasiun Kereta Novi Sad. Namun, menjelang aksi berakhir, sesuatu terjadi. Kerumunan tiba-tiba terpencar dan orang-orang berlarian, seolah-olah ada sesuatu yang datang ke arah mereka. Tidak ada yang tampak jelas dalam rekaman video. Suaranya pun hampir tidak tertangkap. Pemerintah Serbia kemudian menyangkal bahwa peristiwa semacam itu terjadi.
Di sinilah investigasi Earshot, organisasi audio-forensik yang didirikan Abu Hamdan pada 2023, mengambil peran. Dengan menelaah 15 wawancara dengan saksi pendengaran atau earwitness, 19 video, serta 3.244 kesaksian tertulis, investigasi tersebut mengarah pada dugaan penggunaan LRAD 450XL, sebuah senjata akustik terarah. Para saksi menggambarkan suara yang mereka dengar seperti mesin raksasa yang bergerak mendekat.

Foto: via sfeir-semler.com
Temuan investigasi itu kemudian diterjemahkan Abu Hamdan ke dalam instalasi yang terdiri atas 15 layar, menampilkan kesaksian tertulis dan rekaman dari aksi di Belgrade. Rekaman-rekaman tersebut tidak memberikan jawaban yang jelas tentang apa yang membuat massa berlarian. Karena itu, karya ini mengandalkan cerita dari orang-orang yang berada di lokasi dan mendengar suara tersebut secara langsung.
Bagi Abu Hamdan, suara memang tidak pernah sekadar suara. Selama lebih dari satu dekade, seniman yang menyebut dirinya sebagai “Private Ear” ini menggunakan suara, ingatan, dan kesaksian pendengaran untuk menyelidiki berbagai persoalan terkait kekerasan dan hak asasi manusia. Praktik tersebut juga terlihat dalam Earwitness Theatre (2018), ketika kesaksian para mantan tahanan penjara militer Suriah digunakan untuk membayangkan kembali bentuk dan suasana penjara berdasarkan suara yang mereka ingat. Karya tersebut turut membawanya meraih Turner Prize pada 2019.

Foto: via sfeir-semler.com
Dalam 450XL, perhatian Abu Hamdan kembali tertuju pada kesaksian mereka yang mendengar sebuah peristiwa secara langsung. Namun, kali ini yang dicari bukan suara yang terdengar, melainkan suara yang bahkan tidak ada jejak rekamannya. Suara yang “hilang.”
Ketika bukti audio dan visual tidak cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi, kesaksian manusia tentu menjadi penting. Karena itu, 450XL bukan hanya karya tentang sebuah senjata akustik. Karya ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa dapat diceritakan melalui pengalaman kolektif—ingatan orang-orang yang mengalaminya, dan kemudian bisa menjadi arsip alternatif. Di antara layar-layar, teks, dan rekaman yang disusun Abu Hamdan, pengunjung diajak mempertimbangkan satu pertanyaan sederhana: jika sebuah peristiwa tidak berhasil direkam, apakah berarti peristiwa tersebut tidak pernah terjadi?