
Sumber: www.artbasel.com
Setahun belakangan, rupa-rupanya ada sedikit pergeseran dalam pengoleksian karya seni di pasar seni global, dan hal ini meliputi keterlibatan Generasi Z, Artificial Intelligent (AI), serta kepemilikan yang bersifat privasi di dalamnya.
Gambaran ini tertuang dalam The Art Basel and UBS Survey of Global Collecting 2026, laporan yang disusun oleh Dr. Clare McAndrew dari Arts Economics melalui kolaborasi Art Basel dan UBS. Penelitian yang dilakukan pada pertengahan 2026 tersebut mengumpulkan tanggapan dari 3.100 individu dengan kekayaan bersih tinggi (high-net-worth individuals atau HNWIs) yang aktif di pasar seni. Pun penelitian ini mencakup 10 pasar: Amerika Serikat, Inggris, Cina daratan, Hongkong, Prancis, Australia, Jerman, Jepang, Brasil, dan Singapura. Temuannya menyuguhkan gambaran tentang bagaimana preferensi, teknologi, dan pergantian generasi membentuk praktik art collecting saat ini. Berikut rangkuman laporannya:
1. Starting a Collection
Dalam survei ini, pengaruh keluarga ternyata menjadi cara paling umum untuk mulai mengoleksi karya. Hal ini disebut oleh 28% responden dan meningkat menjadi 40% di kalangan Generasi Z. Kunjungan ke museum, galeri, dan pameran menempati urutan berikutnya. Dari segi medium, lukisan pun masih menjadi pilihan awal yang dominan: 43% responden memasukkannya ke dalam tiga kategori pertama yang mereka beli.
2. Research & Discovery
Sebelum membeli karya, kolektor kini semakin aktif mencari informasi secara mandiri. Responden yang meriset meningkat dari 62% pada 2025 menjadi 72% pada 2026. AI turut memperoleh tempat dalam proses tersebut. Penggunaan perangkat AI sebagai sumber saran melonjak dari 4% pada 2024 menjadi 22% pada 2026. Namun, kemudahan menemukan karya baru belum tentu berujung pada transaksi. Setelah mencapai 66% pada 2025, jumlah kolektor yang membeli karya seniman yang baru mereka kenal turun menjadi 45% pada 2026.
3. Gen Z Spending
Generasi Z menjadi salah satu sorotan utama laporan ini karena besarnya pengeluaran mereka untuk seni rupa. Pada 2025, rata-rata pengeluaran Gen Z mencapai US$347.460, meningkat 19% dari tahun sebelumnya dan lebih dari dua kali lipat rata-rata generasi yang lebih tua. Tren tersebut berlanjut pada paruh pertama 2026. Sebanyak 13% kolektor Gen Z bahkan menghabiskan lebih dari US$1 juta secara kumulatif untuk seni rupa dalam periode tersebut, dibandingkan 3% dari seluruh responden. Meski demikian, temuan ini perlu dibaca dalam konteks survei yang secara khusus menarget HNWIs.
4. Spending on Art & Collectibles
Lukisan terbukti masih menduduki posisi teratas. Pada paruh pertama 2026, medium ini menyumbang 31% dari total pengeluaran seni rupa, diikuti patung sebesar 15%, karya-karya kertas 10%, dan seni digital 9%. Jika seni rupa dan seni dekoratif digabungkan, keduanya mencakup 55% dari total pengeluaran untuk seni dan barang koleksi. Di luar kategori tersebut, barang antik, perhiasan dan batu permata, serta jam tangan menjadi pilihan populer di kalangan responden.
5. Sales Channels
Sepanjang 2025–2026, 87% responden membeli karya melalui dealer, baik secara langsung maupun di pameran seni. Jika transaksi di pameran turut dihitung, dealer sudah menyumbang 42% dari total pengeluaran kolektor. Namun, transaksi langsung antara seniman dan pembeli juga semakin berkembang. Proporsi kolektor yang membeli langsung dari seniman mencapai 69%, naik enam persen dibanding tahun sebelumnya. Studio seniman, karya pesanan, dan Instagram juga telah menjadi jalur transaksi.
6. Events
Pameran dan berbagai acara seni masih jadi bagian penting dari pengalaman mengoleksi. Para responden memperkirakan akan menghadiri rata-rata 44 acara sepanjang 2026, sedikit menurun dari 46 acara pada 2025, tetapi tetap lebih tinggi daripada rata-rata 41 acara pada 2019. Perempuan tercatat menghadiri sekitar 20% lebih banyak acara dibandingkan laki-laki. Menariknya, kolektor yang mengenal seni lewat internet dan media sosial justru menghadiri rata-rata 52 acara, lebih banyak daripada kolektor yang memulainya lewat keluarga atau paparan budaya.
7. Female Collecting
Perbedaan pola art collecting juga terlihat berdasarkan gender. Sebanyak 84% kolektor perempuan memiliki lukisan, dibandingkan 73% kolektor laki-laki. Perempuan juga mengoleksi lebih banyak karya seniman baru (36%) dibandingkan laki-laki (33%). Meski karya seniman laki-laki masih mendominasi koleksi secara keseluruhan (56%), kolektor perempuan memiliki proporsi karya seniman perempuan lebih tinggi (46%) dibandingkan kolektor laki-laki (43%).
8. Privacy & Ownership
Sebagian besar responden rupanya memilih menjaga informasi kepemilikan dalam lingkup pribadi; 64% membatasinya pada rumah tangga atau lingkungan terdekat, sementara hanya 10% yang menginginkan pengakuan luas. Kecenderungan ini terlihat kuat di kalangan Gen Z, yang lebih sering membatasi akses terhadap koleksi, baik secara langsung maupun melalui konten digital. Keunikan dan kelangkaan juga menjadi pertimbangan utama bagi 43% responden, terutama kolektor muda.
9. Collection Plans
Optimisme kolektor tercermin dari rencana setahun ke depan: 39% ingin menambah koleksi, sementara 23% berencana menjual karya. Lukisan juga masih jadi minat utama kolektor (49%). Selain itu, 23% berencana menyumbangkan karya ke museum atau badan amal, 28% ingin mendukung seniman melalui penghargaan dan program pengembangan karier, sementara 26% berencana mendirikan yayasan atau museum pribadi—pilihan yang paling diminati kolektor Gen Z (29%) .
10. Collectors’ Outlook
Sebanyak 57% memperkirakan pasar seni rupa akan tumbuh pada sisa 2026, sementara 60% optimistis terhadap perkembangannya dalam 10 tahun ke depan. Namun, transparansi pasar, termasuk harga yang tidak terbuka, biaya tersembunyi, dan konflik kepentingan, menjadi kekhawatiran utama responden. Keamanan data pribadi dan fluktuasi permintaan juga jadi perhatian penting.
Survei Art Basel dan UBS 2026 memperlihatkan pasar seni global yang semakin dipengaruhi generasi muda, teknologi digital, dan perubahan cara kolektor membangun relasi dengan karya maupun seniman. Lukisan dan dealer masih memegang peranan penting, tetapi AI dan transaksi langsung memperluas cara seni ditemukan serta diperjualbelikan. Di tengah prospek pasar yang positif, transparansi dan kepercayaan tetap jadi tantangan utama bagi perkembangan ekosistem seni ke depannya.