Foto Sapi di TPA Jogja Berhasil Raih Kompetisi Internasional

Berkat karyanya, Yudha Kusuma Putera, meraih gelar Hasselblad Masters 2026.

Nama Yudha Kusuma Putera mungkin tidak sepopuler seniman visual arus utama Indonesia, tapi di kalangan komunitas fotografi kontemporer Yogyakarta, ia dikenal luas — kerap disapa dengan nama panggung Fehung. Lahir di Magelang pada 1987, Yudha adalah perupa yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta, dan sejak 2011 aktif bersama kolektif seniman Mes 56 yang berfokus pada perkembangan fotografi seni kontemporer di Indonesia. Landasan teori visualnya diperoleh dari Jurusan Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sementara sejumlah magang dan residensi menjadi ruang pematangan praktik kekaryaannya.

Yang menonjol dari cara kerja Yudha adalah kepekaannya terhadap hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang kebanyakan. Ia tertarik pada relasi antarmanusia, serta hubungan yang intim dan dekat antara manusia dan alam, dengan medium fotografi yang ia gunakan sebagai cara berpikir dan melihat — membuka kemungkinan karya lintas medium dan lintas disiplin.

Pendekatan itulah yang kini membawanya ke panggung internasional: awal Juli 2026, Yudha dinobatkan sebagai satu dari tujuh pemenang kompetisi fotografi paling bergengsi di dunia, Hasselblad Masters 2026, mewakili kategori Art.

Sampah yang Berpindah Benua

Karya yang mengantarkan Yudha meraih gelar tersebut berjudul Waste Colonialism (Sapi-Sapi Piyungan). Terinspirasi oleh kehidupan sehari-hari dan kompleksitasnya, Yudha mengarahkan pandangannya yang tajam pada isu-isu sosial yang bersembunyi di depan mata, mengeksplorasi ketegangan antara manusia, alam, dan sistem yang kita bangun sendiri. Rangkaian foto ini merupakan bagian dari proyek yang mengamati bagaimana negara-negara maju mengekspor sampah mereka ke negara berkembang, tempat biaya dan tenaga kerja jauh lebih murah.

Lokasi pemotretannya adalah Tempat Pembuangan Akhir Piyungan di Yogyakarta, tempat sampah kota disortir oleh para pemulung dan sebagian dikonsumsi oleh sapi — yang kemudian membentuk gundukan sampah baru, dengan bentuk tubuh mereka seolah mencerminkan lanskap sampah di sekelilingnya. Karya ini, menurut keterangan resmi Hasselblad, tidak bermaksud menuding pihak mana pun, melainkan mengajak refleksi bersama tentang sampah yang terus kita hasilkan dan masa depan yang tengah kita bangun darinya.

Dewan juri Hasselblad Masters memuji cara kerja Yudha yang tidak menggurui. Kalle Sanner, Direktur Eksekutif Hasselblad Foundation sekaligus Ketua Grand Jury, menyebut foto-foto tersebut secara sekilas tampak langsung dan tidak ambigu, namun terus-menerus menolak untuk dibaca dengan mudah, menghasilkan rasa ketidakpastian visual yang membuat penonton tetap terlibat dan mempertanyakan. Karya itu tidak berteriak untuk didengar, tapi mengganjar perhatian yang bertahan lama dengan keanehan yang terus membesar secara perlahan.

Bagi Yudha, gelar ini menjadi penegasan bahwa isu lokal — sampah dan sapi di tepi Piyungan — bisa berbicara dalam bahasa visual yang dipahami dunia, tanpa harus kehilangan akar keresahannya sendiri.

Tentang Hasselblad Masters 2026

Hasselblad Masters adalah kompetisi fotografi dwitahunan yang telah berlangsung sejak 2001, digelar oleh produsen kamera medium format asal Swedia, Hasselblad. Kompetisi ini terbuka bagi fotografer profesional, talenta baru, dan fotografer di bawah usia 21 tahun, dengan tujuh kategori: Landscape, Portrait, Street, Architecture, Art, Wildlife, dan Project//21.

Edisi 2026 menjaring lebih dari 108.000 foto dari fotografer di 160 negara dan wilayah, sebuah lonjakan skala yang menjadikan gelar Yudha semakin berat nilainya. Dari proses seleksi itu, terpilih 70 finalis — termasuk satu tambahan menyusul adanya diskualifikasi terkait penggunaan AI — sebelum Grand Jury bersama proses voting publik menentukan tujuh pemenang, satu dari tiap kategori.

Selain Yudha, enam Hasselblad Master lain tahun ini adalah Kevin Boyle dari Kanada (Architecture, seri Daysleeper | Movieland tentang arsitektur kota kecil yang ditinggalkan), Svetlana Jovanovic dari Belanda (Portrait, seri Otherness tentang kembar identik), Rohan Reilly dari Irlandia (Landscape, seri Ephemeral Visions yang memotret pohon poplar di tepi Sungai Po, Italia), Panitbhand Paribatra Na Ayudhya dari Thailand (Project//21, seri bawah laut Dwellers of the Night di perairan Anilao, Filipina), Gosse Bouma dari Belanda (Street, seri Morning Ritual tentang pasar jalanan), dan Alfred Minnaar dari Afrika Selatan (Wildlife, seri The Forest I Roam tentang kehidupan mikro di terumbu karang).

Sebagai Hasselblad Master, ketujuh pemenang berhak atas satu paket kamera Hasselblad 100 megapiksel pilihan mereka, dua lensa XCD, dan hadiah tunai 5.000 euro. Mereka juga akan berkolaborasi dengan Hasselblad dalam proyek bersama, dengan karyanya dimuat dalam buku peringatan Hasselblad Masters.

Foto-foto: Hasselblad Master