
Ketika Karya Agung Turun ke Karpet Merah
Met Gala 2026 bukan sekadar perayaan mode. Dengan dress code “Fashion Is Art”, para tamu hadir di Metropolitan Museum of Art dalam busana yang terinspirasi langsung dari karya seni, patung klasik Yunani, hingga gerakan-gerakan penting dalam sejarah seni rupa.
Hasilnya adalah sebuah malam di mana tangga museum menjadi galeri hidup. Karya-karya yang selama ini berdiam di museum-museum besar dunia, tiba-tiba berdenyut kembali dalam wujud gaun, jubah, dan ornamen. Berikut karya-karya paling bernilai sejarah yang hadir malam itu.
1. Winged Victory of Samothrace (sekitar 190 SM) — Kendall Jenner & Yu-Chi Lyra Kuo

Patung marmer Hellenistik ini menggambarkan Nike, dewi kemenangan Yunani, yang tengah mendarat di haluan sebuah kapal perang. Dibuat sekitar tahun 190 SM, ia adalah salah satu patung Hellenistik orisinal yang langka — bukan salinan Romawi — dan telah berdiri megah di puncak Tangga Daru di Louvre sejak 1883, menyambut jutaan pengunjung dari ketinggian.
Apa yang membuat patung ini abadi bukan hanya usianya, melainkan ketegangannya yang tak pernah mereda: kepala dan kedua lengannya tidak pernah ditemukan, namun justru ketidaklengkapan itu yang membuatnya terasa seperti bergerak, seperti baru saja tiba. Kain jubah Nike yang seolah basah dan diterpa angin laut adalah puncak teknik wet drapery Yunani kuno — sebuah prestasi teknis yang belum tertandingi. Malam itu, dua tamu — Kendall Jenner dalam Gap by Zac Posen dan Yu-Chi Lyra Kuo dalam Jean Paul Gaultier — sama-sama memilih patung yang sama sebagai inspirasi, tanpa saling berencana.
Baca juga: Panggung Mode Yu-Chi Lyra Kuo di Met Gala 2026
2. Portrait of Adele Bloch-Bauer I (1907) — Gracie Abrams

Portrait of Adele Bloch-Bauer I adalah karya paling representatif dari fase keemasan Gustav Klimt, diselesaikan antara 1903 dan 1907 dengan teknik yang luar biasa: lembaran emas dan perak sungguhan ditempel di atas kanvas, dipadukan dengan motif dekoratif tiga dimensi dari gipsum.
Di balik kemewahan visualnya tersimpan salah satu kisah paling memilukan dalam sejarah seni abad ke-20. Lukisan ini dicuri oleh Nazi pada 1941 dan dipajang di Galerie Belvedere Wina selama puluhan tahun — bahkan diganti namanya menjadi “The Woman in Gold” untuk menghapus jejak asal-usul Yahudinya. Setelah perjuangan hukum selama delapan tahun oleh pewaris keluarga Bloch-Bauer, lukisan ini akhirnya dikembalikan pada 2006 dan terjual dengan harga $135 juta — rekor harga lukisan tertinggi saat itu. Kisah ini kemudian diangkat menjadi film Woman in Gold (2015) dengan Helen Mirren. Gracie Abrams hadir dalam Chanel yang memantulkan kemewahan emas Klimt.
3. Madame X (1884) — Lauren Sánchez Bezos

Sedikit lukisan dalam sejarah seni yang pernah menghancurkan reputasi penciptanya dan subjeknya sekaligus — setidaknya untuk sementara. Ketika Madame X pertama kali dipamerkan di Paris Salon 1884, kritikus memburunya: mereka mengecam John Singer Sargent karena menampilkan potret seorang perempuan kelas atas Prancis yang langsung dikenali publik — Virginie Amélie Avegno Gautreau — dalam pose yang dianggap cabul, terutama tali gaun yang terkulai dari bahunya.
Sargent tidak pernah mendapat komisi untuk lukisan ini; ia mendekatkan diri kepada Gautreau sendiri dan mengusulkan potret yang ia harap akan mengukuhkan namanya sebagai pelukis salon terkemuka di Paris. Akibat skandal itu, ia terpaksa meninggalkan Prancis selamanya. Ia kemudian menjual lukisan itu langsung ke Metropolitan Museum of Art pada 1916. Ia juga meminta museum menyamarkan nama sang model. Hari ini Madame X tergantung di sayap Amerika Met — dan Lauren Sánchez Bezos dalam Schiaparelli malam itu seolah memanggil semangat provokasinya kembali.
4. Portrait of Adele Bloch-Bauer versi kedua Klimt: Mäda Primavesi (1912) — Hunter Schafer

Klimt hadir dua kali di tangga Met Gala 2026. Mäda Primavesi adalah potret seorang gadis berusia sembilan tahun, putri dari patron seni dan pelindung Klimt, yang kini tersimpan di Metropolitan Museum of Art. Berbeda dari komposisi dewasa dan sarat emas Adele, Mäda memancarkan energi yang liar dan tegas — sang gadis berdiri tegak, menatap penonton tanpa malu-malu, dalam gaun putih bermotif bunga yang hampir terasa seperti deklarasi. Klimt melukis anak ini bukan sebagai objek kelucuan, tetapi sebagai individu yang utuh. Hunter Schafer, dalam Prada custom, membawa kembali keberanian tatapan itu.
5. The Execution of Lady Jane Grey (1833) — Rachel Zegler

Lukisan Paul Delaroche ini menangkap momen tepat sebelum eksekusi Lady Jane Grey — ratu Inggris berusia tujuh belas tahun yang hanya memerintah selama sembilan hari sebelum digulingkan dan dipenggal pada 12 Februari 1554. Jane digambarkan dalam gaun satin putih yang bercahaya, matanya tertutup, tangannya meraba-raba mencari balok eksekusi, sementara dua dayang menangis di sisi lain — satu roboh ke lantai, satu berpaling ke dinding tak sanggup menyaksikan.
Kisah sejarah lukisan ini pun tak kalah dramatis: karya ini sempat dianggap musnah terbawa banjir Sungai Thames 1928, hingga seorang kurator menemukan kanvasnya tergulung di antara permadani rusak pada 1973. Sejak dipamerkan kembali di National Gallery London pada 1975, lukisan ini langsung menjadi salah satu karya paling dicintai pengunjung — terutama generasi muda.
Rachel Zegler membawa kejernihan tragis itu ke anak tangga Met dalam gaun serba putih, menghidupkan kembali seorang ratu yang kerajaannya hanya sempat berumur sembilan hari.
Sumber foto: Vogue; Met Gala 2026; The National Gallery, London; Neue Galerie New York; Le Louvre.

