Mengenal Dian Suci, Pemenang MaxMara Art Prize for Women

Ketika Ruang Domestik Perempuan Menembus Panggung Seni Dunia

Pada 7 Mei 2026, bertepatan dengan pembukaan Venice Biennale ke-61, nama Dian Suci diumumkan sebagai pemenang Max Mara Art Prize for Women edisi ke-10. Seniman asal Yogyakarta ini mengalahkan empat finalis lainnya — Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, dan Mira Rizki — dan berhak menjalani residensi enam bulan di Italia untuk mengembangkan proyek seni terbarunya.

Perempuan Otodidak dari Yogyakarta

Dian Suci Rahmawati bukan lulusan seni rupa. Ia menempuh pendidikan di bidang Desain Arsitektur di Universitas Islam Indonesia (UII), lalu menjadi perupa secara otodidak — sebuah jalur yang justru membebaskannya dari konvensi institusi seni. Direktur Museum MACAN, Venus Lau, menyebut hal ini sebagai kekuatan tersendiri: latar belakang yang tidak lazim itu memberi Dian suara artistik yang independen dan otentik. “Saya percaya residensi di Italia akan menyediakan kerangka penting baginya untuk memperluas suara artistik ini,” ujar Venus Lau.

Kehidupan pribadinya bukan sekadar latar belakang — ia adalah bahan baku utama karya-karyanya. Sebagai ibu tunggal dari tiga anak, Dian menjalani dua dunia sekaligus: dunia domestik yang penuh tuntutan dan dunia seni yang memerlukan ruang serta fokus. Ketegangan antara keduanya inilah yang terus ia eksplorasi dalam setiap karyanya. “Ini caraku menggambarkan seorang perempuan dengan segala yang terjadi dalam ranah domestiknya,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Bahasa Tubuh, Kritik, dan Spiritualitas

Dian bekerja lintas medium: lukisan, instalasi, ilustrasi, ukiran kayu, tekstil, hingga video. Yang paling konsisten adalah kehadiran figur perempuan dalam karyanya — sering kali dirinya sendiri — yang jarang menatap langsung ke penonton. Wajah mereka tersembunyi atau berpaling, hadir dalam momen doa sunyi atau pelukan diri. Di sekitar mereka muncul simbol-simbol berulang: mawar yang terbakar, kerang yang terbuka, delima yang terbelah — motif yang merujuk pada penyembuhan, perawatan, dan tradisi panjang feminitas dari herbalisme hingga mitologi kuno.

Praktiknya berada di persimpangan antara feminisme, kritik sosial, dan spiritualitas. Narasi karya-karyanya bersinggungan erat dengan isu domestik dan kekuasaan politik: bagaimana patriarki, otoritarianisme, dan kapitalisme membentuk serta membatasi tubuh dan ruang gerak perempuan. Namun pendekatan Dian tidak konfrontatif. Ia memilih bahasa yang intim dan lirih — lebih mirip bisikan daripada teriakan.

Karya-Karya yang Membentuk Namanya

Salah satu karya awal yang mencuri perhatian adalah instalasi di Jogja Contemporary pada Desember 2016. Dian menyusun pidato Soeharto tentang Dharma Wanita menggunakan benang merah yang dirajut menjadi teks. Pilihan medium benang — material yang melekat pada kerja tangan perempuan — menjadi kritik atas ideologi yang membungkus pembatasan dalam simbol “keibuan” dan “pengabdian” kepada negara.

Pameran tunggal perdananya pada 2018 di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, berjudul Aku Pingin Crita Dawa. Nanging Apa Kowe Kuwawa? Aku Kuwawa? — atau dalam bahasa Indonesia: “Aku ingin cerita panjang. Tapi apakah kamu sanggup? Aku sanggup?” Melalui lukisan dan mural yang digarap hampir sebulan, Dian menjadikan ruang-ruang yang akrab — rumah, pekarangan, halaman belakang — sebagai ruang tumpah ide. Karya-karya itu adalah solilokui visual: percakapan seorang perempuan dengan dirinya sendiri tentang banyak hal yang tak pernah tunggal, yang tak mudah diceritakan kepada orang lain.

Karya terbarunya sebelum kemenangan ini, pameran tunggal In the Name of Our Mother on Earth di BAIK ART Jakarta (Februari–Maret 2026) yang dikurasi oleh Ibrahim Soetomo, menandai babak baru dalam perjalanannya. Dian menginversi doa patriarkal “Bapa Kami yang ada di surga” dan menggeser pusat spiritualitas ke sistem yang jauh lebih tua: kosmologi dan garis keturunan matrilineal. Lukisan-lukisan dalam pameran ini berfungsi seperti monolog batin yang tetap ada bahkan tanpa kehadiran penonton. Sementara instalasi ruangnya — lapisan kain transparan, teks, dan ukiran kayu yang digantung — secara fisik menarik pengunjung masuk ke dalam narasi tentang perempuan, rumah, dan kekuasaan negara.

Crafting Spirit dan Residensi Italia

Proposal yang membawanya memenangkan Max Mara Art Prize berjudul Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice. Lewat proyek ini, Dian ingin menelusuri hubungan antara spiritualitas, kerja kriya, dan sistem kapitalisme melalui dialog riset antara Indonesia dan Italia. Ia memandang kriya bukan sebagai teknik produksi semata, melainkan sebagai arsip hidup yang menyimpan tradisi, ingatan, dan identitas suatu bangsa — sekaligus cermin bagi transformasi budaya, sosial, dan ekonominya.

“Proposal saya lahir dari kisah-kisah tubuh dan ingatan dalam kehidupan dan gerak para perempuan perajin, yang pekerjaannya sering kali berada di antara devosi dan keberlangsungan hidup,” ujar Dian dalam keterangan resmi Museum MACAN.

Sebagai bagian dari penghargaan, ia akan berkeliling empat kota Italia selama enam bulan. Di Assisi, ia mempelajari kehidupan religius dan relasi antara keyakinan dengan komersialisasi. Di Roma, ia menghadiri misa khusus di Basilika Santo Petrus. Di Lecce, ia mendalami teknik papier-mâché tradisional melalui program pelatihan intensif. Dan di Firenze, perjalanannya ditutup dengan pendalaman teknik tempera telur dan tenun tangan.

Seluruh proses riset itu akan diendapkan menjadi karya baru yang dipresentasikan dalam pameran tunggal di Museum MACAN, Jakarta, pada pertengahan 2027 — dan di tahun yang sama juga dipajang di Reggio Emilia, Italia.

Kemenangan Dian Suci bukan lompatan yang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi kerja bertahun-tahun yang berangkat dari hal paling dekat: tubuh, rumah, dan kehidupan sehari-hari sebagai perempuan. Kini perjalanan itu membawanya ke panggung internasional — dan ke Italia, untuk belajar lebih jauh dari tradisi yang tak sepenuhnya berbeda dengan apa yang selama ini ia perjuangkan dalam karyanya.

Sumber foto: Museum Macan