Croy Chosa: Nicola Boyer Jadikan Anatomi Sebagai Struktur Arsitektural Busana

The Last Molt. Foto: Instagram/@NICOLABOYER

Menjadikan tubuh manusia sebagai medium eksplorasi untuk membicarakan identitas, politik tubuh, dan norma sosial sebenarnya sudah hadir dalam berbagai bentuk seni visual, bahkan busana, selama puluhan tahun. Meski demikian, isu perihal ketubuhan nyatanya masih relevan, sampai-sampai melatarbelakangi Nicolas Boyer dalam pembuatan karya busananya. 

Sebagai seorang desainer, gaya dari karya Boyer tidak lahir begitu saja. Dalam sebuah wawancara, ia secara terbuka menyebut Alexander McQueen dan Rei Kawakubo sebagai dua nama besar yang membentuk ketertarikan awalnya pada dunia fashion. Sementara itu, figur seni pertunjukan seperti Leigh Bowery, Matthew Barney, dan Marina Abramović turut memperluas pandangannya tentang bagaimana tubuh, performativitas serta seni dapat berkolaborasi menyampaikan gagasan yang tidak melulu perkara estetika semata. Satu benang merah dari figur-figur tersebut adalah mereka sama-sama provokatif, eksperimental, dan suka mendobrak batas-batas konvensional, yang kemudian menjadi fondasi karya Boyer.

Dalam praktiknya, Boyer tidak melihat tubuh sebagai sekadar manekin yang tinggal dipakaikan busana. Ia justru memperlakukan anatomi manusia—terutama bagian-bagian yang dicap terlalu besar atau tidak ideal—sebagai struktur arsitektural busananya. Pendekatan ini mewujud paling jelas dalam koleksinya yang dinamai Croy Chosa.

The Bethroted. Foto: Instagram/@NICOLABOYER

Croy Chosa

Nama Croy Chosa sendiri membawa beban sejarah yang cukup kelam, di mana istilah tersebut berakar dari kata hinaan pada Abad Pertengahan. Dalam buku The Metamorphoses of Fat: A History of Obesity, sejarawan asal Prancis Georges Vigarello menelusuri bagaimana persepsi tentang tubuh gemuk dan bahasa yang mengiringinya terus berubah sepanjang zaman. Ketika mengulas istilah-istilah di era Abad Pertengahan, Vigarello mencatat keberadaan kata cras dan crais, yang disinyalir memiliki keterkaitan etimologis dengan konsep sesuatu yang besar atau gemuk. Lalu kata tersebut berganti menjadi croy yang menekankan adanya immorality pada konsep tersebut, yang kemudian menjadi croy chosa, yang merujuk pada perempuan gemuk yang dianggap menyimpang dari aturan moral masyarakat kala itu.

The Impregnated. Foto: Instagram/@NICOLABOYER

Namun, dalam pandangan Boyer, ini bukan sekadar wacana ukuran fisik. Lewat koleksinya, ia merebut istilah yang dulunya adalah hinaan menjadi bentuk perlawanan. Dalam Croy Chosa, gemuk tubuh tidak disembunyikan secara santun agar dapat diterima oleh standar fashion konvensional. Boyer malah melakukan hal sebaliknya: “melebih-lebihkan” apa yang selama ini dipaksa harus “kecil” oleh masyarakat. Perut dibuat semakin bergelambir, lipatan lemak digandakan, juga bentuk bokong yang sengaja dipindahkan dari posisi anatomisnya. Di sinilah pendekatan Boyer menjadi menarik. Ia tidak sedang membuat busana untuk tubuh yang gemuk, melainkan membuat bentuk tubuh gemuk itu sendiri menjadi busana. 

Tubuh sebagai Garment Sculptures

Boyer lebih nyaman menyebut karyanya sebagai garment sculptures ketimbang sekadar pakaian. Bagi Boyer, perbedaannya terletak pada teknis pengerjaan, di mana busananya diciptakan khusus melalui teknik molding, yaitu dengan mengambil struktur dan bentuk tertentu tubuh manusia sebagai dasarnya. Oleh sebab itu, siluet-siluetnya tidak seperti pakaian sehari-hari, dan malah menyerupai lapisan kulit dalam, atau kulit yang tanggal, bahkan serupa cangkang raksasa. Ia tertarik mengeksplor potensi busana saat fungsinya tidak lagi terikat pada aturan siap pakai (wearability), melainkan hadir sebagai objek tiga dimensi yang mempertegas fisik seseorang.

Fokus utama Boyer pun bukanlah membuat karya yang bakal disukai banyak orang, tetapi karya yang memicu reaksi, baik itu pujian maupun kritik. Utamanya, ia ingin karyanya mampu mengusik kesadaran, mengedukasi, atau bahkan mengubah cara pandang publik. Ketika norma fashion menuntut tubuh gemuk untuk mengecil, Boyer justru membuatnya semakin besar, mengajak audiens berhenti sejenak dan mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap “normal.”

Garapan Boyer memang bukan upaya pertama dalam mengangkat isu tubuh ke panggung busana. Pun, ini tidak semata-mata kampanye body positivity yang kian usang. Namun, di tengah generasi kini—yang kerap terjebak dalam standar estetika instan dan tren inklusivitas yang artifisial—karyanya hadir sebagai pengingat yang lantang. Melalui Croy Chosa, Boyer tidak menyajikan keberagaman tubuh sebagai sekadar slogan manis, melainkan sebuah bentuk perlawanan visual yang nyata dan jujur.