Printing the Unprinted: Seni Grafis Indonesia di Venice Biennale 2026

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026. Foto: Alessandro Pasquali / Danae Project

Indonesia kembali berpartisipasi dalam Venice Biennale 2026 setelah enam tahun absen. Pada edisi kali ini, Paviliun Indonesia menghadirkan pameran bertajuk Printing the Unprinted, yang berfokus pada praktik seni cetak grafis dan mempertemukan tujuh perupa dari lintas generasi.

Pameran berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia, dan dikuratori oleh Aminudin TH Siregar. Tujuh seniman yang berpartisipasi adalah Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, R.E. Hartanto, Nurdian Ichsan, Theresia Agustina Sitompul (Terre), Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Partisipasi ini merupakan kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Danantara Indonesia Trust Fund, MTN Seni Budaya, dan Negeri Elok.

Printing the Unprinted berangkat dari sebuah pelayaran fiktif selama 14 tahun, dari 1472 hingga 1486, yang diceritakan sebagai perjalanan armada dari Danau Toba menuju Venesia melalui sejumlah pusat perdagangan dan pengetahuan di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Kisah tersebut disusun melalui manuskrip imajiner berjudul Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage, yang menjadi titik berangkat bagi rangkaian karya para seniman.

Agus Suwage, The King – Audience at the Republic of Batu. Foto: via finestresullarte.info

Agus Suwage membuka rangkaian perjalanan melalui tiga etsa yang membahas otoritas dan diplomasi. The Oath at Pusuk Buhit, Audience at the Republic of Batu, dan Return to the Mountain of Origin mengikuti perjalanan seorang raja yang berangkat untuk membuktikan apakah dunia di balik cakrawala merupakan bagian dari dunia yang sama dengan Banua Tonga.

R.E. Hartanto, The Admiral – Storm Off Hormuz (2026; engraving). Foto: via finestresullarte.info

R.E. Hartanto mengambil sudut pandang seorang laksamana melalui tema kekuatan laut dan navigasi. Tiga etsanya—Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472), Storm Off Hormuz, dan The Aging Admiral’s Face—menggambarkan keberangkatan armada, badai di Hormuz, hingga kepulangan sang laksamana setelah 14 tahun.

Syahrizal Pahlevi, The Navigator – Rewriting the Circle of the World (2026; engraving). Foto: via finestresullarte.info

Sementara itu, Syahrizal Pahlevi mengeksplorasi peta dan astronomi. Melalui Rewriting the Circle of the World, Library of Florence, dan The Inversion of the World Map, ia membayangkan kembali peta dunia dengan Danau Toba dan masyarakat Batak sebagai pusat, menggunakan perspektif pengetahuan astronomi dan navigasi yang berkembang pada masa itu.

Rusyan Yasin, The Naturalist – Encounters in the Alps (2026; engraving). Foto: via finestresullarte.info

Rusyan Yasin membawa perjalanan tersebut ke ranah flora dan fauna. Tiga karyanya, Camphor Specimens and Andalas Wood, Encounters in the Alps, dan Garden of Two Climates, menggambarkan seorang naturalis yang mendokumentasikan berbagai spesies selama perjalanan dan membawa pulang pengetahuan botani ke kepulauan.

Mariam Sofrina, The People – Port of Malacca (2026; engraving). Foto: via finestresullarte.info

Mariam Sofrina menyoroti perjumpaan manusia dan budaya melalui Port of Malacca, Winter Market in Venice, dan West Gorga. Karya-karya tersebut menggambarkan interaksi antara masyarakat dari latar berbeda, mulai dari percampuran bahasa dan aktivitas perdagangan di Malaka hingga pertemuan pelaut Batak dengan masyarakat Venesia.

Nurdian Ichsan, Artists and Craftsmen – The Hybrid Emblem of Harajaon (2026; engraving). Foto: via finestresullarte.info

Nurdian Ichsan kemudian mengangkat pertukaran teknologi dan simbol melalui Forging Iron at Lake Toba, Glass and Mechanical Clocks, dan The Hybrid Emblem of Harajaon. Ketiga karya ini membayangkan pertemuan pengetahuan dan keterampilan para perajin Batak dengan teknologi Eropa, yang kemudian melahirkan simbol-simbol baru.

Theresia Agustina Sitompul, The Intellectuals – Cathedral and The Echo of the Gondang (2026; engraving). Foto: via finestresullarte.info

Terakhir, Theresia Agustina Sitompul menghadirkan sisi spiritual perjalanan melalui Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang, dan Return to Silence. Karyanya menghubungkan ritual sebelum keberangkatan, pengalaman spiritual di Venesia, serta refleksi setelah perjalanan berakhir.

Selain karya yang merespons manuskrip tersebut, para perupa juga menghasilkan karya individual selama residensi di Venesia. Beberapa karya telah dirancang di Indonesia dengan mempertimbangkan ruang pamer di Scuola Internazionale di Grafica, lalu disempurnakan selama berada di kota tersebut.

Kehadiran Indonesia juga menjadi bagian dari penguatan diplomasi budaya. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa seni rupa Indonesia memiliki tradisi panjang yang berakar pada warisan nenek moyang. Ia merujuk pada temuan lukisan purba berusia sekitar 67.800 tahun di Indonesia, serta jejak tradisi seni rupa yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra.

Venice Biennale 2026 berlangsung dari 9 Mei hingga 22 November 2026. Selain pameran, Paviliun Indonesia turut menghadirkan buku seni rupa, buku tua, litografi, dan arsip visual sebagai referensi mengenai perkembangan seni rupa Indonesia. Kembalinya Paviliun Nasional setelah enam tahun tidak hanya menandai kehadiran Indonesia kembali di panggung seni rupa global, tetapi juga membuka kesempatan bagi para seniman untuk memperluas jejaring dan kolaborasi internasional.