Sơn Mài, Lukisan Pernis Vietnam yang Tampil di Venice Biennale 2026

Mengenal sơn mài sejarah, proses berbulan-bulan, hingga debut paviliun Vietnam di Venice Biennale 2026.

Mei 2026, Venesia. Di Ca’ Faccanon, sebuah istana Gotik abad ke-15, Vietnam untuk pertama kalinya membuka paviliun nasional di Venice Biennale 2026. Mediumnya nyaris sunyi: sơn mài, lukisan pernis (lacquer) Vietnam yang dibuat dari getah pohon, dilapis, dan dipoles dengan sabar.

Paviliun bertajuk Viet Nam: Art in the Global Flow itu dikurasi Đỗ Tường Linh dan menampilkan sepuluh seniman yang disatukan oleh satu bahan. Pameran berlangsung 9 Mei hingga 22 November 2026. Ia merespons tema Biennale tahun ini, In Minor Keys, yang menekankan kehalusan dan ekspresi yang lebih pelan, selaras dengan proses melapis dan menggosok pernis.

Dari Kuil dan Istana ke Seni Rupa Modern

Pernis bukan pendatang baru di Vietnam. Mai Home Decor menyebut masyarakat era Dong Son lebih dari 2.000 tahun lalu sudah mengolahnya untuk barang sehari-hari. Pada masa Dinasti Ly abad ke-11, pernis lazim menghiasi istana, balai desa, dan pagoda. Bonhams mencatat fungsinya di kuil, benda ritual, dan perlengkapan istana.

Perubahan besar terjadi pada 1930-an di École des Beaux-Arts de l’Indochine (EBAI), Hanoi. Di sanalah Nguyễn Gia Trí dan Nguyễn Khang, menurut Bonhams, mengangkat pernis dari kerajinan dekoratif menjadi seni rupa. Dari sini lukisan pernis Vietnam modern lahir.

Kurator National Gallery Singapore, Phoebe Scott, mencatat studio pernis EBAI dibuka pada 1927. Pengrajin Đinh Văn Thành dari desa pernis bekerja berdampingan dengan murid-murid sekolah itu. Kelahirannya diwarnai soal harga diri, karena pemisahan “seniman” Prancis dan “artisan” Vietnam menyiratkan hierarki nilai, dan sebagian perupa Vietnam melawannya.

Proses Sơn Mài: Seni yang Tak Bisa Diburu-buru

Getah pohon pernis dipanen dengan menyayat batang, dan mutunya dipengaruhi iklim, musim, serta usia pohon. Diaduk dengan dayung kayu, getah menjadi cokelat lembut bernama cánh gián, “sayap kecoak”. Bila bersentuhan dengan besi, ia berubah hitam pekat. Dulu warnanya terbatas pada cokelat bening, hitam, dan aneka merah, dan pigmen kimia kini memperluas paletnya.

Papan kayu dilapisi berkali-kali, dan tiap lapis hanya mengeras pada kelembapan tertentu. Di atasnya ditanam cangkang telur atau mutiara, lalu pernis berwarna dan serbuk logam mulia.

Tahap penentunya adalah amplas, yang memberi nama seni ini: sơn mài berarti pernis yang diamplas. Lapisan yang terkubur muncul kembali, dan menurut Scott hasilnya tak selalu bisa ditebak. Kilau khasnya lahir dari cahaya yang menembus lapisan bening sebelum menabrak dasar buram. Alix Aymé, pengajar Prancis di EBAI, menulis bahwa karya pernis lahir lapis demi lapis dan baru sempurna setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Bui Huu Hung: dari Kisah Istana ke Abstraksi

Soal ketidakpastian itu, Bui Huu Hung bicara paling lugas. Seniman kelahiran 1957 ini adalah salah satu peserta paviliun Vietnam. Bonhams mencatat ia mulai berkarya pernis pada usia 18 tahun di Hanoi. Kepada Joan Yip dari Bonhams, alumnus Hanoi University of Fine Arts (nama baru EBAI) ini membedakan bengkel tradisional yang mengejar kesempurnaan dan pengulangan dengan lukisan pernis. Yang kedua, katanya, menuntut penerimaan atas ketidakpastian, risiko, dan eksperimen.

Eksperimen itu ia jalani sendiri. Menurut Hung, pernis di atas kayu terbatas pada format kecil karena bahannya berat dan rapuh. Sejak 1978 ia mencoba berbagai kain. Banyak percobaan gagal, dan butuh bertahun-tahun untuk menemukan cara melapisi dasar yang stabil. Hasilnya tak terduga: anyaman kain ikut menjadi bagian komposisi ketika diamplas berulang kali.

Banyak kolektor mengenalnya lewat lukisan figuratif bertema dinasti, seperti Royal Lady in Blue. Figuratif, katanya, menghubungkannya dengan kisah masa lalu Vietnam, sedangkan abstraksi lahir dari daya tarik bahan itu sendiri. Ke Venesia ia membawa tiga karya abstrak, karena ingin dunia melihat pernis Vietnam sebagai medium yang hidup dan bisa berdialog dengan masa kini. Baginya, pernis bukan kerajinan nostalgia, dan generasi berikutnya akan membawanya jauh melampaui Vietnam.

Lukisan Lacquer Vietnam di Pasar Lelang

Pasar ikut bergerak. Menurut Bonhams, Horse Herders karya Nguyễn Khang (sekitar 1985) terjual HK$2.290.000 atau sekitar Rp5,2 miliar termasuk premi. Court Ladies karya Hung mencatat rekor lelang pribadinya di HK$384.000 atau setara dengan Rp879 juta. Lukisan layar Golden Sunset over Halong Bay karya Pham Hau terjual HK$9.732.500 atau setara dengan Rp1,6 miliar di Bonhams Hong Kong pada 2021, rekor dunia bagi sang seniman.

Di atas semua angka itu, satu hal tak berubah: menunggu getah mengering, menggosok pelan-pelan, dan menerima bahwa sebagian hasilnya ditentukan oleh bahan, bukan oleh senimannya. Judul wawancara Bonhams menyebut para pelakunya “golden hands”, tangan emas.

Foto-foto: Bui Huu Hung