
“Crucifixion” heels. Foto: Instagram/@reuben.jtams
Sebagai simbol religius, salib biasanya diletakkan di tempat yang membuat kita mendongak. Di gereja, salib menggantung di atas altar atau menjadi bagian dari arsitektur yang mengarahkan pandangan ke atas. Namun, desainer muda Reuben Tams justru meletakkannya di bawah—sebagai sepasang heels yang menopang langkah pemakainya.
Bukan semata-mata untuk membalik makna sebuah simbol religius, heels salib tersebut menjadi bagian dari cara Tams menerjemahkan ketertarikannya pada sejarah, arsitektur, dan kekristenan ke dalam fashion. Dalam koleksi kelulusannya di Central Saint Martins, Tams tidak hanya mengambil simbol-simbol religius sebagai ornamen, tetapi membongkar bahasa visual yang mengelilinginya—dari ukiran dan patung hingga ubin katedral, permukaan bangunan yang menua, serta detail interior yang menyimpan jejak masa lalu.
Ketertarikan tersebut semakin berkembang ketika Tams menghabiskan waktu di Paris. Selama berada di kota itu, ia banyak menjelajahi gereja dan pemakaman seorang diri, memperhatikan ornamen yang mungkin luput dari perhatian dalam kunjungan singkat. Ukiran yang rumit, patung dan wujud-wujud yang monumental, serta keindahan pemakaman Paris kemudian menjadi referensi berulang dalam proses risetnya. Dari sana, Tams membangun sebuah arsip visual berisi motif dan tekstur yang ia olah melalui gambar, kolase, hingga pengembangan tekstil.

Jaket kulit domba dengan pola ubin hasil cetak 3D yang kemudian di-emboss manual. Foto: Instagram/@reuben.jtams

Jaket kanvas dengan bordir dan cetak UV bermotif bunga. Foto: Instagram/@reuben.jtams

Motif bunga dari foto-foto Tams di Seville, Spanyol, dikerjakan melalui digital embroidery. Foto: Instagram/@reuben.jtams
Arsitektur kemudian tidak lagi berhenti sebagai inspirasi visual, tetapi diterjemahkan ke dalam konstruksi pakaian. Salah satu contohnya terlihat pada sebuah jaket berbahan kulit domba yang seluruh permukaannya di-emboss secara manual, dengan pola yang dibuat menyerupai ubin katedral. Pada bagian lain dari koleksinya, pola bunga yang terdiri dari 24 motif dikerjakan melalui proses digital embroidery, dengan setiap panel membutuhkan sekitar enam jam pengerjaan. Teknologi tersebut pun berdampingan dengan teknik yang lebih manual seperti lukisan tangan, jahitan tangan, embossing, felting, hingga pemanfaatan kembali material dari eksperimen yang gagal.

Headpiece cetak 3D, korset kanvas, celana calico, dan boots dengan sentuhan lukis tangan. Foto: Instagram/@reuben.jtams
Pendekatan ini membuat koleksi Tams terasa seperti pertemuan antara benda-benda di bangunan bersejarah dan teknologi masa kini. Headpiece dicetak secara 3D lalu dilukis dengan tangan; korset berbahan kanvas dijahit dan dilukis manual; sementara celana calico dan boots diproses kembali dengan teknik yang memberi keduanya permukaan yang lebih bertekstur. Dan bisa dikatakan bahwa Tams memang menjadikan tekstur sebagai salah satu bahasa utama koleksinya.

Look 4 yang terinspirasi dari arsitektur Baroque Seville. Foto: Instagram/@reuben.jtams
Referensinya pun tidak terbatas pada kota Paris. Dalam salah satu look, sebuah headpiece dan kalung religius antik dipadukan dengan blazer wol berkerah jatuh serta rok berbahan silk taffeta yang ditahan oleh bentuk tangan hasil cetak 3D. Look tersebut terinspirasi dari perjalanan Tams ke Seville, Spanyol, ketika ia menemukan daya tarik pada gagang pintu antik dan interior bergaya Baroque. Kecintaannya pada era Victoria pun turut mempengaruhi siluet dan potongan busana yang muncul sepanjang koleksi.
Di tangan Tams, sejarah bukan sesuatu yang sekadar disalin, melainkan diolah kembali. Ubin, ukiran, gagang pintu, patung, tekstur bangunan, hingga salib dipindahkan ke pakaian melalui teknologi 3D printing, digital embroidery, dan berbagai teknik pengerjaan kain lainnya. Lewat koleksinya juga, Tams memperlihatkan kembali detail-detail yang sering luput dari perhatian, serta membawa potongan sejarah keluar dari bangunan untuk dikenakan dan dilihat dari jarak yang lebih dekat.