Gema Polkadot Yayoi Kusama: Ketika Seni Terus Melahirkan Seni

Sebuah karya seni seringnya menginspirasi seni lainnya. Ia dapat berpindah medium, bahkan disiplin—muncul kembali sebagai musik, pertunjukan, busana, atau riasan wajah. Dalam prosesnya, gagasan dari karya seni tersebut bisa saja tetap utuh, atau malah jadi “pintu masuk” untuk penafsiran yang baru. Karya Yayoi Kusama adalah salah satunya, yang baik secara langsung maupun tidak, menginspirasi karya lainnya.

Pada 2018, James Bowie High School Outdoor Performing Ensemble (JBHSOPE) dari Austin, Texas, membawa polkadot Kusama ke lapangan pertunjukan melalui produksi marching band yang bertema Floridly Primordial. Direktur band Garth Gunderson kemudian menjelaskan bahwa produksi tersebut memang mengambil inspirasi dari Kusama, sementara World Guard mereka pada tahun yang sama, yang dinamai Untitled Work, juga merujuk pada karya seniman Jepang itu. Cat Cardenas, salah seorang anggota senior ensemble, bahkan menjelaskan bahwa tema pertunjukan mereka berangkat dari gagasan tentang alam semesta dan ketakterhinggaan—sebuah gagasan yang mereka kaitkan dengan karya-karya Kusama. Jejaknya hadir dalam kostum, marakas-marakas besar, kain bendera, juga papan-papan properti.

Foto: Facebook/@Elizabeth Cortez
Foto: via wgi.org

Apa yang sebelumnya dikenal melalui kanvas, patung, instalasi, dan ruang-ruang imersif, diterjemahkan menjadi bagian dari sebuah pertunjukan marching band: bergerak, bersuara, dimainkan, dan disaksikan di keramaian. Polkadot yang semula digambar Kusama untuk mengeksplorasi batas ruang dan kedalaman pikiran, ditransformasikan oleh JBHSOPE menjadi objek pertunjukan yang energik, tanpa menghilangkan makna yang melatarbelakangi. Transformasi ini membuktikan bahwa sebuah seni mampu memberi napas baru bagi bentuk seni lainnya.

Di lain sisi, tidak semua jejak Kusama datang sebagai inspirasi yang terang-terangan. Dalam praktik makeup artist asal Prancis, Héloïse Ravon, misalnya, totol-totol hitam muncul sebagai riasan wajah yang nyentrik. Dalam portofolionya, Ravon sering memoles wajahnya dengan pola titik-titik hitam berbagai ukuran, menyerupai motif polkadot khas Kusama.

Foto: via heloiseravon
Foto: via heloiseravon

Namun, belum ada pernyataan dari Ravon yang, sejauh ini, secara langsung menyebut Kusama sebagai sumber inspirasinya. Meski demikian, menarik untuk melihat bagaimana pola yang begitu lekat dengan Kusama kembali muncul di medium yang sama sekali berbeda: wajah manusia.

Di sinilah makna “seni menginspirasi seni” menjadi lebih menarik daripada sekadar persoalan siapa memengaruhi siapa. Hubungan antara keduanya bisa dibaca melalui konsep intertekstualitas—ketika sebuah karya membawa tema, isu, atau pola dari karya lain, lalu menghadirkannya kembali dalam konteks dan pemaknaan yang berbeda. Dalam pengertian ini, inspirasi tidak selalu hadir sebagai reproduksi yang disengaja. Ia dapat bekerja secara lebih subtil, melalui bentuk-bentuk yang sudah begitu melekat dalam ingatan visual, yang kemudian muncul kembali dalam karya lain dengan kemungkinan makna yang baru.

Pada riasan wajah Ravon, polkadot tersebut bisa saja dimaknai secara berbeda; atau bisa saja ia hadir sesederhana salah satu motif favoritnya, tanpa pemaknaan yang lebih jauh. Sebaliknya, pada JBHSOPE, jejak gagasan Kusama hadir secara lebih eksplisit. Makna polkadot sebagai representasi semesta dan ketakterhinggaan diadopsi seutuhnya karena memang berkaitan dengan tema yang mereka angkat, yang kemudian disuguhkan dalam medium lain: koreografi visual.

Barangkali memang begini cara seni bertahan. Bukan hanya melalui karya yang dibuat lalu memperoleh banyak apresiasi dan pengakuan, tetapi melalui karya-karya lain yang lahir setelahnya.