
Musim panas biasanya identik dengan linen, katun tipis, sandal, dan pakaian yang dibuat senyaman mungkin untuk menghadapi cuaca panas. Giacomo Pavia punya ide yang sedikit berbeda. Desainer yang bekerja di Gucci ini justru mengubah motif taplak meja khas rumah nenek Italia menjadi setelan latex yang menempel dari kepala hingga kaki. Motif bunga kecil, gingham, polkadot, dan hati yang biasanya ditemukan di meja makan kini hadir dalam material mengkilap yang jauh lebih berani. Hasilnya terasa lucu, sensual, sekaligus sengaja dibuat sedikit mengganggu. Pavia memperkenalkan penampilan ini melalui unggahan dari sebuah kawasan liburan di Italia pada musim panas 2026. Dalam sejumlah foto, ia tampil dengan tubuh yang tertutup penuh oleh latex bermotif bunga, bahkan wajahnya ikut tertutup. Alih-alih terlihat seperti pakaian liburan biasa, tampilannya lebih mirip karakter yang baru keluar dari dunia fashion yang absurd. Di antara payung pantai, laut, dan suasana liburan Italia, Pavia justru muncul seperti manekin tanpa wajah. Ide tersebut terdengar sederhana, tetapi justru terletak di sana daya tariknya. Pavia mengambil sesuatu yang sangat familiar, lalu mengubah konteksnya sampai terasa asing.
Giacomo Pavia merupakan fashion designer yang berbasis di Milan dan memiliki latar pendidikan di Accademia Costume & Moda. Setelah menjalani masa magang, ia kemudian bekerja sebagai junior designer di Gucci. Pavia juga pernah menjadi bagian dari program Milano Moda Graduate, tempat pendekatan desainnya mendapatkan perhatian karena kemampuannya mengolah material yang identik dengan kemewahan dengan cara yang lebih berani dan playful. Dalam karya awalnya, Pavia sudah menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang biasanya dianggap berlawanan. Material seperti bulu, misalnya, tidak ia perlakukan hanya sebagai simbol kemewahan. Ia menggabungkannya dengan referensi pakaian olahraga dan budaya populer untuk menciptakan tampilan yang terasa berlebihan, ironis, dan tidak terlalu serius. Pendekatan tersebut kemudian terasa kembali dalam eksperimen musim panasnya. Bedanya, kali ini Pavia tidak bermain dengan material ekslusif yang biasa ditemukan dalam koleksi fashion. Ia mengambil sesuatu yang justru sangat “melokal” yaitu taplak meja.
Motif yang digunakan Pavia berasal dari taplak meja vinyl yang biasa ditemukan di dapur rumah-rumah nenek Italia. Ada bunga-bunga kecil, kotak gingham, polkadot, hingga bentuk hati. Motif-motif tersebut memiliki kesan sederhana dan sangat rumahan. Bahkan bisa dibilang sedikit “jadul”. Namun Pavia kemudian memindahkannya ke material latex yang mengkilap dan membentuk tubuh secara ketat. Kontrasnya langsung terasa. Motif yang biasanya diasosiasikan dengan meja makan keluarga tiba-tiba menjadi pakaian yang sangat menonjolkan bentuk tubuh. Latex sendiri memiliki sejarah visual yang cukup dekat dengan fashion eksperimental dan pakaian fetish. Ketika material tersebut dipertemukan dengan motif bunga kecil yang polos, hasilnya justru menjadi humor. Bukan humor dalam bentuk kostum lucu, tetapi humor yang muncul karena dua hal yang biasanya tidak ditempatkan bersama tiba-tiba bertemu. Bayangkan taplak meja rumah nenek dipakai sebagai “second skin” untuk pergi berenang. Kurang lebih, itulah logika visual yang dimainkan Pavia.

Pavia menampilkan dirinya sebagai sosok tanpa wajah yang muncul dalam foto-foto liburan. Latex tersebut hidup di dalam gambar dan media sosial, bukan di rak toko atau lemari pakaian. Di satu sisi, ia terlihat seperti sedang memperkenalkan tren baru. Namun di sisi lain, outfit itu memang lebih dekat dengan sebuah pertunjukan visual daripada pakaian sehari-hari. Hal ini membuat proyek Pavia terasa cukup relevan dengan cara fashion dikonsumsi sekarang. Banyak tren tidak lagi dimulai dari peragaan busana atau toko, tetapi dari gambar yang beredar di internet. Sebuah tampilan bisa menjadi pembicaraan bahkan sebelum ada produk nyata yang bisa dibeli. Pavia tampaknya memainkan kondisi tersebut dengan sengaja. Ia menciptakan pakaian yang menarik perhatian justru karena sulit dibayangkan benar-benar dipakai oleh kebanyakan orang.
Yang membuat eksperimen ini terasa segar adalah keberanian Pavia untuk tidak terlalu serius terhadap fashion. Dalam industri yang sering membicarakan kemewahan, kesempurnaan, dan status, ia justru membawa benda yang sangat biasa ke tengah percakapan. Taplak meja bukan barang mewah. Motif bunga kecil juga bukan sesuatu yang baru. Tetapi ketika keduanya ditempelkan pada tubuh menggunakan latex, persepsi terhadap benda tersebut langsung berubah. Di sinilah pendekatan Pavia terasa “breaking through”. Ia tidak perlu menciptakan motif baru atau teknologi pakaian yang rumit untuk menghasilkan sesuatu yang terasa berbeda. Cukup mengubah material dan konteks. Menurut PAP Magazine, pertemuan antara kesan domestik yang sopan dengan material yang sensual memang menjadi bagian dari bahasa visual Gucci selama beberapa dekade. Pavia menerapkan formula tersebut ke dalam suasana liburan di Sisilia. Yang biasanya terlihat aman dibuat sedikit aneh. Yang biasanya polos dibuat sensual. Dan yang biasanya dianggap tidak fashionable justru menjadi pusat perhatian.
Dalam foto-foto Pavia, konteks lokasi juga punya peran penting. Ia tidak memakai latex bermotif bunga di studio dengan latar polos. Sebaliknya, ia muncul di tengah suasana liburan Italia—di antara payung pantai, laut, hingga prosesi keagamaan. Kontras tersebut membuat pakaian semakin terlihat tidak masuk akal, tetapi justru menarik untuk dilihat. Sosok yang tertutup latex dari kepala sampai kaki berjalan di tengah suasana yang sangat biasa. Pada titik ini, pakaian tersebut mulai berfungsi seperti bagian dari performance. Tubuh menjadi medium, lokasi menjadi panggung, dan kamera menjadi alat untuk menyebarkan karya. Pavia sendiri menjalankan dua identitas yang cukup berbeda. Pada hari kerja, ia merupakan bagian dari tim desain Gucci dan bekerja di balik layar. Ketika berlibur, ia muncul di media sosial sebagai figur tanpa wajah yang mengenakan pakaian hasil eksperimennya sendiri. Perbedaan ini membuat proyeknya terasa seperti eksperimen personal yang memang tidak harus mengikuti aturan koleksi fashion konvensional.

Eksperimen Giacomo Pavia mungkin tidak akan menjadi solusi baru untuk berpakaian saat musim panas—dan memang bukan itu tujuannya. Sulit membayangkan seseorang mengenakan setelan latex penuh saat berjalan santai di pantai. Justru ketidakpraktisan tersebut menjadi bagian dari daya tariknya. Pavia mengambil ide tentang summer outfit lalu membuang hampir semua ekspektasi tentang kenyamanan, fungsi, dan kesederhanaan. Sebagai gantinya, ia menawarkan humor dan visual yang mudah dikenali. Motif taplak meja yang biasanya hanya menemani makan siang keluarga kini muncul sebagai pakaian yang penuh percaya diri. Latex yang biasanya terasa serius dan sensual dibuat lebih ringan lewat bunga-bunga kecil dan polkadot. Hasil akhirnya adalah fashion yang tidak meminta kita untuk langsung menyukainya, tetapi cukup menarik untuk membuat kita berhenti melihat. Dan mungkin, untuk sebuah eksperimen fashion di era media sosial, itu sudah menjadi fungsi yang cukup penting, membuat sesuatu yang sangat familiar terlihat berbeda hanya dengan mengubah cara kita memakainya.
Foto-foto: Threads/@thefashionobserve