Berbagai referensi seni yang dituang menjadi mahakarya baru.
Berbagai referensi seni yang dituang menjadi mahakarya baru.

Ada momen ketika sebuah album pop berhenti menjadi sekadar kumpulan lagu patah hati dan mulai terasa seperti pameran seni yang sengaja disusun rapi. Itulah yang terjadi pada you seem pretty sad for a girl so in love, album ketiga Olivia Rodrigo yang dirilis pertengahan Juni ini lewat Geffen Records.
Di permukaan, album berisi 13 lagu ini menceritakan kisah cinta yang naik turun antara penyanyi berusia 23 tahun itu dengan aktor Louis Partridge. Namun bagi yang jeli mengamati video musik dan visual promosinya, ada lapisan lain yang jauh lebih menarik: referensi sejarah seni yang ditenun dengan rapi dari era Rococo Prancis hingga surealisme Meksiko.

Kejutan pertama datang dari sampul edisi vinil terbatas album ini. Rodrigo ternyata menggandeng pelukis Chloe Wise untuk membuat karya seni orisinal berjudul Carve Our Names (2026), lukisan cat minyak yang menampilkan Rodrigo mengenakan gaun babydoll merah muda sambil menggenggam pisau lipat dengan ekspresi yang nyaris mengancam. Kolaborasi ini bukan sekadar gimmick pemasaran, melainkan tanda bahwa dunia seni rupa benar-benar dilibatkan dalam pembentukan identitas visual album ini sejak awal.
Sementara itu, sampul standar album—hasil jepretan fotografer Ryan McGinley—justru memunculkan gema yang lebih halus namun sama kuatnya terhadap sejarah seni klasik. Foto itu menampilkan Rodrigo melambung tinggi di atas ayunan taman bermain, mengenakan gaun babydoll merah muda yang sama dengan sepatu platform Mary Jane hitam. Siapa pun yang mengenal lukisan The Swing (sekitar 1767–1768) karya Jean-Honoré Fragonard akan langsung menangkap kemiripannya.

Lukisan Rococo yang tersimpan di Wallace Collection, London itu menggambarkan seorang perempuan muda berbusana gaun ruffle merah muda yang didorong berayun oleh seorang pria, sementara kekasihnya bersembunyi di balik semak sambil mengintip ke bawah roknya. Di balik kesan riang dan polos, lukisan ini sebenarnya sarat muatan erotis dan intrik—sebuah ironi yang tampaknya sengaja dipinjam Rodrigo untuk menggambarkan romansa yang juga tak seindah kelihatannya.
Detail kecil pun ikut menambah lapisan cerita: Rodrigo mengaku kepada Jimmy Kimmel bahwa pemotretan sampul itu memakan waktu lebih dari dua jam, dan ia duduk di atas bantal kecil sepanjang sesi—persis seperti posisi perempuan dalam lukisan Fragonard yang juga digambarkan duduk di atas bantal kecil saat berayun. Yang membuat kisah ini semakin berlapis, para penggemar menyadari bahwa Louis Partridge, mantan kekasih Rodrigo, sempat mengunggah foto lukisan The Swing yang ia lihat langsung di Wallace Collection. Mengingat reputasi lukisan itu sebagai simbol godaan dan intrik asmara, unggahan tersebut sontak memicu spekulasi baru soal kandasnya hubungan mereka.
Nuansa Prancis abad ke-18 ini berlanjut ke video musik “drop dead”, single utama album yang dirilis pada 17 April. Video yang disutradarai Petra Collins ini direkam langsung di Istana Versailles—dan menjadi rekaman musik pertama yang diizinkan masuk ke kamar-kamar kerajaan di istana tersebut. Pihak Versailles menyebut izin ini diberikan untuk menginspirasi generasi muda agar melihat istana itu sebagai tempat keindahan dan cinta. Dalam video berdurasi sembilan jam syuting semalaman itu, Rodrigo tampil dengan headphone biru muda dan balutan busana Chloé berupa atasan babydoll biru, celana pendek krem, serta kaus kaki putih selutut—gambaran yang terasa seperti lukisan Rococo yang hidup.

Liriknya pun menegaskan kiasan ini: “You’re lookin’ like an angel on the walls of Versailles.” Saat menyanyikannya, Rodrigo difilmkan di Antichambre du Grand Couvert, ruang makan kerajaan yang menampilkan permadani megah Apollo and the Muses on Mount Parnassus karya Pierre Mignard, sementara latar lain mengambil Galeri Pertempuran Besar dan Kamar Ratu yang masih mempertahankan dekorasi era Marie Antoinette.
Salah satu adegan paling mencolok—saat Rodrigo berlari dan menari menyusuri lorong istana—mengingatkan pada film Bande à part (1964) karya Jean-Luc Godard, ketika tiga tokoh utamanya berlarian penuh suka cita di Museum Louvre, sebuah momen yang juga pernah didaur ulang dalam film The Dreamers (2003) karya Bernardo Bertolucci. Rodrigo sendiri menyamakan pengalaman syutingnya dengan film Night at the Museum (2006), sementara sentuhan estetik keseluruhan video ini jelas berakar pada Marie Antoinette (2006) garapan Sofia Coppola, yang juga difilmkan di lorong-lorong Versailles dan membungkus kemewahan istana dalam musik kontemporer.

Tidak semua referensi seni dalam album ini terkunci di abad ke-18. Dalam video musik “the cure”, Rodrigo berperan sebagai perawat yang berusaha menyembuhkan hati yang terluka, namun perlahan dirinya sendiri mulai terurai—benang merah keluar dari ujung jarinya. Harper’s Bazaar mencatat kemiripan visual ini dengan lukisan Henry Ford Hospital (1932) karya Frida Kahlo, potret diri yang menggambarkan sang pelukis terbaring di ranjang rumah sakit dengan urat merah yang menjulur dari tubuhnya ke berbagai objek di sekelilingnya.
Citra serupa juga muncul dalam The Two Fridas (1939), lukisan yang dibuat Kahlo pasca perceraiannya dari muralis Diego Rivera, dan kemudian menjadi simbol identitas yang terpecah—tema yang juga bergulat dalam keseluruhan narasi album Rodrigo.
Sumber foto: Instagram Olivia Rodrigo dan Wallace Collection, London

