
MONA Hobart membuka Phrontisterion, perpustakaan bawah tanah David Walsh senilai Rp1,2 triliun.
Di dunia museum, ada satu nama yang selalu berhasil membuat orang bertanya-tanya apa lagi yang akan dilakukannya: David Walsh, pendiri Museum of Old and New Art (MONA) di Hobart, Tasmania. Setelah lebih dari satu dekade “berfantasi”, akhir Juni 2026 Walsh resmi membuka Phrontisterion, perpustakaan bawah tanah senilai lebih dari AUD 100 juta atau Rp 1,2 triliun yang menyimpan puluhan ribu koleksi buku, manuskrip, dan peta pribadinya. Bagi pencinta seni dan budaya yang berencana ke Tasmania, Phrontisterion kini jadi alasan baru untuk mampir ke MONA.
Angka itu bukan kesalahan ketik. Proyek perpustakaan MONA ini bahkan menelan biaya lebih besar dibanding pembangunan gedung utama museum saat pertama kali dibuka pada 2011. CEO MONA, Philippa Holmes, menyebut proses penggalian sayap baru ini memindahkan sekitar 20 ribu meter kubik tanah dan batu.
Asal-Usul Nama Phrontisterion
Nama Phrontisterion diambil dari bahasa Yunani kuno yang berarti “tempat berpikir”, merujuk pada naskah komedi Aristophanes, The Clouds. Dalam lakon itu, Aristophanes menyindir kesombongan kaum terpelajar lewat sosok karikatur Socrates yang mengajarkan cara berkelit dari utang lewat kepandaian berargumen. Pilihan nama ini terasa sangat MONA: institusi yang sebagian besar pendanaannya masih bergantung pada bisnis judi Walsh, justru menamai perpustakaannya dengan sindiran terhadap intelektualisme itu sendiri.

Di dalam Phrontisterion, pengunjung bisa menemukan First Folio karya William Shakespeare tahun 1623, edisi pertama Lolita karya Vladimir Nabokov, Opticks karya Isaac Newton, hingga Origin of Species Charles Darwin. Ada pula manuskrip tulisan tangan David Bowie, Albert Einstein, dan Walt Whitman, serta koleksi tanda tangan Elvis Presley dan The Beatles. Total sekitar 30 ribu buku dipamerkan dari koleksi pribadi Walsh yang konon mencapai 50 ribu judul dan semuanya hanya bisa dibaca di tempat, tidak untuk dipinjam.
Perpustakaan Tanpa Sistem Dewey Decimal
Yang membuat perpustakaan MONA ini berbeda dari perpustakaan pada umumnya adalah caranya menata buku. Pustakawan MONA, Mary Lijnzaad, mengatakan arahan dari Walsh sederhana: tanpa sistem klasifikasi Dewey Decimal yang selama ini jadi standar perpustakaan dunia. Bersama studio teknologi Art Processors — tim yang sebelumnya mengembangkan aplikasi panduan museum “The O” — MONA membangun sistem katalog berbasis foto yang memungkinkan buku diletakkan di mana saja sesuka kurator, namun tetap bisa dilacak keberadaannya secara digital.

Prinsipal Art Processors, Nic Whyte, menjelaskan bahwa sistem lama itu dianggap terlalu terikat pada cara pandang abad ke-19. Sebagai gantinya, rak-rak buku di area Live bays disorot lampu neon yang bergerak untuk menunjukkan keterkaitan antarjudul, menciptakan pengalaman menjelajah buku yang lebih mengalir ketimbang sekadar mencari nomor rak.
Arsitektur di Bawah Amfiteater Raksasa
Secara fisik, Phrontisterion dirancang oleh arsitek Nonda Katsalidis bersama direktur desain MONA, Adrian Spinks, terletak persis di bawah Elektra — amfiteater beton raksasa berbentuk ziggurat terbalik karya seniman Jerman Anselm Kiefer — dan terhubung ke bangunan museum lain lewat terowongan batu pasir sepanjang puluhan meter. Di dalamnya ada ruang peta, ruang belajar tersembunyi, ruang bawah tanah untuk koleksi khusus, lounge, hingga perpustakaan anak berbentuk gua yang dihiasi ilusi optik ala Ames room. Karya seni turut menghiasi ruang ini, termasuk instalasi perunggu Rouge Battery karya Matthew Barney yang dipertahankan di tempat sepanjang proses konstruksi.
Lebih dari Sekadar Rak Buku
Bagi Walsh, proyek Phrontisterion bukan sekadar gimmick museum. Dalam tulisannya di blog MONA, ia bercerita masa kecilnya dihabiskan di perpustakaan kecil Glenorchy, dan penemuannya atas buku Theory of Gambling and Statistical Logic di sanalah yang kelak membentuk cara berpikirnya soal risiko — fondasi dari kekayaan judi yang mendanai MONA hingga hari ini.

Tentu, tak semua orang sepakat perpustakaan ini “berfungsi” sebagaimana perpustakaan seharusnya. Sejumlah pengamat menilai koleksinya tetap mencerminkan selera personal seorang kolektor pria kulit putih paruh baya, sehingga nuansanya bisa terasa konvensional dibanding ruang baca kontemporer lain.
Phrontisterion pada akhirnya adalah cermin lain dari MONA: ambisius, sedikit nyeleneh, dan tidak pernah benar-benar berusaha jadi “normal”. Tiket masuk Phrontisterion sudah termasuk dalam tiket museum — cukup alasan untuk menjadikannya destinasi wajib berikutnya bagi pencinta seni yang berkunjung ke Tasmania.
Foto-foto: Mona Phrontisterion