Debut Pameran Hiroshi Sugimoto di Asia Tenggara

Ketika Fotografi Bertanya tentang Kenyataan

Ada yang berbeda begitu pintu galeri di Singapore Art Museum (SAM) menutup di belakang pengunjung. Tidak ada keramaian, tidak ada gangguan — hanya dinding monokromatik, cahaya yang terukur, dan keheningan yang turun hampir seketika. Itulah kesan pertama Hiroshi Sugimoto: Form Is Emptiness, pameran besar pertama seniman Jepang Hiroshi Sugimoto di Asia Tenggara, yang berlangsung dari 29 Mei hingga 4 Oktober 2026 di SAM, Tanjong Pagar Distripark, Singapura.

Pameran ini bukan sekadar retrospektif biasa. Dengan 63 karya yang dipilih dari 11 seri berbeda — mencakup fotografi, patung, instalasi, dan arsitektur — ditambah 14 fosil kuno dari koleksi pribadi sang seniman, Form Is Emptiness merentangkan lebih dari lima dekade perjalanan artistik Sugimoto. Sebuah karier yang dibangun di atas satu pertanyaan yang tampaknya sederhana namun tak kunjung habis: apa sebenarnya yang kita lihat ketika kita melihat sesuatu?

Seniman yang Tidak Bisa Dikurung dalam Satu Medium

Hiroshi Sugimoto lahir di Tokyo pada 1948. Ia menempuh pendidikan politik dan sosiologi di Universitas Rikkyo sebelum pindah ke Amerika Serikat pada 1970-an untuk belajar di ArtCenter College of Design. Kini ia membagi waktu antara Tokyo dan New York — dan praktik artistiknya pun menolak batas: fotografi, arsitektur, kaligrafi, desain taman, seni kuliner, hingga seni pertunjukan. Semua disiplin ini terhubung oleh satu kegelisahan yang sama, yaitu bagaimana manusia menafsirkan realitas.

Namun jika ada satu hal yang membuatnya paling dikenal, itu adalah dua seri fotografinya yang ikonik. Seascapes — foto-foto cakrawala laut yang direduksi hingga menjadi bidang datar, hampir abstrak, di mana langit dan samudra melebur menjadi satu warna abu-abu yang sama — dan Theatres, di mana keseluruhan durasi sebuah film direkam dalam satu eksposur panjang, menghasilkan layar bioskop yang bercahaya putih seperti portal ke dimensi lain. Keduanya hadir di pameran ini, dan keduanya masih memiliki daya pukul yang tak berkurang.

Ruang yang Dirancang untuk Menyesatkan (dengan Tujuan)

Hal yang membuat Form Is Emptiness berbeda dari pameran pada umumnya bukan hanya isinya, melainkan cara ia ditata. Sugimoto merancang sendiri tata letak ruang pameran ini dalam bentuk mandala — diagram kosmologis berbentuk lingkaran yang digunakan dalam tradisi Hindu dan Buddha. Alih-alih jalur linear yang kaku, pengunjung diundang untuk mengembara, memutar balik, dan menemukan kembali karya yang sama dari sudut yang berbeda.

Struktur mandala ini juga mencerminkan konsep Buddha tentang Lima Elemen — Bumi, Air, Api, Angin, dan Kekosongan — yang mengalir sebagai tulang punggung kuratorial pameran. Bagi pengunjung yang biasa “menyelesaikan” pameran dengan cepat, ruang ini secara halus memaksa mereka untuk melambat.

Tiga Karya yang Paling Layak Diperhatikan

Dioramas (1975–2025) adalah jebakan yang sempurna. Pada pandangan pertama, foto-foto ini tampak seperti dokumentasi satwa liar yang spektakuler. Namun yang difoto Sugimoto sesungguhnya adalah diorama — pajangan binatang awetan dan latar lukisan di American Museum of Natural History, New York. Ia menyadari bahwa menutup satu mata membuat perspektif runtuh, mendekati cara kerja lensa kamera yang hanya memiliki satu titik pandang. Dengan memanipulasi pencahayaan dan framing, Sugimoto menghasilkan gambar yang terasa begitu nyata hingga mempertanyakan kepercayaan kita pada apa yang kita lihat — dan apa yang disebut fotografi sebagai “bukti.”

Five Elements (2011–2012) muncul di tengah pameran sebagai serangkaian pagoda kecil berkilap yang terbuat dari kaca optik — material yang biasa digunakan dalam lensa teleskop dan prisma. Setiap pagoda tersusun dari lima elemen geometris yang merepresentasikan tanah, air, api, angin, dan kekosongan. Di dalam bola kaca yang melambangkan air, seri Seascape tertanam — seolah laut itu sendiri sedang disimpan dalam sebuah jimat. Triknya: berdiri sejajar dengan dinding, berhadapan langsung, agar gambar di dalam terungkap dengan paling jelas.

Spacescape (2024) adalah karya yang untuk pertama kalinya ditampilkan di pameran ini — dan mungkin yang paling mengubah cara pandang. Jika Seascape lahir dari Sugimoto yang menatap laut dalam waktu lama, Spacescape lahir justru tanpa Sugimoto melihat sama sekali. Ia bekerja sama dengan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Universitas Tokyo, dan Sony untuk meluncurkan satelit ultra-kompak bernama Eye ke orbit pada 2023, dengan kamera Sony yang mengabadikan gambar bumi dan bulan berdasarkan koordinat yang telah ditentukan. Hasilnya direpresentasikan sebagai sebuah layar lipat (folding screen) — bumi dan bulan dalam orbit, dipandang dari titik yang hampir omnisien di luar angkasa. Di sini, Sugimoto menyerahkan matanya sepenuhnya, dan pertanyaannya tentang persepsi mencapai skala yang paling kosmik.

Form Is Emptiness adalah pameran yang tidak ingin diselesaikan dalam terburu-buru. Ia dirancang untuk diresapi — dan bagi siapa pun yang tertarik pada pertanyaan tentang waktu, memori, kenyataan, dan keterbatasan indera manusia, pameran ini menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Hiroshi Sugimoto: Form Is Emptiness berlangsung hingga 4 Oktober 2026 di SAM, Tanjong Pagar Distripark, Singapura.

Sumber foto: Singapore Art Museum (SAM)