Printing the Unprinted: Kembalinya Indonesia di Venice Biennale 2026

Printing the Unprinted: Kembalinya Indonesia di Venice Biennale 2026

Saat Tujuh Seniman Indonesia Bicara di Panggung Seni Paling Bergengsi di Dunia

Ada yang berbeda dari kanal-kanal kota Venesia musim semi ini. Di antara para turis yang hilir-mudik dengan gondola dan wisatawan yang memadati jembatan-jembatan tua, tersembul sebuah pemandangan tak biasa: seorang seniman Indonesia berjalan menyusuri gang-gang sempit kota itu sambil menenteng papan kayu, mengajak orang-orang yang ia temui untuk berhenti sejenak — dan menjadi modelnya.

Itulah Syahrizal Pahlevi, salah satu dari tujuh perupa Indonesia yang hadir di Venice Biennale 2026. Wajah-wajah yang ia cukilkan ke atas papan kayu itu kemudian ditorehkan ke kain dengan tinta biru — sebuah gestur yang sekaligus menjadi pernyataan artistik tentang siapa yang berhak dicatat dan dikenang oleh sejarah.

Paviliun Indonesia tampil dengan tema “Printing the Unprinted” di Scuola Internazionale di Grafica Venezia, Italia. Namun jika dilihat lebih dalam, tema ini bukan sekadar soal teknik cetak-mencetak. Kurator pameran Aminudin TH Siregar, yang akrab disapa Ucok, menjelaskan bahwa pameran ini berangkat dari manuskrip rekaan berjudul “Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng” sebagai titik tolak narasi seluruh karya.

Fiksi itu, kata Ucok, sengaja dihadirkan sebagai serangkaian pertanyaan: bagaimana sejarah mengkonstruksikan dirinya sendiri? Siapa yang punya kuasa untuk menarasikan dunia? Dan siapa-siapa yang pengalamannya selama ini terkubur tanpa catatan? Paviliun Indonesia tidak hadir untuk sekadar memamerkan estetika — ia datang untuk mempertanyakan arsip, ingatan, dan siapa yang selama ini dianggap layak diingat.

Judul lengkap temanya pun berbunyi “Printing the Unprinted: The Reversal of World Discovery” — sebuah provokasi intelektual yang mengajak pengunjung untuk membalik perspektif tentang sejarah peradaban.

Tujuh Seniman, Satu Suara

Paviliun ini menampilkan karya dari Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agusyina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Mereka adalah seniman lintas generasi dengan latar belakang dan pendekatan artistik yang beragam — tapi dalam waktu empat pekan, mereka harus bicara dengan satu bahasa yang mungkin belum sepenuhnya akrab bagi sebagian dari mereka: seni cetak grafis.

Selama empat pekan residensi di Scuola Internazionale di Grafica Venezia, ketujuh perupa mengikuti lokakarya seni cetak bersama para pengajar sekolah grafis ternama itu. Mereka tidak bekerja di atas kanvas atau media yang biasa mereka gunakan, melainkan pada pelat tembaga yang kemudian dipulas dengan cat berbasis air yang ramah lingkungan.

Prosesnya tidak mudah. R.E. Hartanto mengaku harus berkali-kali mencoba hingga menemukan bentuk dan komposisi warna yang tepat untuk gambar-gambar potret yang ia buat. Sementara Theresia Agusyina Sitompul, yang paling akrab dengan teknik cetak di antara mereka semua, kerap menjadi tempat bertanya rekan-rekannya yang baru pertama kali bergelut dengan medium ini.

Seniman yang paling menarik mungkin adalah Syahrizal Pahlevi, seniman yang hampir selalu berkarya dengan teknik cukil kayu. Ia seperti menemukan taman bermain yang menyenangkan, berkeliling ke lorong-lorong kota Venesia dan mengajak pejalan kaki menjadi model untuk ia terapkan wajahnya ke atas papan kayu, lalu dicetakkan ke kain dengan tinta biru — warna yang kemudian ia terapkan pada seluruh karya cukil wajahnya selama masa residensi

Lahir Langsung di Venesia

Salah satu hal yang membedakan Paviliun Indonesia tahun ini dari pameran-pameran pada umumnya adalah bahwa seluruh karya tidak dibawa dari Indonesia — melainkan diciptakan langsung di Venesia. Berbeda dari proses pameran biasanya, para seniman menyiapkan karya secara langsung di Venesia setelah menjalani residensi empat pekan di Scuola Internazionale di Grafica Venezia. Artinya, kota itu sendiri — udara lembabnya, ganggang-ganggang sempit, cahaya sore di atas laguna — turut meresap ke dalam karya.

Ada pula dimensi kolaborasi antargenerasi yang terasa hangat. Tujuh seniman senior tersebut dipasangkan dengan tujuh talenta muda Indonesia yang baru saja usai menjalani program residensi seni untuk penyembuhan (art healing) di Florence, Italia, yang difasilitasi oleh Komunitas Kreatif Negeri Elok. Hasil kolaborasi mereka pun ikut dipamerkan di salah satu ruang Scuola.

Kehadiran Negara dan Makna Diplomatik

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan langsung Paviliun Indonesia, menyatakan bahwa partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale merupakan komitmen negara untuk menempatkan budaya sebagai bagian penting dari pembangunan, diplomasi, ekonomi, dan kontribusi bagi peradaban dunia.

Dalam sambutannya, ia juga menyinggung identitas Indonesia sebagai negara maritim dengan lebih dari 17 ribu pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah — kedalaman yang, menurutnya, memberi tanggung jawab sekaligus inspirasi untuk terus menyuarakan narasi peradaban ke dunia.

Tentang Venice Biennale

Venice Biennale Arte adalah salah satu perhelatan seni rupa paling bergengsi dan tertua di dunia, pertama kali diselenggarakan pada 1895 di Italia. Event ini diadakan setiap dua tahun sekali dan menjadi semacam “olimpiade seni” bagi negara-negara di seluruh dunia, di mana masing-masing negara menampilkan karyanya melalui paviliun nasional masing-masing. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-61, dan Paviliun Indonesia yang telah resmi dibuka sejak 7 Mei 2026 akan berlangsung hingga 22 November 2026.

Bagi siapa pun yang melewati Scuola Internazionale di Grafica Venezia musim panas ini, berhentilah sejenak. Di dalam sana, tujuh seniman Indonesia sedang mengajak dunia untuk mencetak ulang sejarah — atau lebih tepatnya, mencetak apa yang selama ini tidak pernah dicetak.

Foto-foto: Instagram/@indonesiapavilionvb2026