
Dari Pentol hingga Nasi Kuning, Membaca Wajah Tanah Borneo Lewat Seni
Seorang pengunjung berhenti di depan lembaran kain besar yang tergantung di tengah ruang pamer Gedung Wargasari, Taman Budaya Kalimantan Selatan. Di kain itu tergambar empat orang mengelilingi seporsi pentol — jajanan yang biasa dijajakan dari gerobak pinggir jalan, kini menjadi pusat perhatian sebuah pameran seni rupa. Dari titik itulah pengunjung mulai menyusuri puluhan karya lain yang memenuhi dinding dan lantai ruang pamer, sebagian berupa lukisan, sebagian lagi instalasi.
Itulah suasana pembukaan Pra-Biennale Kalimantan 2026, yang digelar di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, pada 10–24 Agustus 2026. Pameran ini berhasil menjaring 37 perupa dari empat provinsi di Pulau Kalimantan dalam waktu persiapan yang relatif singkat, mengisi dua lokasi sekaligus: Gedung Wargasari dan Bengkel SR Sholihin. Menurut salah satu kurator, Dita Ayu menceritakan bahwa, para seniman yang tampil terdiri atas lima seniman undangan dan 32 seniman lain yang lolos lewat mekanisme open call yang dijaring dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Tema besar yang diusung adalah Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama. Tema tersebut berangkat dari gagasan yang menempatkan makanan bukan sekadar objek konsumsi, melainkan jejak panjang dari tanah, dapur, hingga meja makan. Bagi kurator Zamrud Setya Negara, makanan menjadi cermin siapa yang diberi makan, siapa yang menimbun, dan siapa yang harus menanggung akibat dari ketimpangan pangan. Sementara Dita Ayu menjelaskan, konsep sajian dalam pameran ini tidak dibatasi pada urusan menanam, mengolah, dan memasak semata, tapi juga dimaknai sebagai representasi hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan makhluk lain yang hidup berdampingan dengannya.
Tujuh belas dari 37 perupa memilih mengeksplorasi dunia kuliner secara langsung, mulai dari nasi kuning, wadai Banjar, mandai pedas, pentol, hingga bakpia dan mi instan. Robert Nasrullah, misalnya, menghadirkan citraan ikan dan bungkus daun pisang dalam lukisan Nasi Kuning (2026), yang baginya merepresentasikan simbol kesederhanaan sekaligus kerinduan kampung halaman bagi masyarakat Banjar. Nabila Antuku mengangkat mandai — hasil fermentasi kulit cempedak khas Banjar — lewat karya Mandai Pedas Manis, sementara Daniel Lie menggambarkan wadai dan ikan asin dalam temaram cahaya lilin pada Wadai dan Iwak. Muhammad Abby Yannur merekam momen memasak bubur hintalu karuang, bubur tradisional Banjar, dalam karya Mangawah Bubur Hintalu Karuang.

Tidak semua karya berbicara lewat kehangatan dapur. Diah Yulianti, perupa kelahiran Rantau yang kini menetap di Yogyakarta, menghadirkan dua lukisan — Transformasi Lapisan Purba dan Spiritualitas Agraris — yang disandingkan dengan instalasi tiga gerobak sorong berisi bongkahan batu, arang, dan gabah padi. Bagi Diah, karya ini adalah kritik atas eksploitasi sumber daya alam Kalimantan yang menggerus lahan pangan masyarakat adat, ketika hutan dibabat dan gunung digali hingga tak tersisa lahan untuk berhuma. Sementara itu, Salamin memakai alegori seekor babi yang menimbun makanan untuk dirinya sendiri, membongkar bagaimana kerakusan dan penyalahgunaan kekuasaan dapat mengubah pangan menjadi instrumen ketimpangan sosial.
Di luar deretan karya, Pra-Biennale ini mengemban misi yang lebih besar. Zamrud menyebutnya sebagai pemantik untuk menyatukan visi para perupa se-Kalimantan, sekaligus fase penting menuju Biennale Kalimantan yang direncanakan berlangsung pada 2027. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kalsel, Eddy Suwarto, memastikan agenda dua tahunan itu akan difasilitasi oleh Taman Budaya pada tahun mendatang. Hal tersebut menjadikan Pra-Biennale 2026 sebagai uji coba jejaring kuratorial dan format penjaringan karya lintas provinsi. Momen ini sebelum Kalimantan Selatan didapuk menjadi simpul penyelenggara bagi seluruh Pulau Kalimantan, mulai dari Kalbar, Kalteng, Kaltim, hingga Kaltara.

Selama ini, peta seni rupa kontemporer Indonesia lebih akrab merujuk pada Yogyakarta, Bandung, atau Jakarta sebagai pusatnya. Meskipun nama pelukis asal Kalimantan seperti Misbach Tamrin dari Sanggar Bumi Tarung pernah mengisi babak penting sejarah seni rupa nasional. Selama puluhan tahun tak dimiliki Kalimantan bukanlah karya atau perupa, melainkan panggung berskala besar yang mampu mempertemukan seluruh kerja itu dalam satu peristiwa bersama. Lewat Pra-Biennale Kalimantan 2026, panggung itu mulai dibangun mulai dari sepiring pentol, semangkuk bubur hintalu karuang, dan sebungkus nasi kuning yang ternyata menyimpan cerita jauh lebih besar dari sekadar rasa.
Foto-foto: Diskominfo Kalimantan Selatan