
Ketika para kolektor mulai jenuh dengan karya berbasis digital
Musim panas ini, di balik pintu pusat konvensi Basel yang dijaga ketat, ratusan tamu VIP berbusana formal — gaun, setelan jas, blazer — mengantre melewati detektor logam untuk memasuki sesi pratinjau Art Basel Switzerland. Bukan sekadar seremoni. Merekalah yang pertama kali berhak menawar karya-karya buruan, sebelum pameran dibuka untuk publik keesokan harinya. Dan di balik antrean yang tertib itu, ada satu pertanyaan yang menghantui industri seni dunia sepanjang tahun ini: apakah pasar seni global benar-benar sedang pulih, atau baru sekadar menahan napas?
Data yang dihimpun sejumlah lembaga riset dan media ekonomi internasional cenderung menjawab dengan optimisme yang hati-hati. Laporan Art Basel & UBS Global Art Market Report 2026 mencatat total penjualan seni dunia menembus US$ 59,6 miliar atau sekitar Rp 935,7 triliun sepanjang 2025, naik 4% dari tahun sebelumnya. Angka ini terasa berarti karena datang setelah pasar terkontraksi dua tahun berturut-turut, meski masih jauh di bawah puncak US$ 67,8 miliar yang pernah dicapai pada 2022.
Yang bikin menarik, pemulihan ini tidak merata. Transaksi fisik di rumah lelang dan galeri jadi motor utamanya, melonjak 9% menjadi US$ 20,7 miliar, ditarik oleh perburuan karya-karya di atas US$ 10 juta yang naik hingga 30%. Penjualan daring justru anjlok 11%, titik terendah sejak 2019. Pendiri Arts Economics, Clare McAndrew, membacanya sebagai tanda bahwa kolektor kelas atas kembali membutuhkan kehadiran fisik untuk memastikan tekstur, skala, dan keintiman sebuah karya. Hal tersebut yang susah ditangkap lewat layar gawai, sebagus apapun resolusinya.

Galeri privat dan dealer independen tetap jadi tulang punggung distribusi, menyumbang US$ 34,8 miliar, dengan sepertiga lebih omzetnya datang dari partisipasi di pameran internasional seperti Art Basel. CEO Art Basel, Noah Horowitz, menyebut periode ini sebagai momen ketika dealer kembali memperkuat hubungan langsung dengan kolektor utama mereka. Tapi tidak semua pihak seberuntung itu — dua galeri terpandang, Aire de Paris dan Dépendence di Brussel, justru tutup musim semi ini. Pemulihan, rupanya, belum menjangkau lapisan menengah industri secara merata.
Secara geografis, peta kekuatan lama masih bertahan. Amerika Serikat menguasai 44% pasar global senilai US$ 26 miliar, disusul Inggris dan Prancis. Bersama China, tiga negara ini menguasai 76% transaksi dunia. Tapi ada sinyal pergeseran kecil dari Asia Pasifik. Di tengah tekanan sektor properti domestiknya sendiri, pasar seni China tetap bertahan di angka US$ 8,5 miliar. Singapura, sementara itu, makin mencuat sebagai magnet baru kawasan. Hal tersebut terlihat jelas dari ART SG 2026 yang digelar akhir Januari lalu di Marina Bay Sands, mempertemukan 106 galeri dari 30 negara dan untuk pertama kalinya terintegrasi dengan S.E.A. Focus dalam satu tiket.

Gairah serupa terasa di Indonesia. Saat membuka ArtMoments Jakarta 2026 awal Juni lalu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini bukan cuma soal transaksi, melainkan soal bagaimana kreativitas menjadi soft power sebuah bangsa. Pameran bertema “Intimacy of Offerings: Matter, Memory, and Connection” itu menargetkan 25 ribu pengunjung, menggandeng sekitar 75 eksibitor dari 12 negara, dan yang tak kalah menarik — turut memamerkan karya para maestro seperti S. Sudjojono, Affandi, hingga Mochtar Apin berdampingan dengan karya kontemporer.
Fair Director ArtMoments, Sendy Widjaja, menyebut pameran ini sebagai ruang untuk merawat warisan sekaligus membangun identitas budaya masa depan. Di ranah lelang domestik, beberapa penyelenggara turut melaporkan bertambahnya peserta baru, meski nilai transaksi masih terpolarisasi antara karya terjangkau dan karya maestro bernilai investasi tinggi.

Optimisme ini tetap berjalan bersama kewaspadaan. Survei Art Basel & UBS menunjukkan cuma 43% dealer yakin penjualan akan naik tahun depan. Sisanya lebih memilih bersikap realistis di tengah fragmentasi perdagangan dan ketidakpastian geopolitik. Spesialis penasihat seni UBS, Matthew Newton, mengingatkan bahwa kolektor besar hari ini adalah orang-orang yang sangat paham seluk-beluk keuangan. Mereka tidak akan asal mengejar euforia yang belum tentu bertahan.
Pasar seni dunia mungkin memang belum sepenuhnya pulih. Tapi dari lorong VIP Basel sampai paviliun terbuka Marina Bay Sands, dari Jakarta sampai rumah-rumah lelang lokal, ada satu hal yang cukup jelas terlihat: orang-orang mulai percaya lagi pada nilai karya seni — sebagai keindahan sekaligus instrumen ekonomi. Cuma langkahnya kini jauh lebih hati-hati dibanding sebelum badai kontraksi datang.
Foto-foto: Unsplash