
Pelukis asal Berlin, Jerman, Christopher Lehmpfuhl, membawa cara pandang yang khas ketika berhadapan dengan lanskap Indonesia. Dalam kunjungannya ke Indonesia, ia melukis Monumen Nasional (Monas), Candi Borobudur, kawasan Cisarua, hingga pesisir Pacitan secara langsung di lokasi. Bukan dengan kuas, Lehmpfuhl menggunakan jari tangannya untuk mengolah cat dan membangun permukaan lukisan yang tebal. Karya-karya tersebut kemudian menjadi bagian dari pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration yang digelar SBY Art Community di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 18–30 Agustus 2026. Kedatangan Lehmpfuhl ke Indonesia bukan hanya perjalanan untuk mencari objek lukisan. Ia datang setelah mendapat undangan dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang sebelumnya mengenal dan pernah belajar melukis bersama sang seniman di Berlin. Hubungan Christopher Lehmpfuhl dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bermula dari ketertarikan SBY terhadap karya sang pelukis ketika berada di Berlin. Pada Juli 2024, SBY mengunjungi studio Lehmpfuhl dan melihat langsung proses kerja sang seniman.
Dalam pertemuan tersebut, Lehmpfuhl juga memperkenalkan teknik melukis menggunakan jari yang menjadi ciri khasnya. SBY kemudian mencoba belajar langsung dari teknik tersebut, termasuk bagaimana melukis lanskap dengan tangan dan merespons objek yang ada di hadapan secara langsung. SBY sendiri menyebut bahwa ia datang kepada Lehmpfuhl sebagai seorang murid. Pengalaman tersebut kemudian memberi warna baru pada praktik melukis SBY, terutama dalam keberaniannya mengeksplorasi teknik finger painting. Setahun setelah pertemuan mereka di Berlin, SBY mengundang Lehmpfuhl datang ke Indonesia untuk melukis berbagai lanskap Indonesia. Dalam rangkaian kunjungannya, Lehmpfuhl kemudian melihat sejumlah lanskap dan bangunan yang menjadi bagian penting dari identitas Indonesia.
Christopher Lehmpfuhl sendiri lahir di Berlin pada 1972. Ketertarikannya terhadap seni lukis sudah berkembang sejak usia muda. Pada 1985–1992, ia mengikuti pelajaran melukis dengan seniman Wolfgang Prehm sebelum melanjutkan pendidikan seni lukis di Hochschule der Künste, Berlin, pada 1992–1998. Di sana ia belajar di kelas profesor Klaus Fußmann dan kemudian menjadi Meisterschüler, atau murid yang mendapat pengakuan khusus dari mentornya. Pada 1998, ia juga menerima GASAG Art Prize. Sejak masa pendidikannya, Lehmpfuhl semakin dekat dengan praktik melukis langsung di luar ruang. Perjalanan artistiknya kemudian membawanya ke berbagai tempat, mulai dari Lapland dan Australia hingga Italia, China, India, Korea Selatan, Islandia, dan Amerika Serikat.
Lanskap menjadi bagian penting dari praktiknya, bukan hanya sebagai objek yang dilihat, tetapi sebagai lingkungan yang harus dialami secara langsung. Museum Schloss Gottorf bahkan mencatat bahwa ia secara khusus mengembangkan praktik melukis luar ruang dengan perhatian pada lanskap alam dan perkotaan. Karena itu, ketika Lehmpfuhl datang ke Indonesia, pendekatan tersebut tetap dibawanya. Ia tidak ingin hanya mendapatkan gambaran mengenai Jakarta atau Borobudur dari foto. Ia ingin berada di tempatnya, melihat perubahan cahaya, cuaca, bentuk bangunan, serta suasana di sekeliling objek.
Salah satu karya yang paling banyak mendapat perhatian dari kunjungannya ke Indonesia adalah lukisan Monas. Pada Juli 2025, SBY membawa Lehmpfuhl bertemu Gubernur Jakarta saat itu, Pramono Anung, untuk meminta izin melukis kawasan Monas dari gedung Balai Kota Jakarta. Lehmpfuhl kemudian mengamati lanskap kota dari lantai 23 dan menjadikan Monas beserta gedung-gedung di sekitarnya sebagai objek lukisan. Bagi Lehmpfuhl, tantangannya bukan hanya menggambar bentuk Monas. Ia melihat Jakarta sebagai bingkai yang kompleks karena memiliki bentuk kota, warna, dan karakter cahaya yang berbeda.
Monas kemudian ditempatkan sebagai salah satu elemen dalam keseluruhan pemandangan metropolitan tersebut. Hasilnya tidak dibuat dengan detail arsitektural seperti gambar dokumentasi. Lehmpfuhl justru mempertahankan gaya ekspresifnya melalui warna dan tekstur cat yang tebal. Monas tetap dapat dikenali, tetapi permukaannya dipenuhi gerakan tangan dan tumpukan warna. Di sini terlihat salah satu kekuatan pendekatan Lehmpfuhl, ia tidak berusaha membuat lanskap terlihat terlalu sempurna. Ia menangkap apa yang ia lihat dan rasakan ketika berada di tempat tersebut.
Jika Jakarta mempertemukannya dengan lanskap kota yang padat, Borobudur memberikan pengalaman yang berbeda. Pada Agustus 2025, Lehmpfuhl melukis langsung di kawasan Candi Borobudur bersama sejumlah seniman Indonesia. Ia direncanakan membuat enam lukisan, salah satunya berukuran 1,5 x 1,5 meter. Lukisan pertama diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah jam. Lehmpfuhl mengaku terkesan dengan Borobudur setelah mempelajari sejarahnya dan mengikuti tur bersama pemandu. Ia memberi perhatian pada relief, stupa, serta nilai sejarah dan spiritual yang melekat pada candi tersebut. Namun, justru karakter arsitektur Borobudur menjadi tantangan tersendiri. Bentuk stupa dan susunan candi yang sangat khas harus tetap terbaca meskipun diterjemahkan ke dalam gaya lukisan yang ekspresif. Lehmpfuhl mengatakan tantangannya adalah mempertahankan bentuk Borobudur ketika ia mengolahnya melalui pendekatan yang lebih abstrak. Untuk melukisnya, ia kembali menggunakan teknik khasnya–jari dan tangan sebagai alat utama untuk mengaplikasikan cat.

Teknik tersebut menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali dari Lehmpfuhl. Ia menggunakan cat minyak dalam lapisan yang tebal dan mengolahnya langsung dengan tangan. Teknik ini menghasilkan permukaan yang kasar, padat, dan memiliki tekstur yang kuat. Dalam sebuah artist talk di Jakarta, Lehmpfuhl menjelaskan bahwa menggunakan jari membuatnya merasa lebih dekat dengan karya. Baginya, kontak langsung antara tangan, cat, dan kanvas menciptakan hubungan fisik yang berbeda dibandingkan ketika menggunakan kuas. Cara tersebut juga berkaitan dengan praktik plein air, yaitu melukis langsung di ruang terbuka. Bagi Lehmpfuhl, berada di lokasi memungkinkan dirinya merasakan perubahan cahaya, suhu, suara, angin, dan kondisi lingkungan secara langsung. Semua pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi warna dan tekstur di atas kanvas.
Dengan kata lain, lukisan Lehmpfuhl bukan hanya tentang apa yang terlihat. Ada pengalaman fisik dari proses melukis yang ikut masuk ke dalam karya. Meski Monas dan Borobudur menjadi karya yang paling mendapat perhatian dalam kunjungannya ke Indonesia, perjalanan Lehmpfuhl tidak berhenti pada dua lokasi tersebut. Ia juga melukis kawasan Cisarua dan Damar Langit serta lanskap pesisir Pacitan. Selama sekitar dua minggu, ia bekerja bersama sejumlah seniman Indonesia di berbagai lokasi tersebut. Perbedaan karakter setiap tempat menjadi bagian dari eksplorasinya. Jakarta hadir melalui kepadatan kota dan cahaya metropolitan, sementara Borobudur menawarkan pengalaman sejarah dan spiritual.

Di Cisarua, ia berhadapan dengan lanskap pegunungan, sedangkan Pacitan mempertemukannya dengan laut dan garis pantai. Menariknya, Lehmpfuhl tidak hanya bekerja sendiri. Ia juga berdialog dengan para seniman Indonesia yang melukis objek dan lokasi yang sama. Menurutnya, perbedaan hasil karya justru menunjukkan bahwa satu tempat dapat menghasilkan banyak cara pandang. Perjalanan Lehmpfuhl di dunia seni telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Setelah menjadi murid Klaus Fubmann, ia memperoleh sejumlah penghargaan dan mengikuti berbagai perjalanan melukis internasional.
Ia pernah menerima Franz-Joseph-Spiegler Prize, mendapat beasiswa dari Bayerische Akademie der Schönen Künste, menerima penghargaan dari Kulturstiftung der Sparkasse Karlsruhe, serta Wolfgang-Klähn Prize. Pada 2018, ia memperoleh Baumkunstpreis dari Schleswig-Holstein Landesmuseen, Schloss Gottorf. Karyanya juga masuk ke berbagai koleksi publik dan institusi, termasuk Deutscher Bundestag, Sammlung Würth, ZKM, Kunsthalle Emden, hingga sejumlah koleksi museum dan institusi di Jerman. Ia juga pernah tampil dalam art fair seperti Art Basel, Art Cologne, dan Art Karlsruhe. Lehmpfuhl juga memiliki pengalaman sebagai pengajar seni. Namun, berdasarkan biografi resmi dan sumber galeri yang tersedia, kegiatan mengajarnya tercatat terutama di sejumlah institusi di Jerman, termasuk Staatliche Zeichenakademie Hanau dan Akademie fur Malerei Berlin. Saya tidak menemukan sumber yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia menjalani karier sebagai pengajar di Surabaya, sehingga bagian tersebut sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta.

Kehadiran Christopher Lehmpfuhl di Indonesia akhirnya menjadi lebih dari cerita tentang seorang pelukis Jerman yang datang untuk mengabadikan beberapa ikon Nusantara. Melalui Monas, Borobudur, pegunungan, dan pesisir, ia memperlihatkan bagaimana satu lanskap dapat dibaca melalui pengalaman pribadi seorang seniman. Cat yang tebal, tangan yang bekerja langsung di atas kanvas, serta proses melukis di tengah lingkungan nyata membuat karya-karyanya terasa dekat dengan pengalaman melihat itu sendiri. Indonesia bagi Lehmpfuhl bukan hanya kumpulan objek untuk dilukis, tetapi ruang baru untuk menguji bagaimana cahaya, warna, bentuk, dan suasana dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lukisnya. Dan dari sanalah Monas maupun Borobudur mendapatkan tafsir baru—bukan sebagai gambar dokumentasi, melainkan sebagai pengalaman visual yang sudah melewati tangan dan cara pandang seorang seniman.
Foto-foto: Dok. Pribadi